Plang Salon di Suatu Masa

kecil cirebon (68) pembesaran
Keriting model terbaru. (Foto: Silvia Galikano)

Dapatkah dibayangkan, bagaimana elitenya salon di kota kecil, di tahun 1960-an?

Oleh Silvia Galikano

Di ujung Jalan Siliwangi yang hendak membelok ke Jalan Veteran Cirebon ada plang salon yang menarik perhatian pelintas. Tulisannya MAHKOTA Keriting Rambut dengan Model Terbaru. Di samping tulisan itu ada gambar perempuan sebatas bahu, tampak samping, dengan rambut bergelombang cantik.

kecil cirebon (68) nyebrang
Salon di ujung jalan. (Foto: Silvia Galikano)

Tak kan jadi demikian menyedot perhatian jika plang berhuruf timbul dari semen itu adalah plang baru yang umum dijumpai. Tapi ini plang jadul, dengan siluet perempuan di tahun 1960-an. Seperti melihat katalog baju di era Sofia Loren.

Baca juga Dua Keraton Cirebon di Tengah Impitan Dua Budaya Besar

Sebidang tanah di sudut jalan ini dalam kondisi tertutup seng, dua per tiga tinggi bangunan. Jadi yang terlihat hanya plang salon, tak terlihat utuh bentuk bangunan yang nampaknya sedang dalam proses diratakan dengan tanah.

Tak jauh dari situ, kira-kira 20 meter, yakni di Jalan Siliwangi 165, berdiri toko kelontong dengan nama sama, Mahkota, namun yang terpasang di dinding depannya adalah plang nama salon. Plang ini terbuat dari seng, gambarnya perempuan juga tapi sudah di era 1970/1980-an, sedangkan tulisannya persis dengan yang ada di bangunan ujung jalan itu: MAHKOTA Keriting Rambut dengan Model Terbaru.

kecil cirebon (70)
Plang salon yang lebih baru, tak jauh dari tempat pertama. (Foto: Silvia Galikano)

Plang berwarna biru ini sudah pudar catnya, dan terkelupas di sana-sini. Samar-sama terbaca tulisan di bagian paling bawah, Jalan Kedjaksan 149 Tjirebon, alamat salon di ujung jalan sebelum nama jalannya berubah jadi Jalan Siliwangi.

Kawasan ini masuk dalam Kelurahan Kejaksan, Kecamatan Kejaksan. Di ujung jalan juga ada alun-alun yang bernama Alun-alun Kejaksan, berseberangan dengan rumah dinas bupati.

Baca juga Mencari Air di Taman Air Sunyaragi

Salon Mahkota didirikan tahun 1961, di gedung sewaan milik Haji Nurdin. Tanah di ujung jalan ini dibagi menjadi lima kapling, yakni satu kapling untuk salon, satu kapling untuk toko rokok, satu kapling untuk toko besi, dan dua lagi dijadikan rumah tinggal. Salon itu dulu dikelola Tati Rohaeni (almh., kelahiran tahun 1942) dan ibunya, Ny. Mulyana (almh., kelahiran tahun 1919).

Linda, 54 tahun, adik Tati, yang sekarang mengelola toko kelontong Mahkota, menjelaskan ketika saya temui, pertengahan Juni 2009. Tati saat itu berusia 18 tahun, baru lulus SMA, dan belum tahu hendak apa selulus SMA. Sang kakak ini kerap ke luar rumah, berkumpul dengan teman-temannya. “Bapak saya khawatir, anak gadisnya sering keluar rumah, jadi bapak menawarkan kursus salon saja.”

kecil cirebon (72)
Plang salon yang lebih baru. (Foto: Silvia Galikano)

Pilihan jatuh pada Salon Mahkota di Surabaya sebagai tempat kursus. Lama kursus tiga bulan, dan Tati akan menyewa kamar yang memang disediakan pemilik salon bagi siswa dari luar kota. Rencananya, Tati akan diantar ibunya hingga sampai di tempat tujuan.

Tapi rencana mendadak berubah. Ny. Mulyana tak hanya mengantar Tati, tapi juga ikut kursus. Sekali sebulan Ny. Mulyana pulang ke Cirebon menengok suami dan dua putrinya yang lain, sedangkan Tati tetap di Surabaya.

