Jejak Pak Nas di Masjid Cut Meutia

100_2514-copy
Masjid Cut Meutia di Jalan Cut Meutia Jakarta Pusat. (Foto: Silvia Galikano)


Mereka yang baru pertama datang di Masjid Cut Meutia akan terheran-heran melihat orang shalat tidak mengarah ke mihrab, melainkan menyerong ke sudut masjid.

Oleh Silvia Galikano

Pelintas jalan yang baru sekali lewat tentu tak menyadari bahwa bangunan di kawasan teduh Jalan Cut Meutia Jakarta Pusat ini adalah masjid. Bentuk fisiknya beda dari masjid-masjid pada umumnya. Bangunan ini tidak berkubah setengah bulat dengan simbol di pucuknya dan tidak ada menara yang berdiri tinggi di samping bangunan.

100_2515-copy
Bagian tengah paling tinggi dibandingkan bangunan sayap di samping dan depannya. (Foto: Silvia Galikano)

Baru ketika terdengar suara azan dari pengeras suara dan diikuti langkah kaki umat bergegas datang, maka nyatalah dua hal terakhir itu sebagai ciri utama yang menunjukkan bahwa bangunan tua ini adalah masjid.

Apalagi jika mengamati bagian dalamnya. Tetap mempertahankan lekuk-lekuk asli yang menunjukkan kekhasan art deco, namun dinding mihrab berhias kental kaligrafi. Di hampir semua lengkung yang menghubungkan setiap pasang pilaster interiornya tertulis cuplikan ayat Quran. Jendela kayu yang menghadap ke luar juga dipotong lengkung setengah lingkaran mirip siluet kubah masjid.

Tempat untuk jamaah perempuan ada di sebelah kiri dari pintu masuk, bersebelahan dengan ruang itikaf yang berada di sudut.

Bagian tengah, yang merupakan bangunan utama, berbentuk seperti menara, karena paling tinggi dibandingkan bangunan sayap di samping dan depannya. Tingginya mungkin sama tinggi dengan ruko empat lantai. Bagian tengah ini tidak dibagi-bagi, hanya satu lantai. Sekeliling dindingnya berjendela lebar, membuat perputaran udara terjaga dan ruang dalam selalu terang akibat sinar matahari.

100_2562-copy
Lekuk-lekuk asli yang menunjukkan kekhasan art deco. (Foto: Silvia Galikano)

Lantai dua masjid adalah balkon di tiga sisi, sedangkan sisi belakang, yakni bagian atas mihrab, sedianya tangga turun di kiri kanan, berbentuk mahkota. Namun, sekarang tangga itu sudah tidak ada, dipotong, dengan pertimbangan supaya tidak nyempit-nyempitin ruang shalat. Tangga baru dibangun di luar, sebelah kiri dan kanan persis sebelum pintu masuk.

Yang unik – bentuk sopan dari “ganjil” – jika dibandingkan masjid pada umumnya, adalah arah hadap jamaah. Bukan ke arah mihrab yang berada tepat di tengah sisi seberang pintu masuk, melainkan ke sudut kanan bangunan. Pintu masuknya juga hanya satu, selebar tiga meter dengan dua daun pintu. Tentu saja beda dengan masjid-masjid lain yang memiliki banyak pintu, atau paling tidak, satu pintu untuk jamaah laki-laki dan satu pintu untuk jamaah perempuan.

Tak heran jika gedung ini tidak menunjukkan kekhasan fisik masjid, karena saat dibangun dulu bukan ditujukan sebagai rumah ibadah, melainkan kantor arsitek dan pengembang N.V. de Bouwploeg, yang membangun rumah-rumah di Menteng sepanjang 1910 hingga 1925.

N.V. de Bouwploeg didirikan dan dikepalai P.A.J. Moojen. Dalam buku Mesjid-mesjid Tua di Jakarta, Adolf Heuken SJ menulis bahwa gedung ini mungkin sekali dirancang oleh Moojen sendiri dan dibangun oleh N.V. de Bouwploeg.

Heuken juga menulis bahwa gedung utama yang berbentuk menara berkubah itu memiliki tiga lantai, dikelilingi empat sayap yang berlantai dua. Di ruang tengah itulah dulunya ruang-ruang kantor dengan sekat terbuat dari kayu jati, jendela lengkung berkaca patri, dan langit-langit tinggi.

Deskripsi Heuken berbeda dengan kondisi sekarang yang menaranya cuma punya satu lantai serta jendela lengkung berkaca patri sebagiannya sudah berganti dengan jendela nako.

Sesudah N.V. Bouwploeg ditinggal Moojen, lantas pailit pada 1918, gedung ini kemudian dipakai sebagai Proviciale Waterstaat (perusahaan air minum daerah di zaman Belanda) dan sebagai kantor pos pembantu. Pada masa Perang Dunia II, difungsikan sebagai kantor Angkatan Laut Jepang.

Kemudian berturut-turut dimanfaatkan sebagai Staattssporwegen (jawatan kereta api), Unit Perumahan Djakarta (UPD, 1957 – 1964), kantor sekretariat DPRD-GR dan MPRS (1964 – 1970) serta Kantor Urusan Agama.

100_2568
Interior bagian tengah. (Foto: Silvia Galikano)

“Pak Nas pribadi juga ikut mengusahakan agar bangunan ini resmi sebagai masjid, tidak hanya tempat numpang shalat Jumat. Sepanjang tahun 1970-an hingga 1985 adalah masa ‘perjuangan’ menjadikan bangunan ini sebagai masjid,” ujar Herry. Itu pula yang menyebabkan Masjid Cut Meutia seringkali diidentikkan dengan Pak Nas. Baru pada tahun 1987 keluar SK yang menyatakan bangunan ini resmi sebagai masjid.

Dipilih nama Masjid Cut Meutia karena lokasinya diapit dua jalan menyudut bernama Jalan Cut Meutia. Pengelolaan sehari-hari ditangani Yayasan Masjid Cut Meutia. Masjid ini berada di bawah Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta karena merupakan bangunan yang dilindungi, sehingga tidak boleh dipugar, hanya boleh direnovasi.

H. Herry Hermawan, Ketua Pelaksana Harian Yayasan Masjid Cut Meutia menjelaskan bahwa ketika UPD pindah tempat ke Kebonjahe Jakarta Pusat (sekarang Kantor Walikota Jakarta Pusat), dan MPRS menempati rumah barunya di Jalan Gatot Soebroto (sekarang Gedung MPR/DPR RI), MPRS mewakafkan bangunan ini untuk difungsikan sebagai masjid karena Menteng di tahun 1970-an belum punya masjid yang representatif untuk shalat Jumat.

Renovasi besar-besaran baru dilakukan pada tahun 1985 dengan mengganti ubin lama yang rusak menjadi lantai marmer, mengganti genting kodok menjadi genting beglazur, menambah kaca nako untuk jendela, dan menutup tangga mahkota di bagian dalam lantas membangun tangga di bagian luar bangunan. Pengecatan dilakukan dua kali setahun yang masing-masing butuh dana minimal Rp100 juta yang sepenuhnya dibiayai yayasan. 

***
Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 31 Agustus 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s