Rumah Karawaci, Sebelum Tinggal Puing

Oey Jie San, Oei Jie San, Oey Djie San, Oei Djie San, Oei Ji San, Oey Ji San, rumah indisch karawaci
Rumah Indisch. (Foto: Silvia Galikano, 2008)

Bagian pertama dari dua tulisan tentang Rumah Kongsi di Karawaci

Harapan semakin tipis atas diselamatkannya rumah ini. Rumah bersejarah yang tak lagi hanya milik individu, melainkan milik peradaban sebuah bangsa.

Oleh: Silvia Galikano

Kalimat “runtuhnya sebuah peradaban” awalnya sulit saya cerna. Terasa seperti mengawang-awang, tidak menginjak bumi, dapat dilihat tapi tak dapat disentuh. Kalimat yang membuat saya merasa seperti rakyat jelata yang melihat laku ndoro-ndoro sedang mendongakkan dagu dan memandang dengan ujung mata.

Hingga Selasa, 2 Desember 2008 lalu di sebuah rumah tua megah di sisi Cisadane Tangerang, “runtuhnya sebuah peradaban” tak saja digelar di hadapan, melainkan ditamparkan keras ke wajah. Inilah bentuk nyata runtuhnya peradaban!

Oey Jie San, Oei Jie San, Oey Djie San, Oei Djie San, Oei Ji San, Oey Ji San
Rumah Oey Djie San di Karawaci, Tangerang, pada 1930-an. (Dok. Bintoro )

 

Di depan mata, berdiri merana bangunan yang lusuh tak terkira. Di sebelah kanan masing-masing unit sudah diruntuhkan. Bata-bata dikumpulkan, demikian pula ubin terakota dan balok-balok kayu besar.

Di halaman, berdiri truk besar merah menyala menanti diangkutnya pretelan bangunan itu untuk dibawa ke Bali, karena di Bali sudah menunggu kolektor asal Belanda dan Australia yang akan membeli dengan harga aduhai.

Baca juga Pintu Candra Naya di Rumah Tionghoa Peranakan

Pemborong bangunan (hanya fisik bangunan, bukan pembeli tanah) adalah Haji Syafei yang berkongsi dengan dua orang lainnya. Dari informasi di lapangan, tiga orang ini membeli fisik bangunan seharga Rp700 juta.

Di antara reruntuhan, bergerombol laki-laki pekerja pemborong pretelan sedang mengukur kusen jendela. Kayu-kayu memang harus diukur karena menjualnya per meter kubik (m³) dengan harga Rp1 juta per meter kubik. Bata dijual Rp1.200 per keping, sedangkan ubin terakota Rp1.250 per keping.

Baca juga Rumah Cilame, Jendela Zaman Emas hingga Masa Kelam

Saya tetap hilir mudik dengan kamera saku yang tak pernah off sambil berpikir keras, apa yang membuat pemilik bangunan berbuat sekeji ini pada tinggalan leluhurnya? Yang sedang mereka runtuhkan adalah rumah bersejarah. Bersejarah bahkan hingga kepingan batanya dan butir kerikilnya. Rumah ini adalah wajah sebuah peradaban.

Tak ada nama resminya. Penduduk menyebutnya Rumah Tua atau Rumah Kongsi. Kadang disebut juga Rumah Pitung karena dulu di tahun 1970-an digunakan sebagai lokasi syuting film Si Pitung yang dibintangi Dicky Zulkarnaen. Di tulisan-tulisan tentang Tangerang, rumah ini disebut Rumah Tuan Tanah serta Plantation House.

Oey Jie San, Oei Jie San, Oey Djie San, Oei Djie San, Oei Ji San, Oey Ji San, rumah karawaci
Rumah Tionghoa. (Foto: Silvia Galikano)

Luas bangunan 500 meter persegi yang berdiri di atas tanah seluas 2,5 hektare. Berdiri persis di simpang Jalan Teuku Umar dan Jalan Imam Bonjol, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang. Jika menumpang kendaraan umum, simpang itu dikenal dengan sebutan Perempatan Sinta.

Pemiliknya dahulu adalah tuan tanah kebun karet di Karawaci Oey Djie San. Tak banyak yang diketahui tentang dia, kecuali sebagai Kapitan Tionghoa Tangerang dan pendiri organisasi Tiong Hoa Hwee Kwan (THHK) cabang Tangerang. Belum jelas kapan dia atau leluhurnya datang dari Tiongkok.

Baca juga Warisan Ternama di Pecinan Jakarta

Diperkirakan, rumah yang berdiri di atas lahan seluas 2,5 hektare ini dibangun pada akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Langgam arsitekturnya campuran antara Tionghoa, Indische, dan gaya Jawa, gaya yang sedang tren pada masa tersebut.

Oey Jie San, Oei Jie San, Oey Djie San, Oei Djie San, Oei Ji San, Oey Ji San
Rumah Tionghoa ketika paseban masih berdiri. (Foto: A. Chester Ong)

Keunikan bangunan ini adalah dua rumah yang berpunggungan, satu menghadap Cisadane, satu menghadap Jalan Imam Bonjol. Yang menghadap Cisadane adalah Rumah Tionghoa. Langgamnya sanheyuan dengan tambahan komposisi yang terinspirasi dari arsitektur Jawa dan Belanda.

