Rumah Karawaci, Ketika Waktu dan Pilihan Menipis

Bagian kedua (habis) setelah Rumah Karawaci, Sebelum Tinggal Puing tentang Rumah Kongsi di Karawaci


rumah kongsi, oey djie san, oey ji san, rumah karawaci
Rumah Kongsi berlanggam Tionghoa, menghadap Cisadane. Foto: Silvia Galikano.

Pandangan sedang disorotkan tajam ke Pemkot Tangerang yang tak kunjung bertindak atas dirobohkannya satu warisan budaya di tepi Cisadane.

Oleh Silvia Galikano
Benar sebagaimana ditakutkan dari awal, pembongkaran Rumah Tua Karawaci tak terhentikan. Walau kasus ini ditulis sejumlah media Jabodetabek sejak pekan lalu (lihat Jurnal Nasional 7/12/2008), sampai sekarang permasalahan masih berputar di situ-situ saja.

Pembongkaran jalan terus karena pemborong sudah membeli fisik rumah bersejarah itu, sementara Pemerintah Kota Tangerang berputih mata seperti tak terjadi apa-apa di wilayahnya, padahal Pemkot Tangerang yang punya wewenang hukum menghentikan pembongkaran.

Baca juga Rumah Cilame, Jendela Zaman Emas hingga Masa Kelam

Jumat (12/12/2008) saya datang lagi melihat kondisi terakhir Rumah Tua Karawaci. Pembongkaran sudah masuk ke bagian belakang rumah utama yang berlanggam Tionghoa. Balkon kayu sudah tidak ada, menyisakan empat pilar menjulang tanpa ada lagi yang disangga.

Selama ini, bagian belakang rumah Tionghoa tidak dapat dimasuki karena daun pintu dan jendelanya dipalang mati oleh pemilik rumah untuk dijadikan sarang walet, bersambung dengan bagian tengah Rumah Indische yang letaknya segaris.

Para pekerja pemborong sudah rampung mencongkeli ubin di bekas ruang yang dijadikan sarang walet. Seorang sedang meruntuhkan langit-langit di bagian belakang Rumah Tionghoa yang berlantai dua.

Baca juga Warisan Ternama di Pecinan Jakarta

Ada tangga kecil cantik berukir yang menuju lantai 2 tempat seorang pekerja berada, nangkring di lantai kayu yang sudah renggang. Pegangan tangga masih kokoh, namun anak tangganya sudah lapuk. Saya tak berhasil mencapai lantai 2 karena dua anak tangga berturut-turut jebol begitu dipijak.

Pada saat bersamaan, seorang utusan dari Warga Peduli Bangunan Tua (Walibatu) menyerahkan petisi ke Pemkot Tangerang yang berisi permintaan agar penghancuran Rumah Tua Karawaci dihentikan. Petisi yang ditandatangani 39 orang ini diterima petugas dari Bagian Umum yang bernama Jarni, kata Mahandis Yoanata dari Walibatu.

Rumah Tua Karawaci adalah country house/landhuis berusia lebih dari 200 tahun yang dulunya milik tuan tanah kebun karet di Karawaci, Kapitan Tionghoa Oey Djie San. Berada di simpang Jalan Imam Bonjol dan Teuku Umar Karawaci, Tangerang, Banten.

Baca juga Hotel Besar, Cerita Tumbuhnya Purwokerto

Uniknya rumah tinggal ini adalah terdiri dari dua rumah yang berpunggungan, yakni Rumah Tionghoa menghadap Kali Cisadane, dan Rumah Indische menghadap Jalan Teuku Umar. Sebutan lain untuk rumah ini adalah Rumah Kongsi, Rumah Pitung, serta Plantation House.

Satu-satunya badan pemerintah yang datang dan “melakukan sesuatu” atas rumah ini adalah Unit Pelaksana Teknis Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (UPT BP3) Serang. Setelah Kamis dan Jumat (4 – 5/12) pekan lalu mengadakan survei dan koordinasi, maka sejak Kamis (11/12) mereka membuat pemetaan dan mengumpulkan data fisik yang tersisa.

Ada lima orang staf UPT BP3 yang siang itu berada di area Rumah Tionghoa. Ada yang memotret detail ukiran, ada yang merentangkan meteran di atas balok-balok, ada juga yang membuat denah rumah.

