Ada Dhipie di Belakang Andrea Hirata

Pertemukan Buku dan Cinta

Nama Renjana Organizer belakangan ini semakin sering disebut-sebut seiring melesatnya bintang Andrea Hirata. Ternyata seorang perempuan muda dan gigih di belakangnya.

dhipie
Dhipie Kuron. (Foto: Silvia Galikano)

Oleh Silvia Galikano

Ada satu perempuan yang selalu sibuk hilir mudik di sela-sela sesaknya penggemar Andrea Hirata (penulis Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov – judul yang terakhir belum terbit) di setiap kesempatan penulis ini menemui penggemarnya. Sebentar bicara dengan pihak pengelola tempat, sebentar kemudian bicara dengan panitia yang sama sibuknya, dan lebih sering ia mengangkat kamera sakunya di atas kepala kerumunan untuk memotret suasana dari banyak sudut.

Kemadhipie Mare Kuron, 27 tahun, perempuan itu. Berdarah Minahasa (ayah) dan Jawa (ibunya asal Blitar Jawa Timur). Dengan nama Dhipie Kuron ia lebih dikenal. Pengelola Renjana Organizer, literary management tempat bernaung Andrea Hirata sebagai penulis.

Renjana memperkenalkan buku-buku bermutu, mengurus semua keperluan penulis yang dinaunginya, terkait perbukuan. Dari menerima naskah, mencarikan penerbit bagi penulis pemula, menandatangani kontrak dengan penerbit, mengupayakan royalti yang pantas bagi penulis, hingga menggelar diskusi-diskusi sebagai bentuk promosi.

Di Bandung, nama Dhipie sudah sangat dikenal sebagai penggiat perbukuan. Bersama tujuh temannya yang juga hobi baca, sejak 3 Agustus 2005, kerap menggelar diskusi buku bernuansa tea talk (ngobrol sambil ngeteh) di toko buku Baca-baca, sebuah toko buku independen di Sabuga Bandung. Kegiatan yang kemudian didukung kafe-kafe di Bandung dengan menyediakan lokasi diskusi secara gratis.

Nama ”Renjana Organizer” sendiri baru disandang pada 2006. Dipilih karena memiliki dua arti, yakni ”cinta” dan ”sesuatu yang kuat”. ”Dasar apa pun yang bisa kami lakukan adalah karena kami punya cinta, bukan uang. Kecintaan pada buku. Nama kan doa,” ujar Dhipie. Pertemuan singkat kami pada gelaran Khatulistiwa Literary Award, pekan lalu (18/1) di Jakarta berlanjut dengan pembicaraan telepon keesokan harinya.

Di Indonesia, banyak naskah bagus yang hanya menumpuk di penerbit, tanpa ditindaklanjuti. Banyak pula buku berkualitas yang tidak diurus secara benar, mulai penggodokan naskah, distribusi, hingga promosi, yang menyebabkan buku tersebut tidak dikenal publik. Di sinilah fungsi Renjana, menghindari penulis yang dinaunginya terkena penyakit kronis penerbitan. Renjana bahkan punya checker yang bertugas memantau berapa buku (di bawah manajemen Renjana) yang tersisa di toko-toko buku.

Literary management memang belum banyak dikenal di Indonesia. Di Amerika Serikat, setiap penulis harus punya agen. Agen inilah yang mencarikan penerbit, mendapatkan royalti yang tidak merugikan penulis.”

Dhipie adalah sarjana hukum dari Universitas Parahyangan Bandung dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Magister Kenotariatan Universitas Padjadjaran Bandung. Melihat latar belakang pendidikannya, tak heran jika sulung tiga bersaudara ini memilih untuk membela kepentingan penulis saat berhadapan dengan penerbit.

”Kami ingin penulis punya posisi tawar, jangan sampai penulis memohon-mohon ke penerbit agar naskahnya diterbitkan.” Ucapan Dhipie ini dibuktikan melalui Laskar Pelangi yang merupakan pilot project Renjana. Ketika buku itu pertama terbit, Andrea Hirata, yang saat itu belum bergabung dalam manajemen, beroleh royalti 7 persen. Angka ini meningkat ketika Renjana yang menangani kontrak untuk cetakan kedua dan seterusnya, yakni menjadi 10 persen, 12, persen, dan kemudian 15 persen yang bertahan hingga sekarang.

