Telpon-telponan di Angkot

Kalau menurut guru-guru kepribadian (Mien Uno dan teman-teman), pasti ada etika tentang menelpon atau menerima telpon (lewat henpon) saat kita di tempat umum. Tapi kali ini gue lagi ngga peduli apa kata orang-orang pinter itu. Ini yang gue rasakan aja.

Setiap hari, pergi pulang kantor, gue naik angkot. Dan kalau saat sedang di angkot—apalagi di bus—apalagi di metromini—apalagi di bajaj, henpon bunyi (bukan suara SMS masuk), biasanya ngga gue angkat, karena suara di seberang bakal saingan sama suara mesin angkot. Akibatnya ngga jelas apa yang mau disampaikan.

Kemalasan mengangkat telpon ini belakangan “berkembang”, tak hanya saat sedang di angkot, tapi juga di mana-mana, apalagi kalo mood lagi ngga bagus. Harapan gue, yang nelpon itu mbok ya SMS aja gitu lho. Sampaikan apa yang mau disampaikan lewat SMS. Bukankah sama saja? Karena ngga setiap saat gue siap ditelpon, apalagi kalo isinya ngajak ngobrol di saat gue lagi ngga pengen ngobrol.

Cara lain adalah cara yang gue tempuh kalo lagi mau nelpon seseorang. Gue kirim SMS dulu, “Kapan lu bisa ditelpon?” Jawabannya “Sekarang” atau “Satu jam lagi ya, masih miting” atau “Bentar, lagi pup”. Jelas juga bukan, kapan gue bisa nelpon?

Kembali ke laptop, tentang etika menerima telpon saat di tempat umum. Gue terganggu, sangat terganggu sama orang yang nelpon atau nerima telpon lamaaa banget saat kami sedang di angkot. Supaya suaranya ngga tertelan suara mesin angkot, dia mengeraskan suaranya saat bicara, akibatnya menyedot perhatian seluruh penumpang.

Angkot gue ini, Saudara-saudara, adalah jalur langsung. Gue naik di pool, ngetem sampe penuh, langsung masuk tol JORR Jatiasih, keluar tol di UKI. Kelar. Habis penumpang. Lebih kurang 15 menit karena gue berangkat saat jalan sudah ngga macet.

Lumayan sering penumpang yang terima telpon, ngobrol sejak angkot itu ngetem sampe penumpang habis. Apalagi kalo penumpang yang nelpon itu bapak-bapak. Walaaah…rasanya gue butuh sumpel kuping. Berisik.

Pernah juga, mahasiswi, duduk persis di samping gue. Sewaktu angkot masih ngetem, dia nerima telpon dari pacarnya. Nada bicara awalnya biasa aja, lama-lama kok ya merajuk, dan merajuk itu ngga brenti-brenti sepanjang perjalanan. Buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia-nya Cindy Adams lagi di tangan gue nih. Tebel dan berat. Rasanya pengen gue gaplokin ke mulut tuh anak. Hah. Ngganggu banget.

Kadang juga dua orang lagi ngobrol dengan volume tinggi, trus ada orang di sebelahnya terima telpon, eh dua orang ini lanjuuut aja sama obrolannya dan tetep bervolume tinggi. Mbok ya ditunda dulu ngobrolnya. Si penerima telpon ini sedang berjuang keras mendengar suara orang di seberang. Nauin kek.

So, Guntor, tempo hari lu nelpon mau ngomong apa? Kagak gue angkat karena lagi sakit. Tepar. Daripada lu denger suara gue mendadak lembut, malah jadi pangling?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s