Baca juga Dua Rumah Ibadah di Satu Masa

Setamat kursus, pada tahun 1961, Tati dan Ny. Mulyana membuka salon di pojok Jalan Kedjaksan Cirebon dengan nama Salon Mahkota, mengambil nama salon tempat mereka berguru di Surabaya. Tagline Keriting Rambut dengan Model Terbaru dipilih karena salon Mahkota menyediakan teknik mengeriting rambut terbaru kala itu, yakni menggunakan batangan besi panas sebagai alat keriting, disebut teknik keriting panas. Prosesnya bisa butuh satu setengah jam.

kecil dah
Tati Rohaeni, pemilik Salon Mahkota. (Foto: Silvia Galikano)

Salon ini awalnya hanya untuk perempuan, tapi kemudian untuk laki-laki juga. Melayani cuci-blow, potong, dan mengeriting rambut. Sebagai kenang-kenangan, peralatan salon zaman baheula itu sampai sekarang masih disimpan Linda.

Sambil menjalankan salon, keluarganya membuka toko kelontong di lokasi yang sama. Ternyata toko kelontong lebih berkembang dibanding salon. “Apalagi salon-salon juga mulai bermunculan di Cirebon. Maka diputuskan untuk menutup salon dan hanya menjalankan usaha toko kelontong,” ujar Linda.

kecil pigura
Studio foto “Tiek Sen” tertulis di ujung pigura. (Foto: Silvia Galikano)

Walau fokus usaha pada toko kelontong namun plang salon Mahkota tetap dipertahankan karena nama Mahkota sudah melekat pada tempat ini, baik sebagai salon maupun sebagai toko kelontong, sekaligus sebagai pengingat bahwa dulunya di sini pernah berdiri salon kondang di Cirebon.

Jika sebelumnya cerita tentang salon yang berakhir jadi toko kelontong, maka beda lagi dengan cerita tanah tempat awal berdirinya salon hingga harus pindah dan menyebabkan plang salon Mahkota jadi tertemui di dua lokasi.

Cerita Linda, harga sewa tempat ke Haji Nurdin, tahun 1961, adalah Rp100 (seratus rupiah) per tahun. Setelah beberapa tahun, harganya naik jadi Rp1.500, lantas jadi Rp3.000.

Baca juga Ziarah Sang Menteri

Permasalahan timbul ketika di tahun 1975, tanah itu dijual Haji Nurdin ke PT Morning, tindakan yang mengecewakan para penyewa. “Kami menyewa tempat itu kan sudah lama, seharusnya tanah itu ditawarkan dulu ke kami. Kalau memang dijual ke orang lain, kami berhak atas 40 persen hasilnya,” kata Linda.

kecil cirebon (73)
“Mahkota” dipertahankan sebagai nama toko kelontong. (Foto: Silvia Galikano)

Permintaan tak digubris, setahun kemudian, pemilik baru malah menaikkan harga sewa jadi Rp9.000 per tahun yang menyebabkan pembayaran jadi seret karena harga tersebut dianggap terlalu mahal. Mulai tahun 1997, para penyewa malah berhenti membayar sewa.

Di tengah suasana panas antara pemilik tanah dan penyewa, di tahun 1987, Ny. Mulyana membeli tanah tak jauh dari lokasi salon/toko, yakni Jalan Siliwangi 165, namun dibiarkan kosong sambil menunggu sengketa tanah berakhir.

Sengketa tanah dibawa ke meja hijau, pengadilan memenangkan pemilik tanah. Penyewa juga kalah di tingkat kasasi di Mahkamah Agung, dan kalah lagi di tingkat peninjauan kembali (PK). Di tahun 2002, penyewaan kawasan ini dihentikan oleh pemilik tanah karena akan diratakan dengan tanah untuk dibangun pertokoan modern. Para penyewa harus angkat kaki dengan diberi uang pindah Rp5 juta.

Sebidang tanah yang sebelumnya dibeli Ny. Mulyana dan dibiarkan kosong selama 11 tahun, di tahun 1998 barulah dibangun toko. Toko Mahkota dipindahkan ke lokasi baru ini yang bertahan hingga sekarang. Ada tiga lantai. Lantai 1 dijadikan toko kelontong, sedangkan lantai 2 dan 3 untuk tempat tinggal. Keluarga Linda dan keluarga adiknya, Herawati, 49 tahun, tinggal di sini.

Kata Linda tentang bangunan di ujung jalan, “Kalau lihat di balik pagar seng itu, sudah hancur semua bagian dalamnya. Dinding yang menghadap jalan saja yang masih berdiri.” Dinding tempat menempel tulisan MAHKOTA Keriting Rambut dengan Model Terbaru dengan siluet perempuan yang rambutnya gaya Sofia Loren.

***
Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 9 Agustus 2009

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s