Bertonggak Taksu

 

gunung batur
Gunung Batur di Kec. Kintamani, Kab. Bangli, Bali. Foto: Silvia Galikano

Konsep spiritual marketing yang baru dikenal para marketer abad ini, ternyata sudah sangat diakrabi Raja Ubud sejak tahun 1920-an.

 

Oleh Silvia Galikano
Ubud tak bisa disamakan dengan tempat-tempat lain di Bali. Taruhlah sebagai pembanding, dua obyek wisata utama, Kuta dan Nusadua. Kuta berkesan physically wild dan Nusadua professionally peaceful, sedangkan Ubud naturally spiritual. Ibarat bawang, lapisan luarnya adalah Kuta dan Nusadua, dan lapisan terdalamnya adalah Ubud. Ubud adalah intisari Bali, yang hangat, ramah, otentik, dan punya “roh”. Kekuatan tak terlihat yang membuat Ubud demikian berbeda. Taksu, orang Bali menyebutnya. Taksu yang membuat siapa saja yang datang merasa terbarukan kembali.

IMG_20160729_205712 kecil
Ubud: The Spirit of Bali. Foto: Silvia Galikano

Dengan pendekatan berbeda, Hermawan Kartajaya dan Bembi Dwi Indrio M menulis tentang Ubud di buku Ubud: The Spirit of Bali. Tak semata-mata menyodorkan tempat wisata bagi wisatawan grasa-grusu yang menclok sebentar di Restoran Bebek Bengil, lantas terburu-buru belanja perak di Celuk, datang ke pura untuk berfoto, dan kembali lagi ke Denpasar. Hermawan menggelitik dan memancing kita untuk datang dan menikmati Ubud, datang “hanya untuk Ubud”, menikmati setiap jengkalnya. Cuma dengan cara inilah taksu Ubud bisa dirasakan.

Soft-launch buku Ubud: The Spirit of Bali diadakan di Puri Saren Agung, Ubud, Bali, Sabtu (5/9). Tiga pangeran jadi tuan rumah, yaitu Tjokorda Gde Putra Artha Astawa Sukawati (Tjok Putra), Tjokorda Gde Oka Artha Ardana Sukawati (Tjok Ace), dan Tjokorda Gde Raka Artha Sedana Sukawati (Tjok ‘De).

Tjok Ace yang juga Bupati Gianyar berujar bahwa Ubud sedang mengalami lompatan dari sektor pertanian ke sektor wisata, karenanya terjadi transformasi budaya di berbagai tempat. Sektor wisata diharapkan semakin membuat masyarakat sejahtera. “Di sini tidak ada perusahaan asing agar nilai-nilai masyarakat Bali bisa kami jaga. ‘Roh’ Ubud yang disebut taksu, bisa dipertahankan. Buku ini adalah hadiah bagi Ubud dan bagi Gianyar,” kata Tjok Ace.

Untitled-2Ubud adalah nama kelurahan dan kecamatan di Kabupaten Gianyar. Luas Kecamatan Ubud 42,38 kilometer persegi, sedangkan luas Kelurahan Ubud 7,32 kilometer persegi. “Ubud” yang disebut di buku ini merujuk pada kelurahan, intinya Bali. Ubud berasal dari kata ubad yang berarti obat. Letak Ubud di pertemuan dua sungai Oos (disebut juga Campuhan), yakni Oos Kiwa dan Oos Tengen, yang dianggap sakral. Karena itulah Ubud diidentikkan dengan kesehatan dan penyembuhan.

Hampir setiap hari upacara keagamaan dapat dijumpai. Masyarakatnya masih mempertahankan tradisi. Untuk sehari-hari, pria mengenakan ikat kepala yang disebut udeng, baju lengan pendek, dan sarung. Untuk upacara, bertambah satu lagi, yakni tukad (kain yang menutupi bagian atas sarung). Para perempuan berkebaya, mengenakan kain panjang, dan rambut mereka disanggul.

ubud bali 132
Salah satu bale di Puri Saren Ubud. Foto: Silvia Galikano

Tak terbilang tempat menarik di Ubud. Kilometer nol-nya adalah Puri Saren Agung Ubud yang sering disebut Puri Ubud, tempat tinggal para raja Ubud dan keluarganya. Raja terakhir Ubud adalah Tjokorda Gde Agung Sukawati (1910—1978). Halaman puri merupakan tempat ditampilkannya pergelaran seni setiap malam.

