Diantar Sunyi

Layout 1 (Page 2)

Oleh Silvia Galikano

Rabu, 14 Februari 2007, pukul 10.00. Ini hari Valentine. Udara Jakarta cerah setelah hari-hari sebelumnya hujan terus menerus mengguyur. Dua pekan sebelumnya malah Jakarta berendam banjir. Tujuh petugas kamar jenazah bersiap di ruang pendingin yang ada di lantai 2 Kamar Jenazah Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo Jakarta (RSCM). Dua petugas perempuan dan lima petugas laki-laki.

Kelima laki-laki itu menggantung baju dinas mereka yang berwarna biru langit di ruang penyimpanan kafan yang juga ada di lantai 2, dan hanya mengenakan singlet, bahkan ada yang memilih bertelanjang dada. Pipa celana panjang biru tua digulung hingga mencapai lutut.

Dari lima petugas laki-laki, tiga petugas mengenakan masker, dan dua lagi, Daswar dan Maman, terlihat nyaman tanpa penutup hidung. Hanya Maman mengenakan sarung tangan. Siti Sofah dan Siti Hasanah mengenakan masker, dan hanya Hasanah yang bersarung tangan.

Aroma di kamar jenazah pada saat memandikan jenazah benar-benar kuat menusuk hidung. Jauh lebih kuat dibanding hari-hari biasa. Bau daging yang membusuk bercampur bau darah menyebar tak hanya di segenap ruang lantai 2, tapi juga memenuhi udara hingga ke lantai 1 Ruang Administrasi Kamar Jenazah, bahkan tercium kuat sampai ke luar, area parkir dan halaman Bagian Parasitologi FKUI yang jaraknya 10 meter dari Kamar Jenazah.

Ditambah lagi, sudah sekitar seminggu kondisi satu lemari pendingin rusak. Pendinginnya mati. Akibatnya, jenazah yang dimasukkan ke dalam lemari pendingin justru lebih cepat membengkak dan busuk dibanding jika berada di luar lemari pendingin. Selendang yang saya siapkan sebagai penutup hidung sama sekali tidak mempan mencegah terhirupnya bau menyengat itu. Berkali-kali saya bahkan harus mengingatkan diri sendiri untuk tidak muntah.

Sebagai gambaran, lemari pendingin di RSCM terdiri dari dua jenis, yakni dua lemari dua pintu yang masing-masing memuat enam jenazah, dan tiga lemari empat pintu yang memuat empat jenazah. Total, lemari pendingin hanya bisa menampung 24 jenazah. Itu pun kondisinya memprihatinkan. Bolak-balik dan bergantian rusak. Bukan sekali itu saja lemari pendingin bikinan tahun 1970 itu rusak, tapi bisa terjadi beberapa kali dalam setahun. Dan kali itu, satu lemari pendingin dua pintulah yang rusak, yang letaknya paling dekat pintu ruang pendingin.

Hari itu, ada delapan jenazah tunawan yang harus dimandikan, dikafani, dan disalatkan. Tiga jenazah perempuan—termasuk bayi—dan lima jenazah laki-laki. Dari tiga jenazah perempuan, dua adalah tunawan dan satu, yakni bayi, diketahui identitasnya. Sofah dan Hasanah yang nantinya mengafani tiga jenazah perempuan tersebut.

Jenazah tunawan merupakan sebutan bagi jenazah tanpa identitas. Di catatan administrasi kamar jenazah biasanya ditulis dengan Mr X. Di DKI Jakarta, penyimpanan jenazah tunawan dipusatkan di Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jalan Diponegoro 71 Jakarta Pusat. Sedangkan penguburan dan penyediaan makam ditangani Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Kantor Pelayanan Pemakaman (KPP) Provinsi DKI Jakarta.

Umumnya, tunawan ditemukan tewas di suatu tempat, tidak ada identitas dan tidak dikenali warga sekitar. Karenanya, pihak kepolisian membawa jenazah ini ke Kamar Jenazah RSCM yang secara organisasi di bawah Departemen Forensik dan Medikolegal RSCM untuk dilakukan visum et repertum dan disimpan hingga ada keluarga yang menjemput. Sejauh belum ada keluarga yang mengakui, tunawan sepenuhnya tanggung jawab Pemprov DKI.

Keterbatasan tempat dan kondisi jenazah yang semakin membusuk membuat masa simpan jenazah dibatasi, yakni antara tiga hingga lima hari. Jika hingga waktu tersebut tidak ada keluarga yang menjemput, maka pihak RSCM akan “mengembalikan” jenazah tersebut ke KPP untuk kemudian dikubur massal di TPU yang ditentukan KPP.

