Gereja Santa Maria de Fatima dan Kisah Tuan Tjioe

Gereja Santa Maria de Fatima, gereja toasebio
Gereja Santa Maria de Fatima, 8 Januari 2018. (Foto Silvia Galikano)

 

Lahirnya sistem republik di Tiongkok serta suburnya paham komunis di tanah rantau adalah dua hal besar yang mendorong keberadaan Gereja Santa Maria de Fatima.

Jalan Kemenangan III no 47, Glodok, Tamansari, Jakarta Barat.

Tjioe, pedagang dan Kapitan Tionghoa mendirikan rumah berhalaman luas di Glodok, Batavia pada awal abad ke-19. Terdiri dari satu bangunan utama beratap ekor walet, dua bangunan sayap, dan dua singa batu (baogushi) di halaman depan. Balok-balok didatangkan dari Tiongkok yang disambung dengan pasak kayu.

Papan-papan kayu berkarakter Mandarin bertuliskan harapan, seperti panjang umur, kesehatan, dan kedamaian dipasang di depan bangunan utama. Sedangkan tulisan di tembok menerangkan bahwa pemilik pertama datang dari desa Tjiang Tjioe/ Chiang-chiu/ Chang-chu di Provinsi Fukien, Tiongkok Selatan. Dia memiliki sejumlah gundik yang ditempatkan di bangunan sayap rumah ini.

Belum diketahui siapa Kapitan Tionghoa bermarga Tjioe tersebut. Tak ada opsir Tionghoa di Batavia yang bernama Tjioe/Tjoe/Zhou. Namun ada kapitan bernama (bukan bermarga) Tjioe, yakni Bhe Ing Tjioe (1803-1857) yang pada 1839 ditabalkan sebagai Kapitan Purworejo dan tiga tahun berikutnya menjadi Mayor Purworejo.

Bhe Ing Tjioe yang berasal dari Tjiang Tjioe, Fukien, Tiongkok, pindah ke Batavia pada 1855 (di Batavia sedang era Mayor Tan Eng Goan, 1829-1865) dan wafat dua tahun kemudian.

Lantas adakah hubungan antara rumah milik Tjioe dengan Bhe Ing Tjioe yang pindah ke Batavia? Meski ada kesamaan nama dan tempat lahir, saya belum menemukan referensi yang mendukung bahwa Bhe Ing Tjioe yang mendirikan rumah tersebut.

Tiongkok menjadi republik

Seiring waktu, rumah Tjioe berubah fungsi menjadi gereja, dikenal dengan nama Gereja Toasebio karena letaknya di Jalan Toasebio (sekarang Jalan Kemenangan). Gereja Toasebio menempati hanya bagian depan rumah Tjioe yang sudah dimiliki selama tiga generasi.

Beralih fungsinya rumah Tjioe menjadi gereja tak lepas dengan terbentuknya Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada 1 Oktober 1949 yang memaksa banyak orang mengungsi. Pemerintah Komunis saat itu mengusir semua misionaris.

Gereja Santa Maria de Fatima, gereja toasebio
Gereja Santa Maria de Fatima, Glodok, Jakarta Barat, 8 Januari 2018. (Foto: Silvia Galikano)

Ditambah lagi pengaruh komunis yang semakin meningkat di kalangan hoakiauw (perantau dari Tiongkok), terutama melalui sekolah, pers, dan organisasi berhaluan kiri. Itu sebab kegiatan misi gencar diadakan pada akhir 1940-an.

Empat imam Jesuit Austria dan beberapa suster FMM yang diusir dari RRT membuka sekolah Ricci berbahasa Mandarin dan gereja paroki bagi orang hoakiauw pada 1950. Mereka mendapat sumbangan sebidang tanah untuk dijadikan gereja.

Pada 1953, akhirnya tanah seluas satu hektare dibeli oleh Pater Wilhelmus Krause van Eeden. Biaya untuk pembebasan rumah penghuni liar di lahan ini berangsur-angsur dikeluarkan oleh pater-pater Jesuit.