Sanheyuan adalah gaya arsitektur tradisional di Tiongkok yang terdiri dari tiga bangunan, yakni bangunan utama berada di tengah diapit serta bangunan sayap dalam posisi tegak lurus (bukan paralel) dengan bangunan utama. Rumah bergaya sanheyuan umumnya dijumpai di pedesaan Tiongkok bagian selatan.

Baca juga Hotel Besar, Cerita Tumbuhnya Purwokerto

Rumah yang menghadap Teuku Umar berlanggam Indische-Jawa. Atapnya mirip atap rumah Joglo, menaungi hingga teras yang ditopang 12 pilar besar. Seperti bangunan Indische lain, bangunan ini dikelilingi teras selebar 4,5 meter dengan tambahan atap teritis 2,4 meter.

Menurut Peter JM Nas dalam tulisannya The House in Indonesia: Between Globalization and Localization (1998), dua arsitektur berbeda di dua rumah yang berpunggungan itu bisa jadi sebagai bentuk kontras pembauran yang memang didukung pemerintah kala itu. Inilah satu-satunya yang tersisa di Indonesia, country house berarsitektur campuran Tionghoa-Indische-Jawa.

Ketika pecah kerusuhan pada 1946, rumah ini menjadi penampungan masyarakat Tionghoa. Kerusuhan itu dipicu gosip NICA beretnis Tionghoa menurunkan bendera Indonesia dan menggantinya dengan bendera Belanda. Ditambah lagi kabar burung tentara NICA Tionghoa membakar warga pribumi.

Baca juga Geger Kota Sang Inspektur

Unsur Jawa terlihat dari adanya pendopo, sebuah elemen penting dari arsitektur lokal Jawa dan keraton. Pendopo berfungsi sebagai tempat menerima tamu serta tempat mengerjakan sebagian pekerjaan rumah tangga.

Di pintu utama tertulis empat karakter Mandarin, gui ling he suan, yakni kura-kura dan burung bangau yang melambangkan panjang umur. Sepasang kayu oktagonal bernama menzan dipasang di atas pintu. Menzan, yakni hiasan “pin pintu” atau “penjepit pintu” , memperkuat harapan panjang umur melalui lambang, antara lain rusa, yang dipercaya dapat menemukan jamur keabadian, serta serumpun bambu.

Baca juga Tentang Cokek dan Geolnya

Saat masih utuh, ada paseban dan sepasang patung singa, serta ornamen-ornamen ukir cantik tersebar di bagian dalamnya. Kayu-kayu dicat warna merah, sedangkan ukirannya berwarna emas.

Walau sudah demikian tuanya, bangunan ini ternyata tidak masuk dalam daftar benda cagar budaya, tidak di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI, tidak di Pemerintah Provinsi Banten, tidak juga ada dalam daftar di Pemerintah Kota Tangerang.

Oey Jie San, Oei Jie San, Oey Djie San, Oei Djie San, Oei Ji San, Oey Ji San
Rumah Tionghoa. (Foto: Silvia Galikano)

Karena itu tak heran meski palu dihantamkan ke dindingnya hingga kondisi terakhir 30 persen bangunan sudah rata dengan tanah, tetap tak ada tindakan dari pemerintah, bahkan hingga berita ini dibuat, Sabtu (5/12).

Pada Kamis (4/12), Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Hari Untoro Djati melalui sambungan telepon mengatakan, “Terima kasih banyak atas informasinya. Saya sedang di Bali, jadi tidak bisa melihat ke sana. Nanti akan ditangani di lapangan.”

Baca juga Saumata Lintaskan Wastra

Staf Unit Pelaksana Teknis Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (UPT BP3) Serang yang Jumat (5/12) siang melihat kondisi Rumah Tua, Sri Anggorowati, mengatakan, “Kami harus melapor pada pimpinan dulu, baru kemudian melakukan koordinasi antarinstansi untuk mengambil langkah selanjutnya.”

Silakan perkirakan kapan tim ini akan jalan, karena Sabtu dan Minggu libur, dan Senin hari libur nasional, sementara pembongkaran jalan terus tak kenal hari libur. Rumitnya birokrasi dalam kondisi darurat begini menimbulkan kegeraman tak terkira.

Ronald Knapp, seorang Distinguished Professor Emeritus di State University of New York (SUNY), New Paltz yang banyak menulis tentang rumah-rumah Asia menyebut kediaman Oey Djie San sebagai kompleks bangunan yang unik dan langka, dan selayaknya dilindungi.

Dalam surat elektronik, dia menyampaikan, “Sangat sangat menyedihkan melihat dihancurkannya rumah tinggal yang memilik arti penting bagi sejarah dan arsitektur, terlebih nilainya bagi Indonesia yang multikultur dan multietnis. It is a tragedy to see that the demolition has already begun!

Bersambung ke Rumah Karawaci, Ketika Waktu dan Pilihan Menipis

***
Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 7 Desember 2008

Oey Jie San, Oei Jie San, Oey Djie San, Oei Djie San, Oei Ji San, Oey Ji San
Lahan tempat dahulu berdiri rumah Oey Djie San sekarang menjadi 3 kavling: Resto cepat saji, ruko, dan tanah kosong. Foto diambil pada 9 September 2018. (Foto: Silvia Galikano)

5 Replies to “Rumah Karawaci, Sebelum Tinggal Puing”

    1. Wahhh, senang sekali saya dikontak cucu beliau-beliau. Sekarang bu Linah dan pak Suparman tinggal di mana?
      Apakah Mas punya foto2 saat bu LInah dan pak Suparman masih tinggal di rumah itu?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.