Panggil Gue Bang Herman

100_0406
Herman Lantang (kanan, kaos putih). (Foto: Silvia Galikano)

Salah seorang putranya memberi pernyataan tentang legenda hidup ini, “Papa adalah papa, orang yang berprinsip, tegas, tapi sering naik darah.”

Oleh Silvia Galikano

Pendaki gunung usia muda yang pertama kali berkesempatan bertemu Herman Onesimus Lantang, 67tahun, tak ubahnya berkesempatan melihat ”dewa”. Menatap dengan mata berbinar setengah tak percaya, mendekat perlahan, ragu-ragu bertanya dengan suara pelan, ”Pak Herman, ya?”

Tapi begitu yang punya nama menjawab dengan suara mantap namun akrab, ”Ah, iya, gue Herman,” sambil mengulurkan tangan, maka hilang semua rasa sungkan. Laki-laki yang mungkin seusia ayahnya ini ternyata bukan manusia setengah dewa. Dia bahkan tidak menempatkan diri sebagai senior yang sedang berhadapan dengan yunior, melainkan kawan lama yang bersua kembali.

”Jangan panggil ’pak’, tapi panggil gue ’Bang Herman’, biar tidak ada gap. Jangan lihat uban, ompong, dan pincangnya.”

Pertemuan para pendaki usia muda dengan Herman Lantang berlangsung pada peluncuran buku Mountain Climbing for Everybody: Panduan Mendaki Gunung ditulis Harley Bayu Sastha yang juga pendaki gunung, Jumat malam, 22 Februari 2008 di Jakarta.

Di tengah gerimis rapat yang membasahi Jakarta, Herman datang berkaus oblong putih, celana kapri abu-abu, dan jaket merah, setengah jam sebelum acara. Sambil menunggu dimulainya diskusi, dia minum teh dan makan makanan kecil sambil berbincang dengan peserta diskusi yang umumnya berusia 20-an dan 30-an tahun.

Mereka adalah generasi yang lebih mengenal Herman sebagai kawan Soe Hok Gie, mahasiswa di paruh akhir tahun1960-an, demonstran yang banyak menghabiskan waktu dengan berkegiatan naik gunung hingga meregang nyawa di gunung pada tahun 1969, dan di tahun 2005, kehidupannya difilmkan dengan tajuk Gie.

Herman Lantang adalah salah seorang pendiri Mapala UI, yang merupakan akronim dari mahasiswa pencinta alam Universitas Indonesia. Mapala UI yang bagian dari kegiatan senat ini diresmikan pada 12 Desember 1964.

Menjadi kumpulan pertama yang menggunakan istilah pencinta alam tak pelak merupakan beban berat bagi Mapala hingga kini. Pasalnya, sudah bukan rahasia lagi jika salah satu ”kegiatan” orang yang pergi ke gunung adalah mengukir nama di pohon dan mencoret batu kali dengan cat semprot. Belum lagi urusan sampah yang menjadikan Gunung Gede sekarang sebagai tempat sampah terbesar di gunung.

”Memang, menyandang nama ’pencinta alam’ tidak mudah. Kami punya beban moral yang berat. Karena itu juga di luar negeri tidak dikenal kelompok nature lovers, yang ada hanya mountain climbers.”

Diceritakannya, saat pertama naik gunung, pada tahun 1950-an, Herman juga membuang sampah di gunung, tidak dibawa lagi turun. Dan ketika pergi kemping lagi beberapa bulan kemudian di tempat yang sama, dia menemukan lagi sampah yang dulu dia buang.

Itu di tahun 1950-an ketika belum banyak bungkus makanan dari plastik. Plastik sebagai bungkus makanan mulai banyak digunakan pada 1960-an. Dan mulai saat itulah sampah semakin banyak dijumpai di gunung-gunung, hingga saat ini.

Operasi semut—istilah yang digunakan para pendaki gunung untuk menyebut kegiatan memungut sampah—terus dilakukan dari tahun ke tahun, tetap tak mengurangi banyaknya sampah di gunung, karena setiap pendakian selalu meninggalkan sampah. Itu sebabnya Herman menyarankan agar setiap kelompok pendaki gunung mengagendakan metode tidak meninggalkan sampah di gunung (leave no trash).

