Ketika Air Berhenti Mengalir

 

Trowulan, tempat berdirinya Kota Majapahit di abad ke-13 hingga ke-15, berada di kawasan rendah Jawa Timur, di delta Sungai Brantas. Tanah subur yang terbentuk dari material batu, pasir, serta tanah bekas letusan Gunung Welirang dan Anjasmoro.

Oleh Silvia Galikano

Kekhasan alam kawasan ini adalah pada musim panas selalu mengalami kekurangan air, dan sebaliknya, setiap musim hujan, Sungai Brantas meluap, menyebabkan banjir menggenangi lahan pertanian penduduk. Menyiasati kondisi demikian, dengan teknologi abad ke-13, para arsitek Majapahit merancang kanal, kolam-kolam buatan, serta waduk. Selain sebagai pengendali banjir, bangunan air ini berfungsi juga sebagai irigasi pertanian dan sarana penyimpan air untuk musim panas.

Penggalian para arkeolog menemukan 17 waduk di Trowulan. Waduk terbesar adalah Waduk Baureo yang lebih dikenal dengan sebutan Candi Lima. Sekarang, Candi Lima dan waduk-waduk lain tidak lagi berbentuk waduk, melainkan hanya cekungan besar.

trowulanwmaps @mitchtestone,blogspot,co.,d

 

Ir. Henry Maclain pada tahun 1926 menemukan Segaran, kolam buatan di zaman Majapahit, dalam keadaan tertutup tanah dan rerumputan. Letak Kolam Segaran di Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, seberang Museum Trowulan. Berbahan bata yang direkatkan dengan cara digosok. Bentuknya empat persegi panjang dengan luas 6,5 hektare, tinggi dinding kolam 3,16 meter dan tebal dindingnya 1,6 meter. Meski keberadaannya tak tertulis di Negarakrtagama, tak ayal inilah bangunan air paling monumental di Kota Majapahit.

Menurut Kepala Pusat Informasi Majapahit Aris Soviyani, ada dua kemungkinan hingga Prapanca tidak menuliskan Segaran dalam Kitab Negarakrtagama. Pertama karena Segaran dianggap tidak penting pada saat itu, dan kemungkinan kedua adalah Segaran dibuat setelah ditulisnya Negarakrtagama (1365 M), karena memang hampir seluruh bangunan air di Majapahit tidak ada catatan kapan didirikannya.

Bersama waduk-waduk lainnya yang saling terhubung, Segaran berfungsi sebagai penampung air ketika Sungai Brantas meluap di musim hujan. Waduk-waduk lain itu adalah Waduk Kraton, Balong Dowo, dan Balong Bunder. Air Segaran berasal dari Waduk Kraton yang masuk melalui saluran di sisi tenggara, dan keluar melalui saluran di sisi barat laut menuju Balong Dowo dan Balong Bunder, tiga kolam buatan yang nasibnya tak seberuntung Segaran karena sekarang menjadi rawa.

Menurut cerita rakyat, pada masa jaya Majapahit, Segaran adalah tempat rekreasi dan tempat raja menjamu tamu dari luar negeri. Perjamuan itu berlangsung di atas perahu. Ketika perjamuan selesai, alat-alat makan seperti piring dan mangkuk yang semuanya terbuat dari emas dibuang ke dalam kolam untuk menunjukkan betapa kayanya Kerajaan Majapahit.

Walau sekarang yang mendengar cerita ini selalu menanggapinya dengan senyum karena demikian absurd, namun senyum itu akan hilang ketika tahu tak jauh dari Segaran terdapat Dusun Kemasan yang dulu jadi sentra perajin emas. Walau sekarang tak ada lagi perajin emas di Dusun Kemasan, namun “Tak ada tempat lain di Trowulan kecuali Kedaton dan Kemasan pernah ditemukan emas,” kata Aris. Kedaton adalah dusun di Desa Sentonorejo, diperkirakan lokasi pusat kota Majapahit. Yang benar pernah ditemukan di dasar Segaran adalah keramik Tiongkok dari Dinasti Yuan di abad ke-12, ke-13, dan ke-14 M.

