Menjadi Tua


Ketika menjadi tua bukan pilihan, tinggal bagaimana menyiasati ketuaan itu agar tak bikin gerah dan bikin sepat mata orang lain. Keinginanku nanti kalau sudah sepuh, bisa terus bikin sesuatu, melakukan kegiatan yang kusuka. Walau bukan jaminan akan membahagiakan banyak orang, paling tidak, orang lain tetap nyaman.

Inspirasiku adalah adik dari neneknya Syanti. Syanti adalah teman kuliah. Dia memanggil adik neneknya itu dengan sebutan “Mama”. Kami ikut memanggilnya Mama, sebagaimana anak-anaknya, kerabatnya, juga tetangganya. Aku hanya dua kali ke rumahnya, saat kuliah, sekali bermalam. Usia Mama ketika itu, kuperkirakan, di akhir 60-an tahun. Aku tak ingat berapa jumlah anaknya, tapi pasti lebih dari tiga.

Mama bermukim di Cipanas, dekat kantor polisi, persis di tepi Jalan Raya Puncak. Rumahnya adalah rumah lama yang berdinding tebal, halamannya ramai oleh tanaman rendah yang dia pelihara hati-hati—tak ada pohon besar, dan berpagar tanaman yang dipotong rapi. Di ruang tamu diletakkan pohon kuping gajah yang ditanam dalam pot. Interior rumah berisi macam-macam kreasi sederhana yang dulu di sekolah dasar kupelajari dalam pelajaran Prakarya. Yang masih kuingat, dinding ruang makan berhias tampian macam-macam ukuran yang ditempeli perca kain membentuk motif bunga.

Mama bersuara berat. Dia perokok berat. Rambutnya tak pendek, tak panjang, tapi terlalu pendek untuk diikat. Syal selalu tersampir di pundaknya. Aku yakin syal itu hasil rajutan sendiri. Mama selalu dalam keadaan rapi, bahkan saat di dapur, di antara asap minyak goreng. Setiap selesai mandi, dandanan dilengkapi lipstik warna tembaga. Aku tak ingat kapan Mama terlihat klomprot.

Dari dua kali aku ke sana, selalu ada tamu lain di rumah itu. Mama dan keluarga sepertinya terbiasa didatangi tamu. Tak rikuh. Tamu juga merasa nyaman di rumah itu, seperti berada di rumah sendiri. Sama-sama tak rikuh. Tamu tidak selalu didudukkan di ruang tamu. Pilih saja ingin ngobrol di mana. Bisa sambil menemani suami Mama ngoprek mobil, atau nimbrung di dapur bersama Mama, membantu menggoreng kerupuk. Kadang juga para tamu ini yang menguasai dapur, Mama minggir, ngobrol saja.

Siang itu, kami makan di ruang makan yang berisi seperangkat meja makan dan amben. Aku duduk di amben. Menunya nasi putih, lalap, sambal terasi, dan ikan goreng. Nikmehhh….

Mama bukan orang banyak omong, bukan juga pelit suara. Dia tahu kapan harus bicara, kapan harus diam. Hasil nguping omongannya, pemikiran Mama tak muluk-muluk. Selama sesuatu itu halal dan tak merugikan orang lain, kerjakan. Titik. Itu mungkin yang bikin dia selalu tampak segar, tanpa beban, dan orang lain nyaman di dekatnya. Aku ingin saat tua nanti seperti Mama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s