Di Sini Jejak Soedirman

Nama desa ini adalah Pakis Baru, 50 kilometer ke arah timur laut Kota Pacitan. Sekitar empat jam berkendara dari Yogyakarta, atau tiga jam dari Solo.


Tak mengherankan jika keberadaan tempat ini tidak banyak diketahui masyarakat, bahkan masyarakat Jawa Timur sekalipun. Letaknya jauh di atas bukit, melewati kelokan-kelokan tajam, jalan sempit, dan pemandangan jurang yang membuat ngilu. Perjalanan rasanya tak usai-usai, masih belok lagi, menanjak landai, belok tajam lagi.

Itu keluhan orang kota di tahun 2008. Sulit membayangkan bagaimana kondisi tempat ini di tahun 1948. Di masa revolusi itu, Panglima Besar Jenderal Soedirman dengan satu paru-paru, bergerilya keluar masuk hutan, naik turun gunung, dan digigit hawa dingin. Kadang dapat tumpangan naik pedati, lebih sering berjalan kaki, dan belakangan, ketika kesehatannya semakin memburuk, dia terus gerilya sambil ditandu.

Soedirman memutuskan bergerilya karena Yogyakarta yang waktu itu ibukota RI sudah dikepung Belanda. Soedirman yang menjabat Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia mengajak Presiden RI Sukarno untuk meninggalkan istana karena keadaan semakin genting, namun Sukarno menolak ajakan tersebut dan memilih bertahan di dalam istana.

Berikut instruksi Sukarno di Istana Kepresidenan Yogyakarta sebelum Soedirman pergi gerilya, dikutip dari buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Jangan adakan pertempuran di jalanan dalam kota. Kita tidak mungkin menang. Tetapi pindahkanlah tentaramu ke luar kota, Dirman, dan berjuanglah sampai mati. Aku perintahkan kepadamu untuk menyebarkan tentara ke desa-desa. Isilah seluruh lembah dan bukit. Tempatkan anak buahmu di setiap semak belukar. Ini adalah perang gerilya total 100 persen. Sekalipun kita harus kembali melakukan amputasi tanpa obat bius dan mempergunakan daun pisang sebagai perban, jangan biarkan dunia berkata bahwa kemerdekaan kita dihadiahkan dari dalam tas seorang diplomat.

Maka bersama pasukannya, Panglima Besar Jenderal Soedirman bergerilya dengan rute Yogyakarta-Kretek-Wonosari-Wonogiri-Ponorogo-Trenggalek-Karangnongko-Kediri-Sedayu. Dari tempat-tempat inilah dia memberi komando pada pasukan Republik untuk terus menekan Belanda.

Sebagian dari masa gerilya Soedirman adalah di Pacitan, yakni dari 1 April hingga 7 Juli 1949 sebelum akhirnya kembali ke Yogyakarta. Untuk memperingatinya, dibangunlah Kawasan Sejarah Panglima Besar Jenderal Soedirman (selanjutnya disebut Kawasan) yang peresmiannya dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Senin (15/12) lalu.

Kawasan ini berada di Desa Pakis Baru, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Pusat Kawasan adalah monumen Soedirman yang menghadap timur, mengenakan jubah panjang serta ikat kepala, dan tangan kirinya menggenggam tongkat.

Sebelum mencapai monumen, pengunjung akan melewati delapan gerbang yang masing-masing berjarak 200 meter. Delapan gerbang menunjukkan bahwa pada masa itu, berdasarkan Perjanjian Linggajati (1947), Indonesia punya delapan provinsi, yakni Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan, Sumatera, Sunda Kecil, Sulawesi, dan Maluku. Di gerbang-gerbang itulah ditulis pesan-pesan Soedirman, satu di antaranya adalah “Keteguhan hati adalah modal utama untuk terus berjuang”.

Di sepanjang tiga sisi dinding yang menghadap monumen terdapat 38 panel relief terbuat dari perunggu yang menggambarkan Soedirman dari masa kecil, belajar mengaji, sekolah, kepanduan, mendirikan koperasi, menjadi anggota PETA, memimpin gerilya, hingga meninggal dunia di Magelang.

Tak jauh dari monumen, yakni dua kilometer ke arah barat
laut, di Sobo, Pakis Baru, berdiri rumah tinggal sekaligus markas gerilya. Fisik bangunan dipertahankan bentuknya persis seperti dulu Soedirman masih tinggal di sini. Atapnya berbentuk limas, berlantaikan tanah, dan menghadap utara.


Rumah terdiri dari dua bagian, yaitu bagian depan yang digunakan sebagai ruang tamu dan kamar, serta bagian belakang yang berfungsi sebagai dapur dan tempat penyimpanan barang. Dinding bagian depan terbuat dari papan/gebyok, sedangkan dinding bagian belakang terbuat dari anyaman bambu/gedhek.

Dulu, rumah ini milik Karsosoemitro, seorang bayan (petugas humas) di Dukuh Sobo, Desa Pakis Baru. Tidak ada data pasti kapan rumah ini dibangun, tapi diperkirakan tahun 1930-an.

Soedirman sudah hampir tujuh bulan gerilya hingga akhirnya sampailah di Dukuh Sobo ini. Awalnya, selama sepekan menginap di rumah Kepala Desa Pakis Jaswadi Darmowidodo, 7 kilometer dari Sobo. Baru kemudian tinggal di rumah Karsosoemito ini selama tiga bulan.

Padi, 66 tahun, putra Karsosoemito menuturkan bahwa saat dulu dia masih bocah 7 tahun sering menemani Soedirman berjemur. “Angkat ke sana, mau cari matahari,” Padi menirukan ucapan Soedirman ke pengawalnya.

Dari rumah ini Soedirman tetap mengadakan hubungan dengan pejabat pemerintah di ibukota Yogyakarta melalui kurir, selain berkomunikasi dengan para panglima dan komandan di berbagai daerah. Melalui Letkol Soeharto, dia berkomunikasi dengan Sri Sultan HB IX di Yogyakarta yang menjabat Menteri Negara.

Masa tinggal Soedirman di Pacitan hingga 7 Juli 1949, usai Perjanjian Roem-Royen ditandatangani (7 Mei 1949) dan Yogyakarta dinyatakan aman.

Kecamatan Nawangan saat ini memang belum siap sebagai kawasan wisata karena hampir nihilnya sarana pendukung, seperti kendaraan umum dan penginapan. Pengadaan fasilitas ini yang akan diupayakan di sekitar Kawasan, termasuk penyediaan camping ground mengingat indahnya pemandangan di sana. Kita tunggu saja. Silvia Galikano

Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 21 Desember 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s