Baca juga Tentang Cokek dan Geolnya

“Hasil perundingan kami dengan Pak Harry, Kamis pekan lalu, adalah kami diberi akses sebanyak mungkin untuk mengumpulkan data,” ujar Staf UPT Pahlawan Putra. Harry Pangemanan adalah satu dari sembilan ahli waris rumah yang ingin agar rumah ini dijual.

Dari hasil survei pekan lalu, UPT mengirim surat ke Pemkot Tangerang dengan maksud berkoordinasi guna mengambil langkah selanjutnya. Bersama surat itu terlampir hasil kegiatan UPT pada April 2007, yakni pendokumentasian bangunan kolonial di Tangerang yang salah satunya adalah Rumah Tua Karawaci.

“Tujuan kami untuk berkoordinasi, ternyata mereka tidak tahu sama sekali tentang rumah ini, apalagi tentang pembongkarannya,” kata Pahlawan.

Baca juga Saumata Lintaskan Wastra

Ketika saya sampaikan bahwa pada saat itu juga Walibatu sedang menyerahkan petisi ke Pemkot Tangerang, dia menarik napas, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, “Petisi itu bakal dibaca Lebaran nanti, Mbak.”

Oey Jie San, Oei Jie San, Oey Djie San, Oei Djie San, Oei Ji San, Oey Ji San
Ruang depan rumah Tionghoa dilihat dari courtyard. (Foto Silvia Galikano)

 

Petisi yang isinya meminta penghentian pembongkaran Rumah Tua Karawaci dihimpun seusai Walibatu menggelar diskusi dengan pembicara Budi Lim, Pia Alisjahbana, Adolf Heuken, dan Yori Antar pada Rabu (10/12), di Bakoel Koffie Cikini, Jakarta. Kata sepakat di diskusi itu adalah harus adanya langkah darurat yang diambil sekarang agar Pemkot Tangerang menghentikan pembongkaran. Perkara rumah ini belum masuk dalam daftar benda cagar budaya, itu urusan berikutnya.

Baca juga Langgam Eklektik Hotel Trio Solo

Budi Lim, arsitek yang punya banyak perhatian pada bangunan tua bahkan menyarankan agar masyarakat Tangerang sendiri ikut bergerak sebagaimana terjadi juga di Australia dan Inggris, yakni warganya pasang badan di situs yang siap dihancurkan crane.

“Memang harus ke walikota, tapi ini makan waktu. Masyarakat harus menghentikan proses pembongkaran. Dengan terpaksa saya harus katakan itu. Bangunan ini bukan hanya milik pribadi, tapi juga milik Indonesia dan milik dunia,” kata Budi.

Oey Jie San, Oei Jie San, Oey Djie San, Oei Djie San, Oei Ji San, Oey Ji San
Bangunan sayap rumah Tionghoa. (Foto: Silvia Galikano)

 

Penulis buku Historical Sites of Jakarta, Adolf Heuken SJ, menyebut pentingnya Rumah Tua Karawaci untuk diselamatkan agar tetap ada bukti tentang sejarah Jakarta dan sekitarnya. Bukan hanya buku dan foto, melainkan bukti yang bisa dilihat dan dipegang, terlebih lagi fakta bahwa 90 persen penduduk Jakarta bukanlah orang Jakarta yang diasumsikan tidak tahu tentang sejarah Jakarta.

“Orang yang tidak punya ingatan tentang masa lalu adalah orang bodoh, maka bangsa yang tidak ingat masa lalu adalah bangsa yang bodoh. Karenanya rumah ini sangat penting untuk diselamatkan,” ujar Heuken.

***
Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 14 Desember 2008

Oey Jie San, Oei Jie San, Oey Djie San, Oei Djie San, Oei Ji San, Oey Ji San
Lahan tempat dahulu berdiri rumah Oey Djie San sekarang menjadi 3 kavling: Resto cepat saji, ruko, dan tanah kosong. Foto diambil pada 9 September 2018. (Foto: Silvia Galikano)

3 Replies to “Rumah Karawaci, Ketika Waktu dan Pilihan Menipis”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.