“Selain jenazah akan semakin rusak jika terlalu lama disimpan, kulkas juga penuh, karena jenazah yang masuk banyak. Untuk tunawan saja ada 30 hingga 40 jenazah dalam sebulan,” ujar Edi Pratikna, petugas bagian Perlengkapan dan Arsip Kamar Jenazah RSCM.

Penguburan massal memang tak selalu berisi tunawan. Selalu terselip satu atau dua jenazah beridentitas. Ada dua kemungkinan sehingga jenazah beridentitas ikut dikubur massal bersama tunawan. Pertama, tak ada keluarga jenazah yang dapat dihubungi pihak rumah sakit, akibat, misalnya, alamat yang tertulis di KTP adalah fiktif. Karenanya, ketika pasien meninggal, jenazahnya terpaksa dikubur massal karena pihak RSCM tidak dapat memberitahukan kematian pasien tersebut ke keluarga. Alasan kedua, jenazah beridentitas yang dikubur massal adalah jenazah yang “direlakan” keluarganya akibat tak kuat menanggung biaya penguburan di DKI yang dirasa mahal.

Di dalam ruang pendingin, Daswar dan Maman bergantian mengeluarkan jenazah dari lemari pendingin. Cara mengeluarkannya adalah dengan menarik “baki” tempat meletakkan jenazah di dalam lemari pendingin, sementara itu, di mulut pintu lemari pendingin sudah menunggu brankar. Ke atas brankar inilah jenazah beralas baki diletakkan untuk kemudian dibawa ke luar ruang pendingin menuju tempat pemandian yang berada sekitar lima langkah dari pintu ruang pendingin.

Dibantu satu petugas lain, Daswar menurunkan baki berisi jenazah ke atas lantai. Jenazah yang bentuknya sudah tak lagi sempurna akibat tersimpan beberapa hari itu kemudian dimandikan.

Jangan membayangkan bahwa memandikan jenazah tunawan sebagaimana kita memandikan tetangga atau saudara yang meninggal, yakni dengan menggunakan gayung, lantas bagian per bagian tubuh jenazah disiram air perlahan-lahan. Dan di setiap siraman terselip doa.

Memandikan jenazah secara massal tidak memungkinkan cara demikian diterapkan. Pasalnya, jumlah yang harus dimandikan banyak dan dalam waktu terbatas. Karenanya, memandikan jenazah secara massal adalah dengan menyiram jenazah menggunakan selang. Dari kepala, selang terus turun hingga mengarah ke kaki. Setelah itu, menyiramkan disinfektan untuk mematikan kuman-kuman yang menempel, kemudian sekali lagi dibilas menggunakan air yang dialirkan melalui selang.

Kondisi yang sudah membusuk tidak memungkinkan jenazah untuk dimiringkan guna membersihkan bagian belakangnya. Jika tetap dilakukan, tak mustahil tangannya akan patah akibat terimpit badan saat dimiringkan. Atau, lebih parah, beberapa bagian tubuh akan lepas akibat sudah begitu lunak daging dan kulitnya.

“Ke sini dong, ikut mandiin. Ini mayat cewek kok,” seru Daswar melihat saya yang terpaku di mulut ruang pemandian.

Ada jenazah yang benar-benar tinggal tengkorak akibat terlalu lama disimpan (itu pun belum dihitung sudah berapa lama orang tersebut meninggal hingga ditemukan polisi). Kondisi ini yang paling menyedihkan. Badan dan kepalanya “menganga” setelah otopsi untuk mengetahui sebab kematian dengan cara membelah kulit dada dan kulit kepala guna memeriksa kondisi terakhir organ dalam dan otak jenazah.

Saat jenazah masih berdaging, jahitan pascaotopsi masih menyangkut di daging. Namun, semakin lama disimpan, daging semakin menyusut, dan benang operasi kehilangan tempat sangkutannya, maka mengangalah bagian-bagian yang pernah dibuka tersebut.

Baki dimiringkan untuk meniriskan air yang tertampung, kemudian dibawa ke luar ruang pemandian untuk dikafankan. Baki pembawa jenazah kemudian dibersihkan. Disiram air, disiram disinfektan, dibilas. Begitu pula seluruh lantai ruang berukuran 4 x 4 meter itu disiram dan disikat setiap kali selesai memandikan satu jenazah.

