Dia Punya Rencana

Sabtu (31/10) jam 2, urusan layout selesai. Ke gramed beli dua buku yang saat nungguin layout baru terpikir pengen beli. Buku di tangan, ke basement gramed, makan bakso buru-buru karena mendadak pengen ke Bu Boedi.
Di Terminal Kampungmelayu, sudah hampir jam 4. Kesorean kalau ke Bu Boedi. Naik mikrolet 28 aja kalo gitu, jurusan Pondokgede. Pulang. Aku naik, satu bapak lagi naik, penuh, langsung jalan.
Mikrolet masuk Jalan Raya Kalimalang. Lho kok? Tengok kaca belakangnya, masya Allah, ini mikrolet 26, bukan 28. Ini mikrolet ke Bu Boedi. Suara hati memang sejak awal harus diikuti, bukan diingkari. Suara hati yang paling murni, sebelum diproses otak. Allah punya rencana. Pasti Allah punya rencana. Aku ikuti.
Sabtu sore yang biasanya macet, kemarin lancaaaarrrr sepanjang jalan. Turun di simpang Transito (dekat Caman). Nyambung KWK entah nomor berapa, ngga pernah ingat. Lima menit kemudian sampai. “Bu, saya datang lagi.”
Berjongkok sebentar di sisi kanan makam, berdoa untuk kedamaiannya, bercerita sedikit tentang yang sedang terjadi, menempelkan telapak tangan kiri (semata karena tangan kiriku lebih ringan) di nisan, lantas pamit pulang dengan hati yang lebih ringan. “Bu, saya pulang.” Hujan tumpah tanpa aba-aba begitu aku meninggalkan pemakaman.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.