Vietnam yang Bukan Film Rambo

Di metropolitan Hanoi dan Ho Chi Minh, hal tradisional tetap ditemui.


Berkesempatan berada di negara tetangga tak mungkin untuk tidak membanding-bandingkan apa yang ada di Indonesia dan apa yang ada di sebelah. Bagaimana kehidupan kota besarnya, bagaimana cara masyarakat merawat kota kecilnya, bagaimana cara pemerintah melayani rakyatnya, dan tentu saja makanannya.

Umur Vietnam sama dengan Indonesia. Republik Demokratik Vietnam merdeka dari Prancis pada tahun 1945. Usia peradabannya juga sama tua, bahkan saling berkait di masa lalu ketika masih sama-sama berbentuk kerajaan.

Di pelajaran Sejarah, disebut-sebut tentang Kerajaan Champa yang punya hubungan sangat erat dengan Majapahit. Ternyata jauh sebelum Majapahit lahir, yakni antara tahun 200 SM hingga 200 M, orang-orang Jawa hijrah ke negeri ini, menciptakan Kerajaan Champa yang membentang dari Huê hingga Nha Trang di Vietnam bagian tengah. Akrabnya perdagangan rempah-rempah dan sutra antara Champa dan kerajaan-kerajaan India, Nusantara, Tiongkok, dan Abbassid (sekarang Bagdad) pada abad ke-7 hingga 10, membuka kemungkinan adanya perkawinan antarabangsa dan antarkeluarga kerajaan di Champa.

Champa pada akhirnya meredup dan menyusut jadi sebutan bagi suku yang bermukim di Vietnam bagian selatan, jadi minoritas dibandingkan suku Viet yang mayoritas, dua suku dengan tampilan yang berbeda. Suku Viet berkulit kuning dan bermata sipit, sedangkan suku Champa yang Melayu-Polinesia berkulit sawo matang dan berwajah “sedikit” India.

Untuk bahasan edisi sekarang, dua kota besarnya dulu. Hanoi di utara yang sekaligus ibukota Vietnam, dan Ho Chi Minh di selatan, kota terbesar di Vietnam. Ketika masih terbagi menjadi Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, Vietnam Utara beribukota Hanoi, sedangkan Vietnam Selatan beribukota Saigon. Pemisahan ini berlangsung dari tahun 1954 hingga 1975.

Ketika pada tahun 1975 Amerika yang menguasai politik Vietnam Selatan resmi angkat kaki, maka resmi pula seluruh Vietnam adalah milik rakyat Vietnam sendiri, dan paham komunis diterapkan dari utara hingga selatan. Mereka yang tidak setuju atau khawatir dengan keamanan diri dan keluarga memilih keluar dari Tanah Airnya, terapung-apung di ganasnya Laut China Selatan. Pulau Galang di gugusan Kepulauan Riau Indonesia ditunjuk UNHCR jadi salah satu tempat penampungan sementara, sebelum diberangkatkan ke negara-negara lain sebagai tujuan akhir mereka.

Dua kota ini sama riuhnya. Penduduk Kota Ho Chi Minh 7 juta jiwa, dan penduduk Hanoi 6 juta. Ruko-ruko sempit tapi menjulang hingga enam lantai, tanpa lift. Sepeda motor keluaran 1978 beradu cepat dengan mobil keluaran terbaru di sesaknya jalanan tengah kota. Klakson kendaraan jarang dipencet. Umpatan nyaris tak terdengar.

Perempuan-perempuan bertubuh langsing, mengenakan noń lá (caping khas Vietnam), hilir mudik berjalan kaki cepat memanggul dagangan menuju pasar di Hanoi. Ubi dan singkong, buah-buahan, kacang rebus, wortel, bunga. Perempuan-perempuan juga yang sama paginya dengan murid sekolah mengayuh sepedanya berangkat sekolah, mulai memukulkan palu besar ke aspal. Membongkar lapisan aspal di tepi jalan. Ada juga yang bertugas memecah bongkah-bongkah batu untuk dijadikan kepingan kecil. Perempuan-perempuan ini pekerja kasar dalam proyek perbaikan jalan di Kota Ho Chi Minh.

Di pagi yang sama, di hampir seluruh kota di Vietnam, warung kopi sudah disesaki laki-laki. Mengelilingi meja-meja rendah dari plastik. Tak ada lagi kursi kosong. Kursi macam-macam warna yang berbahan plastik juga, berukuran kecil. Nongkrong tak kenal jam. Dari pagi sampai tengah malam, berteman kopi vietnam.

Kopi vietnam sangatlah kental dan legit. Campuran kopi, gula, dan susu kental manis. Ukurannya setengah gelas (125 mililiter), seharga 5000 VND (Rp2.800). Sungguh, setengah gelas itu sudah cukup untuk sekali ngopi. Diseruput sedikit demi sedikit sebagai penyela obrolan para laki-laki. Itulah keseharian di negara berpendapatan perkapita US$1.042 (sedangkan Indonesia US$2.271) ini.

Polisi jarang terlihat, tak semudah menemukan polisi di jalanan Jakarta. Delapan hari berpindah-pindah ke enam kota Vietnam, baru dua kali saya melihat polisi, yakni di tengah macetnya Hanoi karena ada sebuah perayaan, dan di jalanan Kota Ho Chi Minh petang Jumat yang macet akibat perbaikan jalan. Tak ada polisi di jalanan yang lancar, walau ramai.

Tentara dengan seragam hijaunya lebih mudah dijumpai. Keliaran bersepeda motor, sendiri atau berboncengan. Para tentara ini walau menyandang senapan (tentu saja yang sedang berjaga), entah karena postur mereka umumnya kurus, atau kurang latihan fisik, atau karena seragamnya kedodoran, tetap tampak tak meyakinkan, tak segagah tentara Indonesia yang tegap berisi. Rekan seperjalanan saya berseloroh, “Makannya pho melulu sih.”

Pho adalah sup khas Vietnam dengan isi kwetiau rebus dan potongan daging ayam atau daging babi atau olahan ikan. Kuah supnya berasal dari kaldu hasil rebusan daging masing-masing jenis pho. Menemukan penjual pho sama mudahnya dengan menemukan penjual bakso di Jakarta. Bedanya di Vietnam, pembeli duduk di meja dan bangku rendah yang membuat paha hampir menyentuh perut. Harga semangkok pho 20 ribu hingga 25 ribu VND, harga yang berlaku hampir sama di semua penjual pho kakilima.

Di warung kopi memang hampir tidak ada perempuan yang nongkrong, dan baru di kakilima penjual pho-lah terjumpai perempuan memainkan sumpit dan menyeruput kuah pho, duduk nyaman serasi di kursi-kursi plastik mungil. Kursi mungil yang menjepit pinggul lebar saya kala duduk. Silvia Galikano

Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 18 Oktober 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s