Sementara memandikan, dua petugas menyiapkan pembungkus jenazah yang terdiri dari tiga lapis yang masing-masingnya berukuran sama, 2 x 2 meter. Lapisan terluar adalah tikar dari anyaman daun pandan, lapisan kedua adalah kain kafan, dan lapisan terdalam adalah plastik. Ke atas tiga tumpuk pembungkus inilah jenazah diletakkan.

Kemudian, plastik yang berada di susunan paling atas dibungkuskan ke jasad dengan tujuan mencegah bau keluar. Setelah terbungkus rapat, dua ujung plastik diikat, yakni di atas kepala dan di bawah kaki. Cara yang sama dilakukan pula untuk kain kafan. Sedangkan tikar hanya digulungkan tidak penuh menutupi kafan, lantas diikat di bagian perut dan betis.

Para petugas bekerja tanpa banyak cakap. Semua dilakukan serbacepat. Bicara hanya seperlunya, seperti “Kakiknya diluruskan dulu” atau “Geser ke mari” saat membungkus jenazah dengan plastik.

Setiap selesai satu jenazah dikafani, Sofah menulis kode jenazah di ujung kafan. Kode yang disesuaikan dengan nomor register yang tercatat di data Kamar Jenazah. Misalnya Mr X/164. Mr X untuk menerangkan bahwa jenazah ini tunawan, sedangkan 164 adalah nomor registernya. Bagi jenazah beridentitas, nama lengkapnya ditulis di ujung kafan, seperti Johan/171.

Lengkap sudah delapan jenazah berbalut kafan berjajar dengan arah kepala ke utara dan kaki ke arah selatan. Tiba saat mereka disalatkan. Enam petugas turun ke lantai 1, tinggallah Maman yang tadi berbaju singlet, kini sedang membersihkan kaki, tangan, dan wajahnya dengan sabun di kamar mandi, dilanjutkan dengan berwudu.

Mengenakan kembali baju seragam birunya, memasang peci haji warna putih bermotif sulur-sulur warna emas, dan melangkah ke arah jajaran jenazah. Seorang diri Maman salat. Tak ada makmum bersaf-saf. Doanya seorang yang mengantarkan delapan jenazah ini menuju tempat abadi mereka.

Seluruh jenazah diperlakukan sebagaimana harusnya memperlakukan jenazah muslim, meski tak diketahui apa agama mereka masing-masing. “Karena kami tidak tahu identitas jenazah, termasuk agamanya, maka kami perlakukan tunawan sebagai muslim, dengan pertimbangan mayoritas warga DKI adalah muslim. Lagipula seluruh petugas Kamar Jenazah adalah muslim, jadi yang kami tahu selain cara Islam,” jelas Edi Pratikna.

Sementara Maman menyalatkan, di lantai 1, Edi menuliskan kode-kode jenazah—dan nama jenazah bagi yang beridentitas—di nisan papan sederhana. Kode dan nama sebagaimana yang dituliskan Sofah di atas kafan.

Seluruh tugas selesai sekitar pukul 11.30. Tinggal menunggu mobil jenazah dari KPP Provinsi DKI Jakarta menjemput untuk dikubur. Sebagian petugas duduk berangin-angin di bangku panjang teras di luar ruang tunggu, sebagian membuat teh manis di dapur yang pintunya hanya berjarak lima meter dari bangku panjang.

Masih berpeci haji, Maman pergi ke warung di sebelah area parkir, memesan teh dingin dalam kemasan botol. Dalam logat Sunda lelaki usia 30-an itu bercerita, “Kulkas mati begini bikin baunya ngga ketulungan. Mayat pada bengkak, belatungnya banyak banget. Kita semprot di mulut, belatungnya keluar lewat hidung dan kuping. Kalau kulkas ‘nyala mah mayatnya malah kering.”

Lima belas menit menjelang pukul 12.00. Satu mobil jenazah dari KPP DKI Jakarta datang menjemput jenazah tunawan untuk dibawa ke kuburan. Kali ini, tempat pemakaman umum (TPU) Kampungkandang di kawasan Pasarminggu, Jakarta Selatan yang jadi tujuan penguburan.

Saya masih menunggu tujuh atau, paling tidak, tiga mobil jenazah lagi yang datang, dengan pertimbangan ada delapan jenazah harus dibawa. Dua jenazah dalam satu mobil, anggap saya saat itu, adalah cara menghemat bahan bakar dibandingkan satu jenazah dalam satu mobil.

Mobil masuk ke car port khusus ambulans di lantai 1 dengan cara mundur. Dua petugas mobil jenazah turun membuka dua daun pintu belakang mobil. Delapan nisan kayu dimasukkan terlebih dulu.

