Bukit Bersanding Pantai di Nha Trang

Leluhur Champa membangun tempat pemujaan megah, di bukit, menghadap laut.

Sejarah perdagangan Indonesia dengan Vietnam bertebaran di kota-kota pantainya yang berabad-abad lalu adalah pelabuhan sibuk melayani peniaga internasional. Di edisi pekan lalu, sudah kita kenal sedikit tentang Hoi An, yang kawasan kota tuanya masih menyisakan suasana abad ke-18.

Kali ini, satu lagi kota penting milik Kerajaan Champa (abad ke-2 hingga 15), yakni Nha Trang yang dulunya bernama Kauthara, pusat kebudayaan dan keagamaan. Sebetulnya nama Nha Trang adalah pelafalan lidah Viet untuk Sungai Ya Trang (sekarang Sungai Cai) dalam bahasa Champa. Ya Trang mengalir di kota ini dan bermuara ke Laut China Selatan.

Nha Trang adalah ibukota Provinsi Khanh Hoa, berada di lekuk Teluk Nha Trang, pesisir tengah Vietnam. Luas kotanya 251 kilometer persegi, dengan jumlah penduduk 500 ribu (tahun 2007). Suasana kotanya mirip Cirebon. Berudara panas, lalu lintasnya tidak padat, sehingga masih relatif aman bagi yang bersepeda di tengah kota. Kontur kota ini berbukit-bukit rendah, karenanya walau berada di puncak bukit, tetap saja panas matahari tak bisa dianggap ramah di kulit.

Sepanjang pantai Nha Trang adalah taman kota yang berbatas dengan jalan raya Tran Phu, bertepi trotoar lebar dan teduh. Menyeberangi Jalan Tran Phu yang sejajar dengan pantai, berterbaran hotel berbintang hingga hotel melati, berseling juga biro perjalanan, kafe, restoran, dan penjual makan kakilima. Buku-buku (bajakan) bertema lokasi-lokasi wisata Vietnam, termasuk Lonely Planet, dijual secara asongan. Boleh ditawar hingga setengah dari harga pembukaan.

Perekonomian Nha Trang mengandalkan pariwisata dengan jualan utama pantainya yang bisa dikunjungi hampir sepanjang tahun, kecuali Oktober hingga Desember, karena tiga bulan ini angin laut sangat kencang.

Dulu, sepanjang garis pantai Nha Trang adalah perkampungan nelayan. Saat pendudukan Prancis (1859—1954), Prancis-lah yang mengubah kampung nelayan ini jadi kota resort. Nha Trang kemudian juga jadi tempat liburan favorit tentara Amerika pada masa Perang Vietnam (1957—1975).

Nha Trang punya bukit granit Cu Lao, tak jauh dari pantai. Kira-kira 2 kilometer dari pusat kota. Di sini berdiri salah satu “pintu” untuk melongok masa lalu kota ini di masa Kerajaan Champa, yakni candi menara Po Nagar. Tampak sekali adanya kesamaan antara Po Nagar dengan candi-candi di Jawa Timur, yakni berbentuk gunungan, materialnya batu bata, dan berlokasi dekat aliran sungai.

Berbekal peta wisata Nha Trang, sepeda kami kayuh sepanjang Jalan Tran Phu. Pantai ada di sebelah kanan. Tak jauh setelah melintasi jembatan yang menyeberangi Sungai Cai, sepeda dibelokkan ke kiri, masuk jalan kecil menyusuri sungai Cai. Pemandangan berganti kapal kayu nelayan yang sedang sandar. Bau amis ikan merebak. Belok kanan. Jalanan mendaki landai. Tak lama mengayuh, terpampang gagah susunan bata di tengah rimbunan pohon.

Ini Po Nagar. Candi dengan sederet cerita penaklukan. Dibangun tidak di satu masa, tapi bertahap di beberapa babak pemerintahan Kerajaan Champa, dari abad ke-8 hingga 13, namun para arkeolog meyakini bahwa tempat ini sudah digunakan umat Hindu sejak abad ke-2.

Bangunan awalnya terbuat dari kayu, tapi kemudian hancur akibat serangan dari kerajaan di selatan (ada sumber yang menyebut yang dimaksud adalah kerajaan di Jawa) pada tahun 774. Candi lantas dibangun lagi berbahan bata dan batu, yang merupakan pertama kali di Champa menggunakan material ini, pada tahun 784, tapi kemudian hancur lagi akibat perang. Candi yang sekarang masih berdiri dibangun pada tahun 965 oleh Raja Jaya Indravarman I.

Sebelum mencapai tangga menuju gerbang asli kompleks candi, terpampang sepuluh pilar pentagonal yang membujur dua baris lima-lima. Masing-masing pilar berdiameter 100 sentimeter dengan tinggi 3 meter. Di sini dulu hall sebelum masuk candi.

Aslinya kompleks candi Po Nagar seluas 500 meter persegi dan memiliki enam menara (gunungan), dua baris melintang tiga-tiga. Sekarang empat yang tersisa utuh, di selatan, tenggara, dan barat laut. Selebihnya hancur. Empat menara yang tersisa ini adalah tempat pemujaan bagi empat dewi yang berbeda. Menara utama adalah yang tertinggi dan terindah, setinggi 22,48 meter, merupakan tempat pemujaan bagi Po Nagar, dewinya negeri Champa.

Dewi Po Nagar yang bernama lengkap Po Yan Inu Nagar Kaut Hara dipercaya mencipta teknik menenun dan bersawah. Dia disamakan dengan dewi Hindu, Bhagavati dan Mahishasuramardini. Oleh bangsa Viet, Po Nagar disebut Thien Y Thanh Mau.

Di dalam Menara Utama, arca Po Nagar setinggi 260 sentimeter duduk bersila di atas teratai, bersandar pada makara (ikan berkepala gajah yang ada di mitologi Hindu). Arca yang terbuat dari batu ini adalah replika, karena yang asli, terbuat dari emas, dicuri saat serangan yang dipimpin raja dari kerajaan selatan pada abad ke-10.

Sang Dewi punya lima pasang tangan. Sepasang ada di atas lutut, telapak tangan kirinya terbuka untuk memberi berkah dan kebahagiaan, sedangkan telapak tangan kanannya tertungkup menyimbolkan perdamaian. Empat pasang lagi ada di belakang menggenggam macam-macam benda yang melambangkan sifat-sifat lainnya.

Bagian atap menara berbentuk piramida. Lingga terpasang di puncaknya. Seluruh menara menghadap timur, arah laut, demikian pula gerbang aslinya yang sekarang ditutup untuk umum. Pengunjung bisa masuk kompleks candi melalui tangga mendaki bukit, di sebelah kiri gerbang asli. Di dinding atas foyer Menara Utama terukir sosok Syiwa sedang berdiri, kaki kanannya ditumpukan di atas lembu Nandi.

Candi Po Nagar yang aslinya tempat pemujaan masyarakat Hindu-Champa, sekarang didatangi juga umat Buddha dari etnis Tionghoa dan Viet, dan mereka bersembahyang di sini sesuai tradisi masing-masing. Sebagai bentuk hormat pada Sang Dewi, masyarakat Viet memasang jubah Buddha Mahayana pada arca yang aslinya telanjang sebagaimana umumnya arca di candi-candi Hindu. Silvia Galikano

*Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 1 November 2009*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s