Selain memperjuangkan persentase royalti yang pantas, Renjana juga membuat alur acara promosi, menyiapkan materi secara garis besar yang akan disampaikan Andrea ketika diundang sebagai pembicara di suatu pertemuan, sampai menangani kontrak ketika Laskar Pelangi hendak difilmkan. Miles Film membeli hak siarnya sebesar Rp500 juta yang sejauh ini merupakan harga tertinggi di Indonesia. ”Bukan masalah berapa jumlah uangnya, ini masalah penghargaan pada penulis,” ujar Dhipie.

Selain Andrea, ada dua lagi penulis dan satu penyunting yang berada di bawah manajemen Renjana, yakni Nazla Luthfiah penulis Lelaki Pembawa Senja, Hermawan Aksan penulis Dyah Pitaloka, dan Salman Faridi penyunting di Penerbit Bentang. Selain itu, ada 35 naskah novel yang ditangani Renjana, sekarang berada di tangan penerbit-penerbit dan terus dikontrol perkembangannya.

Kerja keras Dhipie dan relawan lain benar-benar tidak berorientasi mencari untung. Renjana Organizer adalah lembaga nirlaba. Berapa persen dana yang jadi hak manajemen adalah sepenuhnya merupakan kerelaan penulis.

Uang yang diperoleh tersebut digunakan untuk operasional sehari-hari, kegiatan perbukuan di sekolah-sekolah menengah, mendatangkan penulis ke kampung-kampung untuk mengajak masyarakat melek baca, bahkan ada pos dana khusus untuk memfotokopi soal-soal ujian sekolah yang sebagian besar siswanya tidak mampu. Sebagai rencana jangka pendek, sebagian dana tersebut juga akan digunakan untuk penyediaan buku-buku bagi tunanetra.

”Sedangkan biaya hidup saya sehari-hari dari pendapatan saya sebagai praktisi hukum, demikian pula teman-teman lain punya pekerjaan masing-masing. Kegiatan saya di Renjana benar-benar kegiatan hobi yang membuat saya happy, soalnya sehari-hari ngurusin orang-orang cerai,” ujar dara kelahiran Cimahi 17 November 1980, dilanjutkan tawa.

Senin hingga Jumat, Dhipie memang sepenuhnya jadi orang kantoran. Baru di akhir pekan dari pagi hingga malam ia mengurus buku, penulis, dan diskusi, tidak hanya di Bandung, tapi juga ke berbagai kota di Indonesia.

Tetap tak ada juga niat mengubah Renjana dari nirlaba jadi berorientasi meraih untung. ”Kekuatan kami adalah kerelaan kami. Uang justru yang membuat kerusakan.”

Kini, Renjana memiliki delapan orang relawan, tiga di antaranya adalah mahasiswa yang mukim di Bandung. Di luar delapan tim inti ini, masih ada sejumlah relawan tentatif yang direkrut jika Renjana menggelar acara lumayan besar, dan semua relawan tentatif adalah mahasiswa. Karena para mahasiswa i
ni belum punya penghasilan, Renjana mengganti biaya transport mereka, ”Paling tidak, para mahasiswa ini tidak dirugikan secara materi, walau secara imateri mereka beroleh banyak sekali dengan bergabung dalam Renjana.”

Kesuksesan Renjana menjadi literary management menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal yang sama, namun dengan orientasi meraih untung. Alih-alih merasa tersaingi, Dhipie malah menganjurkan lebih banyak lagi organizer yang menduplikasi Renjana.”Perbaiki apa yang jadi kekurangan Renjana, ambil yang bagusnya, karena kegiatan ini bisa menghasilkan uang banyak, apalagi kalau bukunya bagus.”

***
Dimuat di Jurnal Nasional, Minggu 27 Januari 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s