Hoi An dari Atas Sepeda

Waktu tak berputar di kota ini, berhenti di masa yang tak pernah terbayang.


Di kota kecil Hoi An, Vietnam,ada sebuah kawasan yang berisi ruko-ruko tua, umumnya bercat kuning, berlanggam kolonial, rumah yang lebih tua terbuat dari papan bercat hitam, dan berhias lampion digantung berjajar-jajar di atap teras. Jalanannya sempit, selebar 5 meter, tak boleh dilalui mobil, hanya boleh pejalan kaki, sepeda, dan sepeda motor. Kawasan ini dinamai Kota Tua Hoi An.

Berikut cerita sekilas tentang Hoi An, kota di Provinsi Quang Nam, Vietnam bagian tengah, persis di muara sungai Thu Bon yang mengalir ke Laut China Selatan. Luas wilayahnya 60 kilometer persegi, terdiri dari sembilan distrik, dua desa di daratan, dan satu desa pulau di Kepulauan Cham. Jumlah penduduk Hoi An 121 ribu jiwa.

Kebudayaan Hoi An sudah melalui banyak masa, yakni sejak prasejarah (hingga abad ke-2), Champa (abad ke-2 hingga 15), hingga Dai Viet (abad ke-15 hingga 19). Di masa prasejarah (Zaman Perunggu), kota ini disebut Sa Huynh. Berikutnya, daerah ini didiami masyarakat Champa yang berasal dari tanah Jawa, membentuk Kerajaan Champa di bagian tengah pesisir Semenanjung Indochina.

Orang Champa sangat mahir dalam urusan transportasi sungai dan laut, serta menguasai perdagangan laut internasional. Merekalah yang pertama menemukan khasiat sarang burung walet dan menjadikannya komoditas ekspor, menggali sumur, serta membuat sawah berjenjang-jenjang yang masih digunakan hingga kini.

Pada abad pertama, Hoi An adalah pelabuhan terbesar di Asia Tenggara dengan nama Lam Ap Pho (Kota Champa). Negeri ini punya produk andalan sutera, keramik, gading, cendana, gula, emas, sarang burung walet, rumah kura-kura, dan ikan. Dari hasil temuan reruntuhan kapal, terbukti bahwa keramik Vietnam diangkut dari Hoi An hingga ke Sinai, Mesir. Masa keemasan Champa adalah sepanjang abad ke-7 hingga 10, ketika kerajaan ini jadi penentu strategi perdagangan rempah-rempah antarnegara.

Dari tahun 650 hingga 800, terjalin hubungan dagang antara Kerajaan Sriwijaya dan Melayu di Sumatera dengan Mesir, Arab, Persia, dan Tiongkok. Dalam pelayarannya, pedagang Sriwijaya dan Melayu juga menyinggahi 60 pelabuhan sibuk sepanjang garis pantai Vietnam, seperti Phan Rang, Nha Trang, dan Hoi An. Di Hoi An, kapal-kapal berhenti untuk mengisi air bersih sekaligus bongkar muat. Para pedagang juga dapat membeli barang-barang Tiongkok tanpa harus jauh-jauh berlayar ke Tiongkok.

Bangsa Eropa pertama yang berdagang dengan Vietnam adalah bangsa Portugis, pada abad ke-15. Pada masa itu, walaupun bahasa Portugis digunakan sebagai bahasa perdagangan di sejumlah pelabuhan Asia Tenggara, bahasa Melayu tetap dipakai di Hoi An. Belajar dari suksesnya Portugis, terbuka mata bangsa-bangsa Barat untuk datang juga ke Hoi An, yakni Belanda, Inggris, dan Prancis, sekaligus membawa agama Kristen.

Kejayaan Champa mulai memudar pada abad ke-15, ketika suku Dai Viet bergerak dari Tiongkok ke selatan, masuk ke Vietnam bagian tengah, mendesak masyarakat Champa mundur lebih ke selatan lagi, ke Nha Trang. Walau demikian, di masa Dai Viet ini, Hoi An tetap sebagai pelabuhan internasional penting di Jalur Sutera hingga dua abad kemudian.

Jepang, yang dilarang mendaratkan kapalnya di pelabuhan Tiongkok akibat perseteruan, masuk Hoi An sekitar tahun 1560-an, walau tak lama, tapi keberadaanya tetap berjejak, sehingga dikenal pula julukan Hoi An sebagai Kota Jepang.