Dengan dibelinya tanah tersebut, bangunan gereja dapat diperluas, sekolah dan asrama bagi orang-orang hoakiauw juga dapat dibangun. Seorang puteri keluarga Tjioe masuk Ordo Ursulin. Tabernakel sekarang adalah bekas tempat penghormatan nenek moyang keluarga ini.

Pada 1970, gereja direnovasi besar-besaran. Lantai dan langit-langit diganti. Dipasang pula patung Maria de Fatima yang berasal dari Urtijëi, Italia Utara; dan Hati Kudus Yesus. Selang beberapa waktu kemudian, dipasanglah ukiran kayu dari Italia menggambarkan Yesus disalib bersama dua orang penjahat.

Gereja Santa Maria de Fatima mampu menampung 600 orang umat. Bangunan kanan (dari arah gerbang) digunakan sebagai pastoran, dan kirinya sebagai ruang kelas, namun kemudian menjadi ruang organisasi.

Gereja Santa Maria de Fatima ditetapkan sebagai Cagar Budaya pada 1972 karena arsitekturnya mempertahankan gaya bangunan khas Fukien, Tiongkok Selatan.

Misa berbahasa Mandarin

Misa pertama diadakan pada 1954, menggunakan bahasa Indonesia. Jumlah jemaat sekitar 15-20 orang, tapi terus bertambah pada Minggu-minggu berikutnya.

Jumlah jemaat semakin bertambah ketika ada misa khusus menggunakan bahasa Mandarin (misa berbahasa Khek diadakan di kapel Susteran Dwiwarna di Sawahbesar).

Untuk melaksanakan misa tersebut, pihak gereja mendatangkan Pater Joannes Cheng Chao Ming SJ yang saat itu sedang bertugas di Spanyol. Cheng Chao Ming juga merangkap sebagai pembimbing anak-anak haokiauw yang bersekolah di Yin Hwa Kao Shang (sekarang SMA 2 Jakarta).

Gereja Santa Maria de Fatima, gereja toasebio
Gereja Santa Maria de Fatima, 8 Januari 2018. (Foto Silvia Galikano)

Namun kegiatan ini tidak berlangsung lama. Setelah kepindahan Pater Cheng ke Taiwan pada 1961, misa dalam bahasa Mandarin menjadi sepi. Asrama tidak lagi menerima siswa. Jumlah siswa menyusut hingga menjadi enam orang pada tahun 1962.

Tepat pada hari raya Paskah 22 April 1966, Pater Laitenbauer membuat perkumpulan Santa Maria de Fatima guna membantu paroki dalam melaksanakan tugas pewartaan dan segala sesuatu yang bersifat cinta kasih. Sejak berdirinya perkumpulan ini, suasana misa dalam bahasa Mandarin kembali semarak.

Pater Leitenbauer juga membuka sekolah Minggu bagi anak-anak dengan meminjam tempat di sekolah Ricci. Tapi, kegiatan ini pun hanya berlangsung sampai tahun 1978. Pemerintah melarang penggunaan bahasa Mandarin, kecuali untuk misa. Gereja juga kesulitan mencari pater yang dapat berbahasa Mandarin.

Pelarangan-pelarangan semacam itu membuat orang Tionghoa kehilangan identitas aslinya. Jemaat yang mengikuti misa dalam bahasa Mandarin semakin berkurang, juga orang Tiongoa yang dapat berbahasa Mandarin.

Setelah Reformasi, misa bahasa Mandarin sudah kembali normal dan jumlah jemaat semakin bertambah, lebih dari 150 orang per minggu.

Gereja Santa Maria de Fatima, gereja toasebio
Saya di Gereja Santa Maria de Fatima, 8 Januari 2018.

***

Sumber:

  • budaya-tionghoa.net
  • Adolf Heuken, Gereja-gereja Tua di Jakarta, 2003, Yayasan Cipta Loka Caraka

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.