Kanal Mengalirkan Zaman Emas

 

 

Bangsa bahari tak hanya dikenal kerajaan pesisir. Majapahit yang letaknya jauh dari pantai sudah punya armada kuat di abad ke-14.

Oleh Silvia Galikano

Hidup sepanjang abad ke-13 hingga ke-15 Masehi, Majapahit adalah kerajaan besar, makmur, dan dengan tata kota canggih. Inilah negara agraris semikomersial yang hasil buminya selain dikonsumsi sendiri juga diolah dan dijual ke negara-negara tetangga, seperti Tiongkok, Syanka (Siam), India, Rajapura (ibukota Kamboja), hingga Persia, mendagangkan beras, lada, anyam-anyaman, kemenyan, kapur barus, cengkih, kayu cendana, kapas, gading, intan, besi, dan timah.

Di masa intensifnya perdagangan dengan mancanegara itulah berlaku tiga mata uang di Majapahit, yakni uang kepeng asal Tiongkok yang berbahan perunggu, uang ma yang juga dari Tiongkok berbentuk mirip kancing baju dari perak atau emas, serta uang kepeng berukuran besar dengan gambar tokoh wayang. Uang ma dan kepeng besar digunakan juga untuk kepentingan ritual selain untuk alat tukar.

Jika kita lihat peta, letak ibukota Majapahit, yakni Trowulan, ada di tengah Jawa Timur. Antara Mojokerto dan Jombang. Jauh dari laut. Dengan jarak sejauh itu dari laut, bagaimana Majapahit bisa leluasa berniaga dengan luar negeri, bahkan memiliki armada laut kuat?

 

 

TrowulanArchaeologicalSiteMap
Peta Situs Arkeologi Trowulan.

 

Sistem kanal, jawabannya. Di wilayah Kota Majapahit yang berukuran 9 x 11 kilometer itu ditemukan sejumlah besar struktur bata yang beberapa di antaranya adalah sisa-sisa bangunan rumah, bekas bangunan air seperti kolam, waduk, saluran air, terowongan air, sumur, dan 32 kanal. Pada tahun 1981, tim geografi Universitas Gadjah Mada juga melakukan foto udara yang menunjukkan situs Trowulan sebagai kota kanal.

Kota Majapahit memiliki sistem kanal atau parit yang lebarnya 75 hingga 200 meter. Kanal-kanal yang membujur dan melintang terhubung ke Sungai Pikatan (sekarang Sungai Brangkal), lantas menyambung ke Sungai Brantas yang mengalir ke Kali Mas, hingga mencapai muara di Selat Madura. Dari Selat Madura kapal-kapal sudah leluasa berlayar ke laut lepas.

Ada dua kemungkinan yang menjadikan Kota Majapahit sebagai kota kanal, yakni kemungkinan di sini dulu banjir setiap musim hujan, sehingga kanal merupakan solusi paling ampuh. Kemungkinan kedua adalah untuk mencegah serangan musuh mengingat lebarnya kanal. Letak Kota Majapahit yang jauh dari laut jadi nilai tambah dalam hal ini, karena musuh yang datang harus lebih dulu melawan barikade di bandar Majapahit, Ujung Galuh (sekarang Surabaya), baru kemudian masuk melawan arus sungai dan kanal untuk mencapai Trowulan yang butuh waktu satu hari.

 

Dirjen Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Hari Untoro Drajat punya penjelasan tentang ini ketika kami mengunjungi Trowulan, awal November. “Sistem kanal merupakan model pertahanan yang umum digunakan oleh kerajaan-kerajaan kuno di Asia Tenggara, seperti Sukothai dan Kamboja. Maka, kanal-kanal di Trowulan ini jadi bukti adanya hubungan yang erat antara Majapahit dengan negara-negara lain.”

Gambaran tentang kanal ini juga memperjelas hubungan dua gapura yang merupakan pintu masuk Kota Majapahit, yakni Gapura Bajangratu di timur dan Gapura Wringinlawang di utara.

Gapura Bajangratu berada di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Pintu gerbang buatan awal abad ke-15 ini berbentuk paduraksa, yakni gapura yang memiliki atap, dengan sayap di kedua sisinya ditandai dengan susunan bata di tepi sayap yang belum tuntas. Diperkirakan kalau utuh sayap itu masing-masing sepanjang 50 meter. Di sayap kanan garuda terdapat panil sempit dengan relief cerita Ramayana, menggambarkan perkelahian raksasa melawan kera.

 

 

Lokasi berdirinya Gapura Bajangratu ini relatif jauh (2 kilometer) dari pusat kanal perairan Majapahit yang saat ini berada di Dusun Kraton, Desa Temon, dekat Candi Tikus. Kemungkinan lokasi ini dipilih untuk memperoleh ketenangan dan kedekatan dengan alam, mengingat Bajangratu didirikan untuk memperingati wafatnya Raja Jayanegara, tahun 1328 Saka (1406 M).

Namun demikian, 200 meter tepat di depan candi ada kanal melintang yang langsung menuju bagian tengah sistem kanal Majapahit, menunjukkan gapura ini punya hubungan erat dengan pusat kota Majapahit.

Pendangkalan menyebabkan kanal itu sekarang berubah menjadi sawah. Kalau dilihat dari Bajangratu, jelas sekali bahwa sawah itu dulunya adalah kanal, karena hanya di area selebar sekitar 100 meter itulah datarannya rendah, melintang dari timur ke barat.

 

Di sebelah utara Kota Majapahit, berdiri Gapura Wringinlawang. Tepatnya di Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Raffles di bukunya History of Java menyebut gapura ini sebagai Gapura Jatipasar, sesuai dengan nama desa tempat berdiri gapura. Jika Gapura Bajangratu berbentuk paduraksa, Gapura Wringinlawang berbentuk bentar, yakni candi yang terbelah dua, dengan tinggi 15,5 meter.

Tak jauh dari pintu masuk kota ini ditemukan logam, bangunan, dan 14 buah sumur yang berbentuk silinder dan kubus. Diperkirakan gapura ini berdiri dekat dengan permukiman, karena sampai sekarang pun masih umum dijumpai sumur yang berada di depan rumah sebagaimana tataletak rumah di Majapahit.

Jadi jika perahu menepi di Bajangratu menjumpai kawasan sepi, maka jika mendarat di Wringinlawang langsung masuk kampung yang riuh rendah. Seru sekali. Lantas di mana kanalnya? Kanal berada sebelah barat gapura. Sekarang jadi petak-petak kebun tebu akibat pendangkalan. Kita simpan cerita tentang pendangkalan untuk pekan depan. 

kecil 100_2856
Bersama mas Mahendra – Dikbud.

***

Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 16 November 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s