Ubud juga tempat sejumlah museum dan galeri berdiri, seperti Galeri Rio Helmi, rumah I Gusti Nyoman Lempad yang merupakan salah satu maestro seni asal Bali, Museum Puri Lukisan, Museum Blanco, Museum Neka, dan Museum ARMA. Berderet-deret tempat makan dengan pelanggan fanatik. Warung Babi Guling Ibu Oka, Bumbu Bali, Terazo, Ary’s Warung, Casa Luna, Café Lotus, Warung Murni, Café Wayan, dan Restoran Bebek Bengil untuk menyebut beberapa.

Hotel, ah, Ubud adalah surga bagi tamu hotel. Hotel berdiri di perbukitan, di sepanjang tepian sungai Oos dan sungai Ayung, langit bersih tanpa polusi, udara sejuk, pagi dan petang berkabut, sajian pemandangan bukit hijau dari jendela kamar. Di sini ada Hotel Ibah, Hotel Tjampuhan, Hotel Pita Maha, Hotel The Royal Pita Maha, Kupu-kupu Barong, dan Alila Ubud berikut kekhasan masing-masing.

ubud bali 179
Tjokorda Gde Agung Sukawati. Repro: Silvia Galikano

Hotel Tjampuhan yang berada di sebelah Pura Gunung Lebah, salah satu pura tertua di Bali, dulunya tempat tinggal pelukis terkenal asal Jerman, Walter Spies. The Royal Pita Maha memiliki fasilitas convention center yang luas, kolam renang Hotel Alila Ubud terpilih sebagai satu dari 50 Most Spectacular Pools in the World oleh majalah Travel + Leisure.

Untuk melindungi taksu Ubud, beberapa aktivitas yang umum dijumpai di daerah wisata, tak ada di Ubud. Tak ada klub malam, tak ada bioskop, dan semua restoran serta kafe tutup sekitar pukul 11 malam. Langkah ini untuk mencegah masyarakat terjerumus hanya dalam urusan duniawi, dan agar tetangga sekitar tidak terganggu dengan bisingnya musik dari klub malam.

Tak juga dijumpai restoran cepat saji atau gerai minuman global di Ubud, seperti KFC, McDonald’s, atau Starbucks, karena produk-produknya dianggap tidak sejalan dengan nilai yang dianut masyarakat Ubud. Selain akan mengurangi pelanggan restoran milik masyarakat lokal, jaringan restoran global itu akan menghasilkan banyak material, seperti kantong plastik dan gelas plastik, yang berdampak buruk bagi lingkungan. Karena alasan-alasan tersebut pemerintah daerah setempat tidak memberi izin berdirinya jaringan restoran dan gerai minuman global tersebut.

ubud bali 056
Odalan di Ubud. Perempuan bertugas merangkai janur. Foto: Silvia Galikano

Mal modern juga tidak diizinkan berdiri karena akan mengganggu sistem ekonomi dan hubungan antarpersonal di masyarakat. Barang-barang yang dijual di pusat perbelanjaan modern umumnya berasal dari produsen skala besar, bukan dari masyarakat, karenanya tidak akan memberi keuntungan bagi penduduk Ubud. Di pusat perbelanjaan modern juga hampir tidak ditemui proses tawar menawar antara penjual dan pembeli, padahal ini bentuk normal interaksi sosial masyarakat tradisional di sini.

Dengan segala pembatasan ini, apakah menghalangi wisatawan datang ke Ubud? Sama sekali tidak. Justru banyak yang datang karena bosan dengan menu restoran cepat saji dan megahnya mal, mereka merindukan tempat yang belum tercemar dan masih mempertahankan keaslian.

Taksu berkembang karena lingkungan di Ubud menganut tiga filosofi hidup yang disebut Tri Hita Karana, yakni hubungan harmonis antara manusia dan Tuhan, manusia dan lingkungan alam, dan manusia dengan manusia. Filosofi yang dianut kuat untuk semua aktivitas. Tri Hita Karana telah diterapkan secara konsisten dalam hidup keseharian selama berabad-abad.

ubud bali 046
Odalan di Ubud. Laki-laki, yang bertugas memasak, sedang beristirahat. Foto: Silvia Galikano

Berkat taksu, Ubud telah mempesona seniman kelas dunia di masa lalu, seperti Walter Spies, Rudolf Bonnet, Antonio Blanco, Arie Smit, Han Snel, Colin McPhee. Di masa sekarang, tak hanya seniman yang tertarik datang, tapi juga mereka dari beragam profesi, seperti Janet DeNeefe (pemilik restoran Indus dan Casa Luna, insiator Ubud Writers & Readers Festival), Chris Salans (koki dan pemilik restoran Mozaic), Victor Mason (ornithologist), Rucina Ballinger (etnografer tari dan penulis), Megan Pappenheim (co-founder Bali Spirit Festival), juga Rio Helmi (fotografer).

