Sejenak di Gubuk Berasap

linggan, trowulan

Datang ke Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, yang niat utamanya mengunjungi situs-situs Kerajaan Majapahit, tak ayal mata dan perhatian juga diajak mlipir memandangi gubuk-gubuk yang berdiri di antara petak-petak kebun tebu.

Oleh Silvia Galikano

Kalau petak-petak itu ada pohon tebunya maka gubuknya tak berasap. Tapi kalau petak-petak itu sudah bersih selesai panen, maka keluar asap putih dari gubuk. Gubuk itu bernama linggan, tempat pembakaran batu bata setelah dijemur. Berukuran 4 x 4 meter, tiang-tiangnya dari bambu, sedangkan atapnya dari jerami dan ada yang dari lembaran terpal plastik. Ada yang atapnya seperti atap rumah, yakni berjarak 2 meter dari tanah, dan ada juga atap yang demikian panjang hingga hampir menyentuh tanah.

Linggan bisa dijumpai di hampir tiap sudut Trowulan. Kecamatan ini punya 3.124 linggan. Di satu titik biasanya ada dua hingga lima linggan. Pemiliknya bisa satu orang, bisa juga lima orang yang berbeda. Di sekitar linggan berlangsung proses penggalian tanah hingga penjemuran bata. Baru pembakarannya dilakukan di dalam linggan.

pak amat

Inilah kerajinan warisan zaman Majapahit. Tanah Trowulan merupakan bahan pembuatan bata-bata candi sejak tujuh abad lalu. Bata masa itu berukuran tiga kali luas bata sekarang. “Sampai hari ini bata Majapahit tetap sangat kuat dan tidak rapuh,” ujar Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Provinsi Jawa Timur I Made Kusumajaya.

Perajin bata yang sempat saya temui bernama Amat, 50 tahun, sedang kerja berdua dengan istrinya, Rubiah (45). Amat mencampur tanah dengan bahan-bahan lain, sementara istrinya menutup bata yang sedang dijemur dengan plastik hingga tertutup seluruhnya, lantas diikat tali agar plastik tidak terbang.

Ketika itu kira-kira pukul 3 sore. Walau matahari bersinar cerah, namun mendung di langit sebelah barat bergerak mendekat. Angin kencang memberi aba-aba akan hujan lebat. “Harus ditutup plastik. Kalau tidak, bisa hancur batanya kena hujan,” kata Rubiah sambil menyelipkan tepian plastik yang berkibar diloloskan angin.

Bata yang ditutup plastik ini adalah bata yang sedang menjalani proses penjemuran tahap ke-2. Penjemuran tahap pertama di posisi rebah selesai cetak dan masih benar-benar basah. Setelah kering, bata-bata ini disusun berdiri horisontal hingga setinggi kepala orang dewasa. Begitu kering baru kemudian dibakar.

Saya hampiri Amat. Dia berada satu setengah meter di bawah saya, di permukaan tanah yang lebih rendah karena tanahnya dia cangkuli terus. Jarak dari jalan kurang lebih 10 meter. Bisa jadi lama-lama penggalian tanah ini berhenti persis di tepi jalan, itu pun karena jalannya berlapis aspal.

Amat dan Rubiah tinggal di Desa Wonorejo, sekitar 3 kilometer dari Trowulan. Setiap hari pasangan ini berboncengan sepeda motor menempuh perjalanan 45 menit untuk membuat bata. Pagi berangkat, sore pulang. Di titik pembuatan bata tempat mereka bekerja terdapat empat linggan dimiliki oleh empat orang yang berbeda, yakni Amat, Solikin, Pomo, dan Ngatari. Mereka patungan mengumpulkan uang Rp23 juta untuk membangun linggan, mengurus perizinan, membeli bahan baku, dan membeli bahan bakar.

Abu dan sekam sudah tersebar di tanah sebagai bahan campuran pembuatan bata. Tinggal Amat mencangkul tanah dan menambahkan air. Air didapat dari sumur pompa manual yang tak jauh jaraknya. Dia mengaduk adonan itu dengan cangkul sambil diinjak-injak agar tidak ada gumpalan sembari memastikan semua bahan tercampur sempurna.

tanah gerowak

Sempat juga saya heran, di saat sang istri menutup hasil kerjanya dengan plastik karena hari menjelang senja dan akan hujan, kok suaminya justru baru mulai membuat adonan?

Ternyata memang demikian irama kerja pembuatan bata di Trowulan. Sore adalah waktu untuk membuat adonan, lantas adonan diistirahatkan pada malam hari, esok pagi adonan ini dicetak dan dijemur. Sorenya mulai lagi dengan membuat adonan yang baru. Demikian seterusnya. Pasalnya, kalau pagi baru mulai mengadon, akan butuh waktu lama hingga masuk proses mencetak dan menjemur, akibatnya bisa tak kebagian sinar matahari, unsur yang sangat dibutuhkan saat menjemur bata.

Membakar bata adalah proses yang memakan waktu paling lama, yakni lima hari nonstop. Itu minimal. Kadang bisa makan waktu sampai tujuh hari kalau nyala api tidak sempurna. Bata yang berwarna oranye berseling hitam menandakan proses pembakaran yang tidak sempurna.

Menarik ketika tahu bahan yang digunakan untuk membakar bata salah satunya adalah sepatu bekas. Di depan linggan, pesis di tepi jalan, memang bertumpuk sepatu bekas yang awalnya saya kira menunggu untuk diangkut truk sampah. Ternyata merupakan bahan bakar andalan karena menghasilkan api yang bagus.

Selain sepatu bekas, bahan pembakar bata adalah gabungan sekam, ban bekas, dan ladek. Ladek adalah ampas tebu berwarna hitam sisa pembuatan gula, didapat dari pabrik gula. “Ndak pernah pakai kayu bakar. Ndak tahu kenapa. Dari dulu juga begitu,” kata Amat.

 

 

Juga dicampurkan ke dalam bahan bakar adalah garam. Tujuannya menciptakan efek merah di bata walau waktu pembakaran belum sempurna. Campuran garam inilah yang menyebabkan atap-atap rumah yang terbuat dari seng jadi berkarat.

Amat menunjukkan cara dia menyusun bata untuk dibakar. Tiga tumpuk bata dengan ruang kosong kecil di tengahnya. Di atasnya disusun dua tumpuk bata tapi hanya di bagian tepi sebagai pagar bagi bahan bakar. Kemudian tiga tumpuk bata lagi, bahan bakar lagi, demikian terus hingga mendekati atap linggan. Jadi bahan bakar berada di sela-sela dan tengah-tengah tumpukan dari bawah sampai atas.

Begitu susunan bata berseling bahan bakar sudah rapi, bagian tengah tumpukan juga sudah dipenuhi bahan bakar, satu orang naik ke atas tumpukan bata untuk menyalakan bahan bakar yang ada di bagian tengah. Api kemudian menjalar ke bawah dan menyusup ke bahan bakar yang ada di sela-sela tumpukan bata. Api akan terus menyala sepanjang lima sampai tujuh hari hingga akhirnya mati sendiri. Proses pembakaran yang menyebabkan pemandangan asap keluar dari linggan di bagian awal tulisan ini.

Selesai proses membakar artinya 1.500 keping bata siap dijual. Amat menjualnya seharga Rp250 per keping. Pembelilah yang datang menjemput. Empat truk untuk satu linggan. Datang dari Surabaya dan kota-kota lain, mengangkut bata dari tanah Trowulan, dari bumi Majapahit. 

***
Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 30 November 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s