Denyut Baru Belitong

Belitong dan masyarakatnya mulai berjalan lagi dengan irama hidup yang baru, berbayang kegagapan yang belum lama hilang.

Tulisan ini oleh-oleh dari perjalanan akhir pekan lalu ke Belitong. Dengan pembahasan sekali sapu saja, laporan pandangan mata tanpa bikin berkerut kening, tentang Belitong saat ini ketika timah sudah hilang pamor.

Belitong adalah pulau di sebelah timur Sumatera Selatan yang bersama Pulau Bangka dan sejumlah pulau kecil di sekitarnya sejak tahun tahun 2002 menjadi provinsi sendiri, Bangka Belitong, lepas dari Sumatera Selatan. Belitong sejak tahun 2003 dibagi menjadi dua kabupaten, Belitong Timur yang menghadap Selat Karimata dan Belitong Barat menghadap Selat Gaspar.

Sebelumnya, jika menyebut Belitong, tak beda dengan orang menyebut Sangihe atau Buton, semata nama pulau di Nusantara. Atau berdasar hafalan sewaktu SD dulu, jika Buton penghasil aspal, maka Belitong penghasil timah. Tapi begitu novel Laskar Pelangi terbit tahun 2005, langsung menyeret perhatian dan keingintahuan publik akan pulau ini. Penulisnya, Andrea Hirata, memaparkan permasalahan sosial kampungnya yang terpilin bersama karakter tokoh-tokohnya.

Bagaimana kehidupan masyarakat sekarang setelah Perusahaan Negara Tambang Timah (PN Timah) tak lagi beroperasi di Belitong jadi hal menarik. Sejak dimulai penggalian timah oleh pemerintah Hindia Belanda, tahun 1852, hingga ditutupnya operasi penggalian oleh PN Timah di Belitong, tahun 1991, profesi sebagian besar penduduk tak lepas dari aktivitas penggalian timah.

Rumah-rumah yang dulu adalah rumah dinas PN Timah masih berdiri. Bedanya dulu adalah rumah dinas, sekarang jadi milik pribadi. “Sewaktu PN Timah ditutup, karyawan yang memilih tetap tinggal di rumah dinas, pesangonnya dipotong seharga rumah, jadi rumah itu bisa jadi hak milik,” tuturAgus Pahlevi, pemandu kami.

Menjadi karyawan PN Timah pun jadi profesi turun temurun jika tidak memilih kuliah dan bekerja di luar Belitong. Seperti seorang bapak usia 60-an yang saya temui di Belitong Timur menempati rumah yang dulu rumah dinas PN Timah. Dia pensiunan PN Timah. Rumah yang dia tempati sekarang ini dulu ditempati ayahnya. Sebelumnya lagi, kakeknya yang karyawan Gemeeenschappelijke Mijnbouw Maatschappij Biliton (GMB) menghuni rumah ini sejak 1927. GMB adalah perusahaan swasta Belanda yang setelah dinasionalisasi pada tahun 1950-an menjadi PN Timah.

Selain timah, bumi Belitong juga kaya akan kaolin, mineral berwarna putih yang jadi bahan utama pembuatan keramik. PT KIA (Keramika Indonesia Asosiasi) pernah mendirikan pabriknya di Tanjongpandang Belitong Barat namun kini sudah tutup.

Tutupnya dua perusahaan besar penggali timah dan kaolin bukan berarti berhentinya aktivitas penambangan. Rakyat tetap menggali timah secara tradisional menggunakan cangkul dan sekop, lantas meninggalkannya begitu saja setelah menghabiskan apa yang dicari, menyisakan ceruk-ceruk yang mirip bopeng bekas cacar kalau dilihat dari udara.

Ceruk-ceruk dalam yang digenangi air sepanjang kiri dan jalan yang melintang dari Manggar di Belitong Timur hingga Tanjongpandan di Belitong Barat seringkali membuat miris, namun adakalanya ceruk yang disebut kolong oleh masyarakat setempat itu menjadi penyejuk pandang. Di tengah gundukan-gundukan putih menggenang air tenang berwarna biru atau hijau, mengundang sekali, seperti halnya menemukan kolam sumber air panas berbelerang.