Di edisi pekan lalu (16/11/2008) telah dibahas fungsi kanal sebagai alat transportasi dan pertahanan mengingat lokasi Kota Majapahit yang jauh dari laut. Namun kanal yang berada di antara Dusun Kedaton dan Dusun Kemasan ternyata berfungsi juga sebagai tanggul, karena ditemukan susunan bata setinggi 2,5 meter. Satu lagi bukti kanal sebagai pengendali banjir di Kota Majapahit.

Kanal-kanal memiliki cabang-cabang kecil yang menjalar ke setiap sudut kota Majapahit. Di situs Sentonorejo tempat permukiman kuno yang memiliki ubin segienam, ditemukan gorong-gorong di sebelah utara rumah, kira-kira 2,5 meter di bawah tanah. Gorong-gorong itu terbuat dari bata berdiameter 1 meter yang terhubung ke kanal di sebelah barat. Tidak hanya di rumah para bangsawan di Sentonorejo, ternyata saluran air ditemukan juga di situs permukiman rakyat jelata di halaman Museum Trowulan, menunjukkan betapa sistem jaringan air berikut sanitasi jadi perhatian pokok di Majapahit.

Satu lagi bangunan penting yang juga tersambung ke sistem kanal adalah Candi Tikus di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto yang merupakan bangunan candi sekaligus kolam pertirtaan. Di bagian tengah ada miniatur candi, lambang Puncak Mahameru tempat dewa bersemayam dan sumber segala kehidupan yang mengalirkan air suci (amrta) melalui pancuran-pancuran (jaladwara) yang ada di sekeliling kaki candi.

Lantai dasar Candi Tikus berada 3,5 meter di bawah permukaan tanah. Untuk mencapainya harus menuruni tangga yang jadi pintu masuk candi. Di sebelah kanan tangga ada kolam untuk laki-laki dan di sebelah kiri tangga adalah kolam untuk perempuan. Dulu, pasokan air untuk Candi Tikus didapat dari saluran yang ada di bagian selatan, belakang candi induk, lantas mengalir ke pancuran-pancuran serta mengisi dua kolam tersebut. Sementara itu saluran pembuangannya ada di sudut tenggara lantai dasar yang kemudian mengalir ke kanal.

kecil 100_2820
Candi Tikus. (Foto: Silvia Galikano)

 

Para peneliti menduga seluruh bangunan air Majapahit kemudian rusak karena letusan besar Gunung Anjasmoro (tahun 1451) yang berada sekitar 35 kilometer tenggara Kota Majapahit, meninggalkan lapisan tebal lahar dan menjadikan bangunan air dangkal akibat endapan lahar. Sedimentasi yang berlangsung bertahun-tahun menyebabkan kanal-kanal sekarang berujud sawah dan kebun tebu, serta kolam dan waduk jadi cekungan dan rawa.

Rusaknya jaringan air mengembalikan Kota Majapahit ke sediakala yang banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Penduduk yang meninggalkan tanahnya saat Anjasmoro meletus juga enggan kembali karena adanya kepercayaan bahwa tanah yang sudah terkena bencana tak layak lagi dihuni.

Sementara di keluarga kerajaan terjadi konflik internal pascamangkat Kertabumi (Brawijaya V) pada tahun 1475, dan pada saat yang sama ada ancaman serangan dari Kerajaan Demak. Brawijaya V akhirnya adalah raja terakhir Majapahit. Klop sudah semua faktor keroposnya Majapahit setelah hidup selama 200 tahun, meninggalkan cerita tentang makmurnya pertanian, majunya perekonomian, tangguhnya armada laut, kuatnya hubungan dengan mancanegara, serta canggihnya tatakota yang meski sudah berselang lima abad belum juga dapat diulang oleh Indonesia.

kecil 100_2856
Bersama mas Mahendra – Dikbud.

***
Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 23 November 2008 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s