Taman Situ Lembang

Jakarta masih punya public area, tempat siapa saja bisa datang gratis. Letaknya di kawasan Menteng yang (dulunya) asri.

Di tahun 1950-an, tempat ini menginspirasi Saiful Bahri untuk membuat lagu Kisah Malam di Jalan Lembang, yang bercerita tentang percintaan muda-mudi. Si bujang mengayuh sepeda kumbang ke tempat janji bertemu di Jalan Lembang. Tunggu punya tunggu, ternyata setiap becak yang datang bukan mengantarkan sang dara yang dinanti-nanti.

Pun di akhir beberapa cerpen Nh Dini yang ada di kumpulan cerpen Tuileries (terbit 1982), Dini menulis Empang Lembang sebagai tempat dia menulis bagian paling akhir cerpennya.

Tempat-tempat yang disebut itu tak lain adalah yang sekarang bernama resmi Taman Situ Lembang (situ berarti danau) di Menteng, Jakarta Pusat. Masyarakat umumnya menyebut Situ Lembang saja, dan ada yang menyebutnya Danau Lembang. Tak ada hubungan dengan Situ Lembang di Bandung, pemilihan nama Lembang yang ini mengacu pada nama jalan di sekelilingnya, Jalan Lembang.

Jalan Lembang adalah sodetan dari Jalan Imam Bonjol dari arah Bundaran HI ke Megaria, tak jauh dari Taman Suropati. Jalan kecil saja jika dibandingkan Jalan Imam Bonjol, bahkan kerap lolos dari perhatian. Selain dari Jalan Imam Bonjol, Jalan Lembang bisa dicapai dari Jalan Suropati, belok kanan ke Jalan Syamsurizal, baru belok kiri ke Jalan Lembang.

Situ Lembang berbentuk daun. Demikian pula jalan yang mengitarinya, berbentuk daun dengan jalan masuk dan jalan keluar berada di dua ujung kerucut daun tersebut. Jalan masuk, jalan keluar, serta jalan di sekeliling danau itulah yang bernama Jalan Lembang. Yang dimaksud jalan keluar di sini adalah Jalan Lembang yang mengarah ke Jalan Muhammad Yamin.

Di tepi danau, pohon beringin yang lebat mendominasi. Julur-juluran akar beringin tak ditemui, mungkin selalu dipangkas untuk menghindari kesan seram. Tumbuh pula angsana dan pohon asam, tapi tak banyak jumlahnya. Rumput terpelihara rapi dan lebat, hampir tak ada sampah, dan tong sampah mudah dijumpai.

Persis di tengah-tengah danau, air mancur menyemarakkan pemandangan. Air yang jatuh memercik ke daun teratai yang terayun-ayun pasrah mengapung, menemani bunganya yang masih kuncup.

Berselang lebih dari 50 tahun dari waktu tenarnya Semalam di Jalan Lembang dan 20 tahun dari terbitnya cerpen Nh Dini, namun saya masih dapat membayangkan suasana kala itu dengan merasakan suasana Taman Situ Lembang sekarang. Bagaimana di bawah keteduhan pohon-pohon beringin berbagai kisah mengalir, menginspirasi seniman untuk mencipta.

Walau Taman Situ Lembang berada di tengah kota tapi suasana yang disuguhkan membuat kita seperti tidak sedang berada di Jakarta. Di sinilah bisa ditemui kembali pemandangan langka di Jakarta. Sebuah keluarga duduk di hamparan rumput, tanpa alas, akrab bercengkerama, sementara si bungsu yang kanak-kanak lasak berlarian kian kemari. Sesekali teriakan ibunya terdengar, mengingatkan untuk hati-hati agar tidak tercebur ke danau. Era piknik yang sudah lama terlupa.

Duduk di rumput atau di bangku beton yang dirancang sepasang-sepasang bisa berjam-jam waktu berlalu tanpa terasa. Apalagi, dengan penjual makanan yang macam-macam ada, semisal sate, bakso, ayam panggang, bubur ayam, rujak, es doger, hingga gulali, obrolan bisa berlangsung terus, dan tersadar ketika malam tiba. Rupanya sudah melewatkan tiga kumandang azan sejak datang tadi sebelum waktu makan siang.

Tak heran juga kalau danau ini tempat favorit anak sekolah untuk berkumpul sejak zaman dulu. Sepulang sekolah, anak-anak SMA datang dalam kelompok-kelompok kecil, empat hingga lima orang, dan langsung mencari kenaungan pohon, melanjutkan candaan sambil menyeruput es dawet.

Datang sendirian pun sama asyiknya. Berbekal buku bacaan, bolehlah untuk egois sedikit dengan menjadikan bangku beton yang sepasang itu sebagai milik sendiri. Tinggal mengganti arah duduk, yakni kedua kaki dinaikkan ke atas bangku satunya di samping, buku terbuka di pangkuan, hmmm ini yang namanya PW, posisi wueenak. Maka puluhan halaman sebentar saja terlahap, tanpa sadar matahari sudah dari tadi bergeser, lokasi duduk tak lagi ternaung bayangan pohon, melainkan sudah bermandi sinar matahari pukul 3 sore. Pantas saja gerah.

Persis di bi
bir danau, pemancing duduk dengan jarak tak berjauhan menunggui mata pancingnya bergerak. Ikan mujair banyak hidup di sini. Semakin sore, semakin bertambah banyak pengunjung—dan pemancing—yang datang. Seorang bapak datang dengan seorang putranya, 15 menit mengayuh sepeda dari rumahnya di Jalan Pramuka Jakarta Pusat.


Urusan pancing memancing ikan inilah penyebab banyaknya kucing berkeliaran di sini. Si meong manis manja itu awalnya cuma duduk manis di samping pemancing, tapi kemudian mengendap-endap mencuri ikan hasil tangkapan yang diletakkan ceroboh, lantas cepat digondol ke tempat aman. Sekitar pukul 16, air istirahat memancur, menyisakan tenang Situ Lembang di sempurna rembang petang.

Situ Lembang adalah danau buatan yang dibangun satu paket dengan pembangunan rumah-rumah di Menteng. Ir. F.J. Kubatz, karyawan Gemeente Batavia (Pemkot zaman Belanda), pada tahun 1918, menyusun perluasan Batavia, khususnya Menteng (Rencana II). Rancangannya didasarkan pada Rencana I oleh Moojen, insinyur pertama yang merancang kawasan Nieuw Gondangdia (sebutan Menteng kala itu) di tahun 1911.

Hingga tahun 1970-an, masih ditemui rumah-rumah lama yang berdiri di sekeliling danau. Rumah asri dengan pagar rendah dan perbandingan halaman muka yang sama luas dengan tipe bangunan standar. Sekarang, kebanyakan rumah sudah merombak bangunannya jadi rumah “modern” yang memakan rakus halaman belakang dan halaman samping, melesakkan diri hingga menempel dengan bangunan tetangga, dan memagari rumah modernnya dengan pagar yang tinggi, tinggi sekali.

Rumah-rumah lama sudah jadi barang langka di sepanjang Jalan Lembang, berganti dengan bangunan baru berlantai dua, langgam arsitektur campur aduk, dan entah di mana bagusnya. Silvia Galikano

 

Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 24 Agustus 2008

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s