”Di Bandung, pernah ada seminar yang tujuannya mencari cara terbaik agar tidak ada lagi sampah di gunung. Seminar itu berlangsung sampai berhari-hari, tapi apa hasilnya? Sampah tetap banyak di gunung. Ngga usahlah seminar. Cukup tanamkan budaya kalau makan permen, kantongi bungkusnya. Ini saya tanamkan kekeluarga saya.”

Menularkan kecintaan pada gunung dilakukan Herman sejak awal kepada istrinya, Joyce Moningka, 55 tahun, dan dua anak mereka, Erol Lantang (24) dan Cernan Lantang (21). Langkah pertama adalah pada sang istri yang bukan ”anak gunung”, karena paling banter piknik ke kawasan pegunungan. Awalnya, Herman mengenalkan Mandalawangi Pangrango, berangkat dari Cibodas.

”Saya kawin telat. Usia saya waktu itu 41 tahun sedangkan istri saya 29 tahun. Beda usia kami jauh sekali, tapi kami sangat mesra sampai sekarang karena ya itu tadi, sering jalan-jalan ke gunung.”

Sewaktu sang istri hamil 3 bulan, Herman kembali mengajak Joyce ke Gunung Gede. Cernan di usia 9 bulan belajar jalan di Gunung Papandayan, di kelandaian kerikil kapur dan belerang. Mendaki Pangrango setiap dua tahun sekali dijadikan tradisi di keluarga mereka.

Memperingati meninggalnya Soe Hok Gie, pada tahun 1989, Herman membawa istri dan si sulung yangberusia 5 tahun ke Semeru, tempat Gie meninggal karena mengirup racun yang keluar dari perut gunung Semeru. Bahkan saat kecelakaan membuat tulang pinggangnya patah dan tulang lutut bergeser sehingga harus disangga batang logam di pinggang dan ia berjalan pincang, Herman tetap naik gunung.

Pada Oktober 2007 dia mengalami kecelakaan, tersandung hingga jatuh saat di Balikpapan terkait pekerjaannya sebagai konsultan lepas di bidang minyak. Namun, tidak menunggu lama untuk istirahat, laki-laki asal Tomohon ini naik gunung lagi. Dalam kondisi kaki pincang, ia daki Gunung Mahawu di Sulawesi Utara. ”Dua minggu lagi saya ke Pangrango. Kuncinya adalah persiapan,” nada Herman mantap.

Persiapan inilah yang menurut Herman seringkali diremehkan para pendaki berusia muda. Ketika ke Gunung Gede yang dianggap memiliki tingkat kesulitan rendah, Herman tetap berpakaian lengkap, yakni baju lengan panjang, celana panjang, bersepatu, dan membawa trekking pole (sepasang tongkat untuk mendaki), sementara itu, tak sedikit ia temui pemuda bercelana pendek dan bersandal gunung saja saat mendaki atau saat turun gunung.

”Saya dan istri bisa terus menikmati gunung sampai sekarang kami sama-sama tua ini karena mendaki dilakukan dengan benar. Naik gunung bukan olahraga yang berbahaya kok.”

Bertanya apa enaknya naik gunung tentu akan mendapat jawaban berbeda antara pendaki yang berusia muda dan pendaki yang sudah makan asam garam macam Herman. Di usianya kini tujuan Herman ke gunung hanyalah untuk merasakan udara bersih. Gunung juga jadi ”tempat berobat” untuk penyakit-penyakit ringan. ”Kalau pilek atau batuk ringan saja, pergilah ke gunung. Begitu turun gunung, pasti sembuh. Di gunung udaranya bersih, bisa menghilangkan penyakit.”

Belakangan ini, perhatian Herman banyak tertumpah ke buku yang sedang digarapnya yang membahas 85 gunung di Pulau Jawa, termasuk gunung-gunung kecil macam Gunung Sanggabuana di Karawang Jawa Barat. Kegiatan mengumpulkan materi ini agak tertahan setelah kecelakaan. ”Sekarang, saya sedang butuh petualang untuk meng-up-date apa yang sudah saya tulis sekaligus menyelesaikannya.” Petualang muda, ada yang mau?

***
Dimuat di Tabloid Koktail edisi 24, 6 – 12 Maret 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s