Dengan sepeda sewaan, kami kelilingi Kota Tua yang tak kurang panas dan lembapnya dengan Jakarta. Menikmati lagi kejayaan kota pelabuhan yang tetap terpelihara baik, berikut karakteristik budaya uniknya. Kota Tua Hoi An ditetapkan Unesco sebagai Warisan Dunia pada 4 Desember 1999, dan pengelolaan sehari-hari dijalankan Dinas Pariwisata Ho
i An.

Tercatat 87 pagoda, kuil, dan gedung pertemuan; 82 rumah kuno; 24 sumur kuno; dan satu jembatan kuno beratap yang jadi kekayaan Hoi An. Ruko-ruko yang sebelas abad lalu menjual rempah-rempah, sutera, dan keramik, kini berubah fungsi jadi toko-toko cenderamata khas Vietnam, kafe, restoran, dan museum.

Sebagian besar lokasi memang boleh dimasuki cuma-cuma, namun ada beberapa lokasi di Kota Tua yang mengharuskan pengunjung membeli karcis masuk terusan seharga 75 ribu VND (Rp41.700). Dengan satu karcis itu kita bisa pilih untuk datang ke salah satu dari tiga gedung pertemuan, satu dari empat rumah tinggal, satu dari empat museum, teater tradisional atau workshop pembuatan kerajinan, klenteng Quan Công, serta Jembatan Jepang.

Rumah tua Tan Ky, kami masuki. Rumah berusia 200 tahun milik keluarga Le, pedagang rempah-rempah yang sukses di zamannya. Rumah berlanggam campuran lokal, Jepang, dan Tionghoa ini sudah dihuni tujuh generasi. Istilah “Tan Ky” baru digunakan pada generasi kedua, yang berarti “Toko Maju”. Xuan (namanya berarti musim semi), seorang ibu berusia 55 tahun yang jadi generasi ke-6, menerima kami di siang awal Oktober lalu.

Rumah berlantai dua ini adalah salah satu rumah cantik dan tetap terawat di Hoi An. Merupakan saksi ketika kota ini jadi pelabuhan penting di abad ke-18 hingga awal 19, masa para pedagang lokal membangun rumah-rumah bagus.

Walau sudah dihuni bergenerasi-generasi dan beberapa kali tergenang banjir, tak banyak bagian dari rumah yang diganti, karena menggunakan bahan bermutu. Bagian dalam rumah menggunakan dinding, tiang, serta pasak kayu warna hitam, berhias kulit kerang, dan berlantai marmer, sedangkan bagian luarnya berdinding bata dan berlantai ubin. Desain ini menjaga rumah tetap sejuk di musim panas dan hangat di musim hujan. Perabotan tua dan karya seni yang dipajang di dalam rumah sebagian besar masih asli.

Gedung pertemuan Quang Dong (dibangun 1885) menyuguhkan arsitektur cantik berlanggam Tionghoa dengan detil indah di atap dan dindingnya. Taman asri di halaman depan berikut kolam kecil. Di langit-langit ruang sembahyang, bergantung hio berulir. Quang Dong adalah gedung pertemuan bagi warga Tionghoa-Kanton.

Menjelang senja, Jembatan Jepang (Chua cau) jadi tujuan. Jejak Jepang di abad ke-16 ini adalah satu-satunya jembatan kayu beratap yang memiliki pagoda Buddha di satu sisi jembatan. Meskipun sudah berusia lima abad, Jembatan Jepang tetap kuat dan boleh dilewati, walau hanya oleh pejalan kaki.

Matahari semakin mendekati kaki langit. Bergeser sedikit dari jembatan, tersedia bangku-bangku meminggiri Sungai Thu Bon yang melintang dari barat ke timur. Tempat yang pas untuk menikmati matahari terbenam di ujung barat sungai. Matahari yang kecil saja, bukan merah bulat besar, tapi memberi bayangan indah di sungai.

Malam di Hoi An adalah satu pemandangan indah lain. Deretan lampion yang tergantung di teras toko, kafe, dan restoran sepanjang sungai menyuguhkan refleksi cantik di sungai. Cantiknya bangunan tua di siang hari, punya sisi kecantikan lain saat malam. Kecantikan dari atas sepeda. Silvia Galikano

Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 25 Oktober 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s