Menggantung Harap di Menggung

100_0477
Tinon dan lengkung gerbangnya di sisi pohon besar. (Foto: Silvia Galikano)

Punggung Lawu layaknya panggung pertunjukan atau kelir di pentas wayang kulit. Banyak peristiwa pernah terjadi di sana. Berbalur mistisme yang terus kental hingga sekarang.

Oleh Silvia Galikano

“Menggung itu bukan candi, tapi umurnya sudah tua,” cerita ibu pemilik warung tempat kami sarapan. Memang tak banyak keterangan bisa didapat, tapi mengetahui tempat itu berusia tua saja sudah cukup alasan untuk menjadikan Menggung sebagai tujuan berikutnya.

Pak Wagimin dan Pak Sriyanto yang jadi pengojek mengantar kami sekaligus jadi pemandu tak resmi. Sebagaimana penduduk Tawangmangu, dua lelaki ini sudah biasa datang ke petilasan yang bertebaran di Gunung Lawu, cara masyarakat Lawu mengisi batin dan mengingat peran kemanusiaannya.

100_0475
Teras II. (Foto: Silvia Galikano)

Situs Menggung berasal dari zaman Hindu. Hingga sekarang ramai didatangi pada hari-hari tertentu. Berada di Desa Nglurah, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Di sekelilingnya adalah penyemaian tanaman hias yang jadi usaha masyarakat Nglurah.

Loketnya tak ada penjaga. Debu tebal menumpuk di meja, seperti sudah berminggu-minggu tak dibersihkan. Namun demikian, situs yang berada dalam perlindungan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah itu seolah-olah “dilindungi” oleh pengunjungnya. Hampir tak ada sampah bertebaran—daun gugur janganlah dihitung sebagai sampah—dan tong sampah ada di beberapa titik.

 

 

Empat dwarakala menjaga mulut tangga menuju petilasan. Dua di kanan, dua di kiri. Dua di kanan memegang gada, dua di kiri tidak lagi jelas bentuknya. Satu sudah aus, satu lagi malah terpenggal setengah badan. Dwarapala yang aus ini punya dua arah hadap, ke depan dan belakang.

Sampai di ujung anak tangga yang jumlahnya 20-an itu, terpampang area datar berukuran 10 x 15 meter. Ini teras II. Teras I adalah sebelum naik tangga tadi. Paling tidak, ada enam pohon tua dengan diameter 1 hingga 1,5 meter di teras II ini.

100_0499
Bandingkan besarnya pohon dengan orang di sebelah kirinya. (Foto: Silvia Galikano)

Ada beberapa anak tangga lagi yang dijaga sepasang dwarapala, mengantar ke teras III. Di sinilah berdiri pohon terbesar dan tertinggi, tak jauh dari dwarapala. Berdiameter 3 meter. Entah apa namanya. Demikian tinggi pohon ini hingga kalau kita berdiri di bawahnya, pucuk pohon tak terlihat. Pohon yang mirip beringin itu berada dekat tinon, tembok ukuran 3 x 5 meter mengelilingi dua arca yang dikeramatkan.

Ada satu arca berada dalam cekungan pohon besar. Pohon besar serta dua arca di dalam tinon diberi sarung kotak-kotak hitam putih khas Bali.

Arca-arca di Menggung unik, karena berukuran mini. Dwarapala sang penjaga dengan gada di tangan dan bertampang sangar itu hanya setinggi 80 sentimeter. Yang ada di cekungan pohon malah cuma 50 sentimeter. Hanya dua arca dalam tinon yang terbilang tinggi, yakni satu setengah meter.

Sepasang arca dalam tinon inilah pusat Menggung, arca Kyai Menggung dan Ratu Shima yang dikenal masyarakat Nglurah dengan sebutan Kyai Menggung dan Nyi Rasa Putih. Di sekelilingnya penuh dengan sesajen. Selain bunga-bungaan, ada pula singkong rebus, kue dari olahan singkong, kopi, dan hio. Bunga dan kue-kue masih segar. Mungkin sisa semalam, karena kami datang Selasa siang.

 

Kyai Menggung dan Nyi Rasa Putih-lah yang jadi alasan datangnya masyarakat setiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon ke sini yang jatuh setiap enam bulan sekali. Seluruh teras penuh, bahkan hingga ke bawah. Selain penduduk Nglurah, datang juga rombongan-rombongan dari luar kota. Dari pukul 7 pagi, “Sampai selesai, bisa sampai esok paginya lagi,” kata Pak Wagimin.

Ada juga upacara Dhukutan yang diadakan setiap Selasa Kliwon Wuku Dhukut penanggalan Jawa. Ritusnya mengelilingi dua arca utama sebanyak tujuh kali, baru kemudian melaksanakan tawuran, yakni tradisi tawuran pemuda Dukuh Nglurah Lor dan Dukuh Nglurah Kidul, sebagai bentuk rasa syukur terhadap pepunden mereka itu.

 

 

Kyai Menggung diyakini merupakan julukan Narotama, putra Bali yang jadi pengikut Raja Airlangga. Ke Nglurah dia mengembara, mendekatkan diri ke Hyang Widhi. Dari laku-nya itu didapat kata “menggung” yang berasal dari melengake marang Gusti Kang Maha Agung (memusatkan segala perhatian kepada Tuhan Yang Maha Agung).

Narotama kemudian bertemu perempuan sakti bernama Nyi Rasa Putih yang tinggal di desa seberang. Pertemuan dua orang sakti ini menciptakan perseteruan setiap hari, bahkan berkembang jadi perkelahian dua desa yang melibatkan warganya. Tak dinyana, dari sanalah tumbuh rasa cinta di keduanya hingga mereka sepakat menikah. Hari pernikahan Kyai Menggung dan Nyi Rasa Putih yang jatuh pada Selasa Kliwon Wuku Dhukut dijadikan hari diadakannya Tawuran Dhukutan.


Tidak ada candra sengkala yang menunjukkan kapan didirikannya petilasan ini. Tapi jika benar Kyai Menggung adalah Narotama, artinya usia tempat ini sudah 10 abad. Seribu tahun. Narotama hidup di abad ke-11. Walau demikian bisa jadi juga arca-arca dibangun belakangan, satu masa dengan dibangunnya Candi Sukuh dan Candi Ceto yang juga ada di lereng barat Lawu, yakni pada abad ke-15.

Ketika hitung-hitungan abad masih belum nyangkut di nalar, sedikit sesal tak juga dapat dilepas. Beginilah kalau datang tanpa rencana. Tawuran Dhukutan sedang tidak berlangsung, Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon entah kapan jatuhnya di kalender Masehi, bahkan semedi rutin “kecil-kecilan” di malam Selasa juga sudah lewat beberapa jam. Tapi jadi janji kecil untuk datang lagi di hari lain… berbekal kalender Jawa.

*Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 29 Maret 2009*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s