Sejauh ini, kolam-kolam ukuran kecil (luas masing-masing sekitar 36 meter persegi) itu belum bisa difungsikan karena tingkat pH-nya tidak normal dan butuh pengendapan untuk menetralisir. Ujicoba terus dilakukan untuk mencari jenis ikan apa yang bisa berkembang biak di sini agar kolong bisa digunakan sebagai tambak ikan.

Kolong yang lumayan luas (seukuran lapangan bola) di Kampung Merak Belitong Timur sekarang difungsikan sebagai pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dengan bahan bakar tempurung kelapa sawit. Kolong di kawasan Damar Belitong Timur dijadikan sumber air PAM yang dialirkan ke masyarakat sekitar.

Seiring waktu, kolong-kolong yang tadinya dalam menjadi dangkal tergerus erosi. Penghijauan lahan yang sudah dirusak (reklamasi) akibat penambangan hanya dapat dilakukan dengan menanam tanaman berakar serabut yang panjang akarnya hanya 60 sentimeter. Tanaman berakar tunjang tak dapat tumbuh, karena pohon akan mati begitu akarnya menyentuh kaolin akibat tingkat basanya yang tinggi.

Hutan homogen di banyak tempat di Belitong adalah contoh berhasilnya reklamasi. Baru akasia yang berhasil tumbuh di atas tanah bekas tambang. “Tanah bekas tambang beda dengan tanah biasa. Cirinya adalah lahan pasir, atau rawa-rawa, atau
tanah liat. Akasia ini pohon yang bandel, bahkan bisa tumbuh di pasir,” kata Agus.

Ditutupnya PN Timah Belitong juga menandai bubarnya ritme keteraturan hidup masyarakat selama lebih dari 100 tahun. Manggar di Belitong Timur yang berjuluk Kota Seribu Warung Kopi terpaksa menerima kehadiran tempat minum bir yang disebut masyarakat sebagai kafe. Musik dangdut remix tiap malam terdengar hingga ke jalan. Pramutamu yang semuanya perempuan umumnya berasal dari Pulau Jawa, terutama Bogor.

Walau kafe mulai datang dengan spanduk bir di mukanya, warung kopi tetap masih primadona. Ada warung kopi yang khusus buka di malam hari seusai magrib hingga tengah malam, ada yang buka sejak pagi pukul 8 hingga 24, ada pula yang khusus pagi hari pukul 8 hingga 10.

Begitu malam menjelang, warung kopi sepanjang Jalan Lipatkajang Manggar meriah dengan obrolan. Kopi hitam atau kopi susu diseruput tanpa berseling cemilan. Mungkin orang datang ke warung kopi memang dengan niat untuk ngobrol. Pemilik warung menyediakan beberapa set catur dan satu televisi bagi yang ingin menonton televisi atau bermain catur.

Dari puluhan warung kopi di Jalan Lipatkajang, warung kopi Pak Haji yang paling ramai tamu, buka dari pukul 8 hingga tengah malam. Jika akhir pekan malah kurang tempat. Pramutamu di sini juga umumnya pendatang dari Bogor. Ada 10 orang dengan rentang usia 18 tahun hingga 23 tahun.

Bu Suratih, istri Pak Haji, memberlakukan aturan keras agar karyawannya tidak bergenit-genit ke tamu, selalu berpakaian sopan, dan berani menegur jika ada tamu yang jahil. Selama enam tahun membuka usaha warung kopi di Manggar, aturan ini tak pernah dilonggarkan oleh pasangan asal Sumenep Madura itu. “Untung pinak-pinak ini kerja di warung kopi, kalau tidak, mereka akan kerja di kafe. Kalau orang tua mereka bertanya ke saya, saya mau jawab apa?” Silvia Galikano

Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 13 Juli 2008

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.