Buku yang sekarang sedang hangat dibicarakan dan masuk dalam New York Times best seller, Eat Pray, Love: One Woman’s Search for Everything karya Elizabeth Gilbert, juga mengambil latar belakang Ubud. Cerita yang diambil dari kisah nyata penulisnya ini akan difilmkan. Julia Roberts dan Javier Bardem jadi pemeran utama.

Antonio Blanco, asal Spanyol, adalah salah satu pelukis yang membuat Ubud terkenal. Dia mendarat di Singaraja pada tahun 1952, namun kecewa karena tak menemukan “surga” di Singaraja karena ketika itu kotanya kotor. Raja Ubud Tjokorda Gde Agung Sukawati kemudian mengundang Blanco untuk datang ke Ubud, bahkan memberinya tanah 2 hektare di Ubud.

Karena demikian akrab, keluarga Puri menganggap Blanco tak lagi sebagai orang asing, melainkan sebagai orang Bali. Ketika dia meninggal pada tahun 1999, keluarga Puri mengizinkan jenazah Blanco di-pelebon, meski dia penganut Katholik. Rumah tinggalnya sekarang difungsikan juga sebagai Museum Blanco, atau nama lengkapnya Museum Blanco Renaissance.


Ubud didirikan oleh Rsi Markandya, seorang pendeta Hindu India yang datang ke Nusantara sekitar abad ke-11. Dia memberi nama tempat-tempat yang disinggahi di Ubud, seperti Sungai Oos Kiwa (kiri) dan Oos Tengen (kanan) dan bergabung menjadi Sungai Oos, Sungai Ayung, Desa Puwakan, Desa Payogan, Desa Taro, Desa Kedewatan, dan Pura Gunung Lebah.

Jika Rsi Markandya memegang peran penting dalam kelahiran Ubud, maka raja-raja dan keluarga Puri Ubud berperan dalam mempertahankan dan mengembangkan nilai spiritual dan budaya setempat. Di awal abad ke-20, Puri Ubud secara aktif membuka diri pada budaya luar yang sejalan dengan nilai-nilai masyarakat, dengan cara menerima seniman Barat.

Keluarga Puri Ubud sekarang bergerak di berbagai bidang. Drs Tjokorda Gde Putra Artha Astawa Sukawati (Tjok Putra) adalah Pengglisir (kepala keluarga Puri Ubud), Kepala Museum Puri Lukisan, Kepala Badan Penasihat Badan Promosi Pariwisata Bali, Kepala Dewan Komunitas Ubud, dan Presiden Direktur Pita Maha Hotel Group (Hotel Tjampuhan, Hotel Pita Maha, dan Hotel Royal Pita Maha) di Ubud.

DR Ir Tjokorda Gde Oka Artha Ardana Sukawati MSi (Tjok Ace) adalah Bupati Gianyar dan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) cabang Bali, dan dosen arsitektur di Universitas Udayana. Dia mendapat gelar doktor cum laude pada September 2008 dalam Studi Budaya Universitas Udayana. Sebelum jadi bupati, Tjok Ace adalah Deputi Presiden Direktur Pita Maha Hotel Group.

Drs Tjokorda Gde Raka Artha Sedana Sukawati MM (Tjok ‘De) adalah Managing Director Pita Maha Hotel Group, Wakil Bendesa (komunitas tradisional), serta dosen jurusan Marketing di Universitas Udayana.

Tiga pangeran inilah yang melanjutkan usaha ayahnya, raja terakhir Ubud, jadi pelindung dan penyokong masyarakat, agar budaya dan tradisinya tetap terjaga. Agar Puri Ubud tak sekadar jadi monumen bersejarah atau simbol budaya. Ubud tetap mengikuti perubahan tanpa kehilangan karakter pentingnya, spirit yang tak dijumpai di tempat lain. Taksu yang meninggalkan kesan mendalam bagi banyak orang. Kehidupan spiritual yang inheren dalam aktivitas budaya dan sosial sebagai elemen pembentuk “DNA Ubud”.

***
Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 13 September 2009

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s