Review film Laskar Pelangi

Mimpiku Bersekolah!

Sepuluh anak kampung miskin Belitong dengan sepuluh keistimewaan, diasuh dua guru yang tak kalah istimewanya. Anak-anak SD yang bergulat dengan kemiskinan sejak jauh bisa mengingat menghasilkan pribadi dengan karakter kuat masing-masingnya. Demikian kuat sampai-sampai ketua kelas tak sanggup mengatur mereka, “Lihatlah, Ibunda, kelakuan anak-anak kuli tu kayak setan semuanya,” Kucai si ketua kelas mengeluh putus asa pada ibunda guru yang istimewa tadi, Bu Muslimah (Cut Mini).

Namun Pak Harfan (Ikranagara) sang kepala sekolah, berdua Bu Muslimah, guru muda yang baru pertama kali mengajar, terus menumbuhkan rasa percaya diri dilingkupi cinta pada sepuluh murid SD Muhammadiyah Gantong. Dua guru yang juga telanjur cinta pada sekolah miskin ini.

Sekolah bobrok yang malam dijadikan kandang kambing dan kalau hari hujan terpaksa tak ada kegiatan belajar mengajar karena atapnya bocor juga mengalami nasib sama mengenaskannya. Bangunan yang hanya terdiri dari dua kelas itu doyong sampai harus ditopang kayu. Berkali-kali anjuran datang agar bangunan sekolah ini dirobohkan saja, namun Pak Harfan berkeras bahwa SD Muhammadiyah harus tetap ada, karena inilah sekolah Islam tertua dan gratis di bumi Belitong.

Ucapan Pak Harfan yang terus jadi penyemangat mereka, “Warga Muhammadiyah harus memberi sebanyak-banyaknya, dan bukan menerima sebanyak-banyaknya.” Pesan yang diinterpretasi beragam oleh murid-muridnya – juga oleh Bu Mus – namun bermuara pada lahirnya rasa bangga bahwa bibit baik akan lahir dari sebuah sekolah doyong yang hampir roboh ini.

Pada kenyataannya tak ada lagi orangtua yang sudi menitipkan anak mereka untuk bersekolah di sini. Gaji Bu Mus sudah dua bulan belum dibayarkan. Namun tanpa keluh seucap pun, Bu Mus terus menumbuhkan semangat anak-anak, mengingatkan betapa mereka istimewa.

Bahkan gelar Laskar Pelangi pun disematkan Bu Mus kepada Ikal (Zulfanny), Mahar (Verrys Yamarno), Lintang (Ferdian), Kucai (Yogi Nugraha), Syahdan (M. Syukur Ramadan), A Kiong (Suhendri), Borek (Febriansyah), Harun (Jeffry Yanuar), Trapani (Suharyadi Syah Ramadhan), dan Sahara (Dewi Ratih Ayu Safitri) karena kecintaan mereka memandang pelangi yang membusur di cakrawala.

Pelangi yang mengulurkan jembatan bagi anak-anak miskin ini untuk menapaki cita-cita mereka di balik awan. Tak menunggu lama, terasahlah tiga mutiara milik rakyat Belitong: Ikal yang berani bermimpi, Lintang si jenius tak alang kepalang, dan Maharsang seniman dengan bakat tak terkira.

Koreografi tarian Mahar menjadikan SD Muhammadiyah pemenang karnaval 17 Agustus, prestasi yang belum pernah diraih sekolah ini sebelumnya. Lintang menambah cemerlang nama sekolah karena berperan besar dalam cerdas cermat yang sekali lagi menobatkan SD Muhammadiyah sebagai juara. Ikal yang terinspirasi gambar Menara Eiffel di kotak kaleng hadiah dari A Ling, pada masa dewasa mewujudkan mimpinya memperoleh beasiswa untuk kuliah di Universite de Paris, Sorbonne, Prancis.

Dua tahun masyarakat menanti-nanti akan seperti apakah versi film Laskar Pelangi yang diproduksi Miles Film dan Mizan Production. Novelnya sendiri laku bak kacang goreng di hari hujan, sejak pertama terbit pada September 2005. Tak heran jika timbul ekspektasi beragam, karena setiap pembaca punya “film” sendiri di kepala mereka.

“Hampir dua tahun saya jungkir balik menghadapi kontra Laskar Pelangi difilmkan. Riri dan Mira sudah meletakkan standar baru film Indonesia. Riri juga menampilkan tokoh-tokoh baru hasil risetnya yang tidak sempat saya tulis,” kata Andrea Hirata, penulis novel Laskar Pelangi, pada preview film Laskar Pelangi, Senin (22/9) lalu di Jakarta.

Yang disebut Andrea sebagai tokoh baru antara lain Pak Bakri (diperani Teuku Rifnu Wikana), guru di SD Muhammadiyah yang mengundurkan diri untuk pindah ke SD di Bangka, dan Pak Zulkarnaen (Slamet Raharjo), pejabat PN Timah yang banyak memberi bantuan kepada SD Muhammadiyah.

Sejak awal, Andrea memberi ruang seluas-luasnya bagi Riri Riza sebagai sutradara, Mira Lesmana sebagai produser, serta Salman Aristo sebagai penu
lis naskah untuk mengadaptasi novelnya secara bebas. Draf sinopsisnya sampai 11 kali diubah dalam waktu setahun. Baru pada draf ke-11 itulah mereka menyodorkannya pada Andrea, dan disetujui.

Film ini memang harus dilihat sebagai entitas sendiri, dan bukan memindahkan isi novel ke dalam film. Sehingga tak terdengar pertanyaan klasik tentang film yang diadaptasi dari novel, yakni mengapa banyak cerita dalam novel yang tidak diceritakan dalam film, atau sebaliknya, mengapa ada cerita baru di versi film.

Sebagaimana tuturan Riri Riza, “Laskar Pelangi adalah sebuah karya sastra yang di dalamnya terdapat pengelolaan imajinasi dan dramatisasi. Hampir tidak mungkin menceritakan semua itu dalam durasi sebuah film. Yang perlu dipertahankan adalah substansinya, yakni keajaiban mimpi, marginalisasi masyarakat, dan ironi dunia pendidikan kita.”

Jelas juga mengapa di film ini porsi Bu Muslimah demikian banyak tampil, atau mengapa Mahar ke mana-mana selalu berkalungkan radio transistor, atau seperti saya yang hampir mati penasaran menunggu Sahara, satu-satunya Hawa di kelas, marah hingga alisnya bertaut, lantas mengaum, dan mencakar sebagaimana deskripsi Andrea di novelnya. Silvia Galikano

Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 28 September 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s