Kangean yang Bebas Pulsa

kangean 086
Pantai di salah satu pulau di Kepulauan Kangean. Foto: Silvia Galikano

Padatnya penumpang dan barang dagangan di feri untuk mencapai Kangean, cukup sebagai gambaran dinamisnya kepulauan ini.

Oleh Silvia Galikano

Pergi ke tempat yang belum dikenal sebagai tempat wisata dan hampir tak punya panduan kuat akibat minimnya informasi dari internet, maka tak ada cara lain selain menerapkan konsep trial and error. Semua titik didatangi, dan dari semua itu, pilih lokasi yang lumayan bagus hingga yang sangat bagus. Coret tempat yang ngga bagus-bagus amat, atau tandai tempat yang bagus bagi kelompok tertentu tapi tak disukai kelompok lain.

kangean 124
Pelabuhan Batu Guluk di Arjasa, Pulau Kangean. Foto: Silvia Galikano

Itu yang kami lakukan ketika ke Kepulauan Kangean, akhir Mei 2009. Melakukan survei untuk lokasi wisata bahari. Pasalnya Kangean bukan tujuan wisata yang umum bagi masyarakat, kecuali beberapa penyelenggara selam di Bali yang menjadikan perairan kepulauan ini sebagai lokasi selam.

Kepulauan Kangean berada di sebelah utara Bali (kira-kira 121 kilometer), sebelah timur Madura (100 kilometer), dan secara administratif masuk dalam Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur. Terdiri lebih dari 60 pulau kecil dengan luas total 487 kilometer persegi. Pulau Kangean adalah pulau terbesarnya, seluas 188 kilometer persegi.

Butuh sembilan hingga sepuluh jam untuk menyeberang dari Kalianget Madura ke Pelabuhan Batu Guluk di bagian paling barat Pulau Kangean, menggunakan feri penumpang. Feri yang tersedia hanya tiga, yakni Sumekar I dan Sumekar II yang beroperasi dua hari sekali, serta Perintis yang datang sekali sepekan.

Kepulauan Kangean terbagi menjadi tiga kecamatan, yakni Arjasa di Kangean Barat dan Kangayan di Kangean Timur, serta Kecamatan Sapeken yang melingkupi pulau-pulau kecil di timur Pulau Kangean.

kangean 026
Jati milik Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Foto: Silvia Galikano

Kantor polisi hanya ada tiga, di masing-masing kecamatan, dan bisa dibilang tak ada polisi berpatroli di jalan raya Kangean yang hanya selebar 3 meter. Akibatnya sepeda-sepeda motor tanpa pelat nomor bebas saja berlalu lalang. Jangan tanya urusan SIM dan STNK ke pengendaranya. “Di sini daerah ‘bebas pulsa’,” kata Simon, pemandu lokal kami, mengistilahkan bebasnya sepeda motor tanpa surat keliaran di jalan.

Walau masuk Kabupaten Sumenep, ternyata Bahasa Kangean berbeda dengan bahasa Madura. Misalnya kata “berapa” dalam bahasa Madura disebut “berempa“, sedangkan dalam bahasa Kangean “sarapa“, meski begitu, kuping Jakarta pasti tak bisa membedakan, karena dialek keduanya mirip. Besarnya pendatang asal Bugis, Mandar, dan Bajo yang sudah beranak pinak, bisa jadi penyumbang budaya bahasa di sini.

Dari ujung barat, kami menempuh jalan darat ke ujung timur Pulau Kangean. Melewati hutan jati milik Perum Perhutani Unit II Jawa Timur serta kebun jagung, kebun sayur, dan sawah milik masyarakat. Juga menyedot perhatian adalah cantik klasiknya Rumah Sapeken yang tetap banyak di sini, di antara rumah-rumah tembok yang baru dibangun.

 

Rumah Sapeken adalah rumah tradisional Kangean. Di salah satu gugusan Kepulauan Kangean ada juga pulau yang bernama Sapeken, tapi entah apa hubungan nama rumah dengan nama pulau ini. Rumah Sapeken berdinding papan jati. Di sebagian besar rumah, atapnya bertepi kayu yang menyilang di ujung pertemuan dua sisi atap (bumbungan), seperti rumah adat Bugis, Balla Lompo.

Setelah tiga-empat Rumah Sapeken dilewati, kami berhenti di sebuah rumah sederhana. Sepasang kakek-nenek usia 70-an yang tinggal di sini. Bapak dan Ibu Atwa yang tinggal berdua, ditemani seekor kucing abu-abu. Lima anak mereka masing-masing membuat rumah sendiri tak jauh dari rumah orangtuanya. Ibu Atwa buta bahasa Indonesia. Menantunya, Pak Supriyadi, yang memberi penjelasan perihal rumah ini.

 

Ruang tamu rumah Bu Atwa ini kira-kira seperempat luas rumah, beralaskan tanah. Hanya diisi amben, dua buah kursi, dan satu meja. Semuanya terkumpul di bagian kanan pintu masuk yang berada tepat di tengah-tengah. Ruang di bagian kiri pintu masuk tidak diisi perabotan karena di sinilah terdapat pintu menuju bagian dalam rumah. Kedua pintu itu tidak berada segaris.

Untuk masuk ke bagian dalam rumah, kita harus menaiki dua anak tangga lumayan lebar. Bagian dalam yang terbagi menjadi ruang tidur dan dapur itu berupa rumah panggung setinggi pinggang, beralas bilah bambu. Berderit setiap kali diinjak. Bu Atwa tak tahu kapan rumah ini dibuat, karena dibeli dari orang lain dalam kondisi sudah lama tidak dihuni.

Perjalanan berlanjut, dan ketika setengah perjalanan dilewati, sekali lagi kami melewati hutan jati, di Desa Kayuaro. Rata-rata pohon jati berdiameter 50 sentimeter. Usianya tak sampai lima tahun. Sebagian besar sudah kering meranggas. Bukan kering karena musim panas, tapi pohon jati sengaja dikeringkan selama satu bulan untuk mengurangi kadar air di kayunya, sehingga didapat kayu berkualitas baik dan ringan.

 

“Pangkal pohonnya di-peret supaya pohonnya mati. Kalau sudah kering, baru ditebang,” kata Simon. Peret adalah melukai pohon jati menggunakan kapak dengan cara ditebaskan ke sekeliling pokok pohon sedalam kira-kira 5 hingga 10 sentimeter. Dengan begini pohon akan mati, dan ketika seluruh bagian pohon sudah kering baru ditebang. Kayu jati hasil bumi Kangean ini nanti diangkut perahu untuk dibawa ke Sumenep.

Di kawasan hutan jati ini tersimpan mata air yang dinamakan Olbak yang melebar hingga ke pantai. Olbak dikelilingi pohon-pohon bakau besar dan rindang. Sejuk. Dahan bakau tempat burung gagak hinggap, bersahut-sahutan dengan suara serak. Akar bakau yang besar bisa dijadikan tempat duduk, sambil menjulurkan kaki ke dalam air. Suasana yang tak terbeli.

Tak bisa lebih lama lagi di Olbak. Hari mulai tinggi. Banyak persiapan harus dilakukan sebelum berlayar ke pulau-pulau kecil Kangean yang ulasannya ada di Laut Kangean Dua Hari.

***
Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 28 Juni 2009

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s