Tak lama, satu jenazah diturunkan melalui ulir landai dari lantai 2 menggunakan brankar, lantas dimasukkan ke mobil dengan bagian kepala lebih dulu. Satu jenazah lain menyusul dimasukkan. Tiga mobil yang saya tunggu-tunggu tak kunjung tiba sementara petugas terus memasukkan dan menumpuk jenazah dalam satu mobil.

Kekhawatiran saya terwujud. Delapan jenazah dimuatkan tidak dalam empat mobil, atau bahkan delapan mobil, tapi hanya dalam satu mobil. Mereka dibagi menjadi dua tumpuk. Setiap tumpuk berisi empat jenazah.

Selesai urusan administrasi serah terima jenazah dengan pihak RSCM, mobil siap melaju menembus macet dan panasnya Jakarta di tengah-tengah jam makan siang dengan delapan jenazah di bagian belakang. Di kabin depan berada saya dan dua petugas KPP, Agus dan Arifin. Agus memegang kemudi, saya di tengah, dan Arifin di sebelah kiri saya.

Sekali lagi, perjuangan melawan bau sepanjang satu jam perjalanan. Perjuangan yang semakin sulit karena saya tidak bisa ke mana-mana untuk sejenak menyegarkan penciuman. Selendang yang dilipat hingga selebar telapak tangan terus saya tempelkan ke hidung. Setelah tangan kanan pegal, bergantian tangan kiri yang memegang. Agus dan Arifin tampak sama sekali tak terganggu.

Penciuman saya malah sedikit tertolong ketika kedua laki-laki ini merokok. Asap rokok yang biasanya membuat saya sulit bernapas, kali ini justru menjadi berkah akibat keampuhannya sebagai antibau. Sayangnya, rokok putih yang mereka isap hanya satu batang dan habis hanya dalam waktu 10 menit. Selebihnya, tinggallah selendang yang tak banyak membantu itu sebagai andalan.

Perbincangan di antara mereka juga tak banyak, sebatas kapan piket dan kapan libur. Arifin yang sudah 15 tahun bekerja di KPP bercerita bahwa tugasnya tidak hanya menjemput jenazah di wilayah DKI, tapi sampai ke Depok yang notabene sudah di luar DKI. Di tengah obrolan ringan, Arifin sempat melihat ke kaca spion lantas berkata dengan nada agak terkejut, “Gus, lu kagak buka jendelanya? Pengap loh. Baunya jadi ke depan.”

Benar kiranya. Seluruh jendela di kabin belakang dalam keadaan tertutup. Itu yang membuat bau begitu kuat tercium meski antara kabin depan dan belakang dibatasi kaca.

Kagak inget,” Agus menjawab ringan sambil terus mengemudi.

Beberapa kali Agus bertanya arah jalan ke Arifin ketika mencapai perempatan jalan.

“Saya biasa bawa mobil ke TPU Tanahkusir. Jalur ini saya kurang hafal,” ujar Agus, pemuda usia 20-an yang baru tiga tahun bekerja di KPP Provinsi DKI Jakarta.

Perjalanan dari Salemba, lewat Proklamasi, berbelok ke Jalan Tambak, Jalan Saharjo, menyambung ke Jalan Supomo, mobil jenazah menyeberangi Jalan MT Haryono, dan memasuki Jalan Pasarminggu Raya. Di Jalan Pasarminggu Raya ini selama beberapa menit kami berjajaran dengan rombongan reality show Kontak Jodoh Trans 7 yang sedang syuting. Sepasang muda-mudi dalam bajaj yang didekor meriah serba-pink. Sementara kamerawan berada lima meter di depannya, membonceng sepeda motor dengan cara duduk membelakangi pengemudi.

Mobil melaju terus. Berhenti kala lampu lalu lintas menyala merah, dan membunyikan sirine sesekali jika terhambat kendaraan di depan yang berjalan lambat. Tidak ada pandangan aneh dari pengguna jalan di sekitar kami. Mungkin mereka mengira kami keluarga
yang sedang kehilangan salah seorang anggota keluarga dan kini sedang menuju pemakaman.

Mobil memasuki TPU Kampungkandang sekitar pukul 13.00. Mendung tebal menggantung. Beda sekali dengan cuaca dalam perjalanan yang panasnya tak alang kepalang.

Tak jauh dari gerbang TPU, berkumpul sekitar sepuluh laki-laki penggali kubur. Mereka sedang berjongkok, mengobrol sambil mengisap rokok. Melihat kami datang, mereka serentak berdiri, sepertinya sudah hafal, jika yang masuk adalah mobil jenazah DKI artinya ada penguburan massal. Salah seorang penggali kemudian berseru dalam Bahasa Sunda ke arah kami, “Sabaraha (berapa)?”

