Laut Kangean Dua Hari

kangean 077
Pantai di Kepulauan Kangean. Foto: Silvia Galikano

 

Lanjutan dari Kangean yang Bebas Pulsa

Hampir tengah hari di Pulau Kangean, Mei lalu. Saatnya mengangkut perbekalan ke perahu, dan berlayar ke pulau-pulau kecilnya.

Oleh Silvia Galikano

Inilah yang namanya survei. Semua masih mencari-cari. Satu per satu disinggahi guna mendapat lokasi tepat untuk snorkeling, menyelam, serta mencari pulau cantik untuk disinggahi. Semua pulau kecil yang akan disurvei itu berada di sebelah timur pulau Kangean.

Kangean adalah nama pulau-pulau di ujung timur Madura sekaligus nama satu pulau terbesarnya. Secara administratif, Kepulauan Kangean masuk dalam Kabupaten Sumenep Madura. Selain orang asli Kangean, kepulauan ini juga dihuni pendatang dari Madura dan Sulawesi Selatan (suku Bugis, Mandar, Bajo).

kangean 039
Menyiapkan perbekalan. Foto: Silvia Galikano

Waktu yang tersedia untuk survei hanya dua hari, masing-masing dari pagi hingga petang, dan itu mustahil menjelajahi 60-an pulau di sini. Dibantu Simon yang jadi pemandu lokal dan dua orang anak buah kapal (ABK), perahu bermotor kami melayari perairan yang menghubungkan satu pulau ke satu pulau lainnya.

Ada kalanya yang dijumpai adalah gosong, yakni pulau kecil tak berpenghuni dan tak ditumbuhi pohon. Hanya pasir. Kala lain, pulau lumayan lebar, tapi hanya berisi bakau yang tumbuh rapat. Terlihat monyet bermain di pantai, di antara akar bakau. Sepertinya rumah yang nyaman bagi buaya walau siang itu tak nampak seekor pun. Burung banyak terlihat di pucuk bakau, entah apa jenisnya.

Perhentian pertama adalah perairan Pulau Satabo. Dari atas perahu, air yang bening memungkinkan terlihatnya terumbu karang di dasar laut. Pantainya juga tampak bagus. Maka rencana pertama adalah snorkeling untuk melihat terumbu karang, dan terus berenang untuk mencapai daratannya.

kangean 058Tapi ternyata rencana tinggal rencana. Perairan terlalu dangkal. Mungkin juga karena siang itu laut mulai surut. Perahu kandas, tak bisa mendekat ke pulau. Terumbu karang banyak yang rusak, bulu babi (sea urchin) di mana-mana, seekor bahkan menancapkan tujuh durinya di perut saya. Lengkap sudah syarat untuk mencoret Pulau Satabo dari spot snorkeling.

Duri bulu babi demikian rapuh, tak bisa dicabut tangan, sehingga tetap tinggal di dalam kulit. Setelah disiram air panas sebagai langkah darurat mematikan racunnya (bisa juga dengan urin), kami putar haluan menuju Pulau Sapeken untuk menemui mantri, Pak Said. Sengatan bulu babi memang harus segera ditangani agar tak menyebabkan demam.

Pulau Sapeken adalah ibukota Kecamatan Sapeken yang membawahi pulau-pulau kecil sebelah timur Kangean. Merupakan pulau terpadat dibanding pulau-pulau lain di Kepulauan Kangean. Merapat di dermaganya, akan langsung menjumpai pasar dan rumah penduduk yang padat. Jalan rayanya hanya selebar 2 meter. Ke Sapeken-lah penduduk pulau-pulau lain berbelanja. “Sapeken punya julukan Surabaya Kecil, karena ramai dan padat sekali,” kata Simon.

kangean 047
Shalat, tak lupa. Foto: Silvia Galikano

Di sini, kami sempat mengenal Sulaiman, lelaki berusia 20 tahunan yang punya panggilan Otong di tengah rekan-rekannya sesama nelayan karena kulitnya gelap. Dia berasal dari Karimunjawa. Delapan tahun terakhir bekerja di Kepulauan Kangean, membawa kapal milik orang lain. Otong berolok-olok seru dengan Simon dalam bahasa Kangean yang tak kami mengerti.

Di Pulau Sapeken banyak berdiri rumah khas Sulawesi Selatan yang disebut masyarakat sebagai Rumah Panggung. Yang unik, Rumah Panggung ini tidak tinggi, hanya 2 meter. Akibatnya, jendela-jendela dan pintu dibuat mungil-mungil untuk menyesuaikan dengan tinggi rumah. Orang yang hendak melewati pintu jadi harus merunduk.

Survei hari kedua, perahu buang jangkar di perairan Pulau Saular. Kami jumpai terumbu karang yang masih muda, sehingga butuh kira-kira15 tahun lagi untuk tumbuh besar dan indah. Menurut Simon, kawasan ini dulu tempat nelayan menangkap ikan kecil warna-warni dengan menggunakan bom, yang efeknya menghancurkan terumbu karang. Ikan hias itu kemudian dijual ke Jepang. Kegiatan itu sekarang sudah dilarang.

kangean 100
Salah satu pulau di Kepulauan Kngean. Foto: Silvia Galikano

Di perairan ini juga tumbuh subur padang lamun (sea grass), yakni rumput setinggi 100 sentimeter tumbuh di dasar laut, yang membuat pemandangan bawah air jadi tak menarik. Berarti Saular juga dicoret.

Perahu bergerak lagi. Sampai di perairan Pulau Sadulang Besar yang terumbu karangnya juga baru tumbuh. Umurnya kira-kira 5 tahun. Sejarak 1 kilometer dari Sadulang Besar terdapat Pulau Sadulang Kecil. Di perairan antara dua pulau inilah terumbu karangnya lumayan bagus. Ada karang biru (blue coral), karang meja (Acropora) berdiameter 1 meter, juga ikan-ikan kecil warna-warni. Di perairan ini seorang ABK menemukan seekor kima (tridacna), lokan besar yang merupakan hidangan mahal di restoran yang menyediakan masakan Prancis.

Setelah dari hari pertama melulu snorkeling, baru kali ini terjumpai pulau yang pantainya indah dan sangat mengundang untuk disinggahi. Pulau Saibus. Pasir pantainya putih, didominasi vegetasi cemara, di salah satu sisi pulau ada karang raksasa, di sisi lainnya pohon-pohon roboh yang sudah mati dan terkelupas kulitnya menjadikannya obyek foto serta latar belakang foto yang sangat cantik.

Ternyata, sedari kemarin, alam ingin bermain-main dulu. Dia simpan spot tercantik untuk penutup perjalanan ketika matahari mulai meluncur ke barat. Di perairan antara Pulau Saur dan Pulau Paliat, hidup subur terumbu karang terindah dari semua perairan yang telah kami singgahi. Usianya sudah tua, bercabang-cabang cantik. Padang lamun tak sebanyak di perairan yang lain, bulu babi hanya beberapa, ikan lebih beragam. Airnya bening terlihat dari atas perahu. Ogah nyemplung? Rugi dong, ah.

***
Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 5 Juli 2009

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s