Ketika Waktu dan Pilihan Menipis

Oey Jie San, Oei Jie San, Oey Djie San, Oei Djie San, Oei Ji San, Oey Ji San

 Bagian kedua (habis) setelah Sebelum Tinggal Puing tentang Rumah Kongsi di Karawaci

Pandangan sedang disorotkan tajam ke Pemkot Tangerang yang tak kunjung bertindak atas dirobohkannya satu warisan budaya di tepi Cisadane.

Teks & foto: Silvia Galikano

Benar sebagaimana ditakutkan dari awal, pembongkaran Rumah Tua Karawaci tak terhentikan. Walau kasus ini ditulis sejumlah media Jabodetabek sejak pekan lalu (lihat Jurnal Nasional 7/12), sampai sekarang permasalahan masih berputar di situ-situ saja. Pembongkaran jalan terus karena pemborong sudah membeli fisik rumah bersejarah itu, sementara Pemerintah Kota Tangerang berputih mata seperti tak terjadi apa-apa di wilayahnya, padahal Pemkot Tangerang yang punya wewenang hukum menghentikan pembongkaran.

Jumat (12/12) saya datang lagi melihat kondisi terakhir Rumah Tua Karawaci. Pembongkaran sudah masuk ke bagian belakang rumah utama yang berlanggam Tionghoa. Balkon kayu sudah tidak ada, menyisakan empat pilar menjulang tanpa ada lagi yang disangga. Selama ini, bagian belakang rumah Tionghoa tidak dapat dimasuki karena daun pintu dan jendelanya dipalang mati oleh pemilik rumah untuk dijadikan sarang walet, bersambung dengan bagian tengah Rumah Indische yang letaknya segaris.

Para pekerja pemborong sudah rampung mencongkeli ubin di bekas ruang yang dijadikan sarang walet. Seorang sedang meruntuhkan langit-langit di bagian belakang Rumah Tionghoa yang berlantai dua. Ada tangga kecil cantik berukir yang menuju lantai 2 tempat seorang pekerja berada, nangkring di lantai kayu yang sudah renggang. Pegangan tangga masih kokoh, namun anak tangganya sudah lapuk. Saya tak berhasil mencapai lantai 2 karena dua anak tangga berturut-turut jebol begitu dipijak.

Pada saat bersamaan, seorang utusan dari Warga Peduli Bangunan Tua (Walibatu) menyerahkan petisi ke Pemkot Tangerang yang berisi permintaan agar penghancuran Rumah Tua Karawaci dihentikan. Petisi yang ditandatangani 39 orang ini diterima petugas dari Bagian Umum yang bernama Jarni, kata Mahandis Yoanata dari Walibatu.

Rumah Tua Karawaci adalah country house/landhuis berusia lebih dari 200 tahun yang dulunya milik tuan tanah kebun karet di Karawaci, Kapitein der Chineezen Oey Djie San. Berada di simpang Jalan Imam Bonjol dan Teuku Umar Karawaci, Tangerang, Banten. Uniknya rumah tinggal ini adalah seolah-olah terdiri dari dua rumah yang berpunggungan, yakni Rumah Tionghoa menghadap Kali Cisadane, dan Rumah Indische menghadap Jalan Teuku Umar. Sebutan lain untuk rumah ini adalah Rumah Kongsi, Rumah Pitung, serta Plantation House.

Satu-satunya badan pemerintah yang datang dan “melakukan sesuatu” atas rumah ini adalah Unit Pelaksana Teknis Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (UPT BP3) Serang. Setelah Kamis dan Jumat (4 – 5/12) pekan lalu mengadakan survei dan koordinasi, maka sejak Kamis (11/12) mereka membuat pemetaan dan mengumpulkan data fisik yang tersisa. Ada lima orang staf UPT BP3 yang siang itu berada di area Rumah Tionghoa. Ada yang memotret detail ukiran, ada yang merentangkan meteran di atas balok-balok, ada juga yang membuat denah rumah.

“Hasil perundingan kami dengan Pak Harry, Kamis pekan lalu, adalah kami diberi akses sebanyak mungkin untuk mengumpulkan data,” ujar Staf UPT Pahlawan Putra. Harry Pangemanan adalah satu dari sembilan ahli waris rumah yang ingin agar rumah ini dijual.

Dari hasil survei pekan lalu, UPT mengirim surat ke Pemkot Tangerang dengan maksud berkoordinasi guna mengambil langkah selanjutnya. Bersama surat itu terlampir hasil kegiatan UPT pada April 2007, yakni pendokumentasian bangunan kolonial di Tangerang yang salah satunya adalah Rumah Tua Karawaci.

“Tujuan kami untuk berkoordinasi, ternyata mereka tidak tahu sama sekali tentang rumah ini, apalagi tentang pembongkarannya,” kata Pahlawan.

Ketika saya sampaikan bahwa pada saat itu juga Walibatu sedang menyerahkan petisi ke Pemkot Tangerang, dia menarik napas, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, “Petisi itu bakal dibaca Lebaran nanti, Mbak.”

Petisi yang isinya meminta penghentian pembongkaran Rumah Tua Karawaci dihimpun seusai Walibatu menggelar diskusi dengan pembicara Budi Lim, Pia Alisjahbana, Adolf Heuken, dan Yori Antar pada Rabu (10/12), di Bakoel Koffie Cikini, Jakarta. Kata sepakat di diskusi itu adalah harus adanya langkah darurat yang diambil sekarang agar Pemkot Tangerang menghentikan pembongkaran. Perkara rumah ini belum masuk dalam daftar benda cagar budaya, itu urusan berikutnya.

Budi Lim, arsitek yang punya banyak perhatian pada bangunan tua bahkan menyarankan agar masyarakat Tangerang sendiri ikut bergerak sebagaimana terjadi juga di Australia dan Inggris, yakni warganya pasang badan di situs yang siap dihancurkan crane.

“Memang harus ke walikota, tapi ini makan waktu. Masyarakat harus menghentikan proses pembongkaran. Dengan terpaksa saya harus katakan itu. Bangunan ini bukan hanya milik pribadi, tapi juga milik Indonesia dan milik dunia,” kata Budi.

Penulis buku Historical Sites of Jakarta, Adolf Heuken SJ, menyebut pentingnya Rumah Tua Karawaci untuk diselamatkan agar tetap ada bukti tentang sejarah Jakarta dan sekitarnya. Bukan hanya buku dan foto, melainkan bukti yang bisa dilihat dan dipegang, terlebih lagi fakta bahwa 90 persen penduduk Jakarta bukanlah orang Jakarta yang diasumsikan tidak tahu tentang sejarah Jakarta.

“Orang yang tidak punya ingatan tentang masa lalu adalah orang bodoh, maka bangsa yang tidak ingat masa lalu adalah bangsa yang bodoh. Karenanya rumah ini sangat penting untuk diselamatkan,” ujar Heuken.

***
Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 14 Desember 2008

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s