Dalapan (delapan),” jawab Arifin.

Sekali sentak, rombongan itu meraih pacul masing-masing, mengambil serok dan cerek besar yang biasa digunakan sebagai penyiram tanaman, lantas berjalan setengah berlari ke blok khusus tunawan yang terletak di bagian paling belakang TPU, berbatasan dengan Kali Krukut.

Agus turun sebentar ke Kantor TPU menyelesaikan urusan administrasi. Naik kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan sekitar 300 meter ke blok khusus tunawan. Jalur selebar 2 meter itu beralas paving blok segiempat.

Mobil berjalan pelan menyusuri Blok Kristen. Belok kanan, bergerak beberapa meter hingga jalur paving blok habis. Setelah itu, mobil harus melintasi area tanah yang konturnya menurun. Di sanalah blok khusus tunawan. Tak ada jalur berpaving blok sebagai pemisah antarpetak. Hanya jalur tanah merah yang kala musim hujan mencengkeram sepatu pelintas.

Di hadapan kami, ada sekitar 50 liang berbanjar-banjar. Ada lima banjar yang masing-masingnya terdiri dari 10 liang. Liang yang digali dua hari sebelumnya itu seluruhnya terendam air.

Itu pula ternyata mengapa penggali kubur membawa cerek penyiram tanaman. Dengan menggunakan alat itu mereka mengeluarkan air dari liang dan membuangnya ke dataran di luar liang. Air kemudian mengalir cepat ke Kali Krukut yang berjarak 200 meter dari blok tunawan. Sebelum jenazah dimasukkan, liang yang akan digunakan didalamkan dulu 50 sentimeter, karena yang sudah digali baru sedalam 60 sentimeter.

Dibantu Agus dan Arifin, penggali kubur mengeluarkan jenazah satu per satu dari mobil, diangkut dengan keranda kayu ke arah liang yang sudah dibuang airnya dan sudah didalamkan. Karena pekerjaan menguras liang tidak serentak selesai maka ada jenazah yang harus menunggu di tepi liang.

Sekali lagi, jangan membayangkan suasana penguburan sebagaimana Anda menghadiri pemakaman kerabat. Yakni liang dipastikan sedalam 2 meter, tiga keluarga jenazah berdiri di dalam liang siap menjemput jenazah dengan cara memeluk jasadnya, dan secara hati-hati menempatkannya di tanah bertelekan beberapa gumpal tanah.

Menguburkan tunawan cukuplah mendalamkan liang yang tadinya 60 sentimeter menjadi 1 meter lebih sedikit. Itu pun hanya dilakukan pada beberapa liang. Ada juga yang hanya dibuang airnya tanpa didalamkan lagi. Jenazah yang terakhir dikubur malah tidak menunggu air ditimba habis. Air masih menggenangi ¾ tinggi liang, dan jenazah dicemplungkan saja, terapung-apung menunggu ditutup tanah.

“Kasihan mayatnya kelamaan ‘nunggu di luar,” seorang penggali memberi alasan.

Yang memiriskan hati, penulisan identitas di setiap kafan yang sebelumnya sudah dengan sangat hati-hati dilakukan Sofah ternyata tak menjadi perhatian serius penggali kubur. Seharusnya, pemasangan nisan berkode harus sama dengan kode yang tertulis di kafan. Tujuannya untuk memudahkan jika pada hari-hari mendatang ada keluarga yang mencari sanaknya yang hilang, dengan berbekal ciri-ciri fisik dari Bagian Forensik RSCM.

“Yang itu berapa kodenya?” tanya satu penggali kubur ketika melihat gundukan baru tanpa nisan.

“Lah, kelupaan tadi,” jawab si penggali yang kini sedang mendalamkan liang yang lain lagi.

Lantas, apa yang dilakukannya? Cukup berjalan ke arah tumpukan nisan tersisa yang diletakkan tak jauh dari mobil jenazah, mengambil satu nisan di tumpukan paling atas, kemudian ditancapkan di ujung gundukan tadi.

Tak ada doa dirapalkan. Tak ada taburan bunga di atas kubur. Tak ada kendi berisi air di nisan. Bahkan, tak ada nama tertulis di nisan. Nama yang saat lahir dengan bangga diberikan orangtua beriring harapan jadi manusia baik. Nama yang konon hadiah paling abadi yang pernah diberikan manusia kepada manusia lain. 

***

Dimuat di Jurnal Nasional, minggu IV Maret 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s