Pagoda dan Perdamaian

Ketika untuk beribadah saja dipersulit, apa lagi yang dapat diharapkan rakyat dari pemerintahan yang demikian?

Selain Hindu yang sekarang jadi minoritas, agama Buddha hidup subur di Vietnam, bahkan jadi agama mayoritas. Dengan populasi umat Buddha hampir 35 juta jiwa, Vietnam menduduki tempat ketiga negara dengan penduduk beragama Buddha terbanyak di dunia setelah Tiongkok, Jepang, dan Thailand. Agama Buddha sudah berusia 19 abad di Vietnam, masuk dari dua arah, yakni Asia Tengah di utara (jalur darat) dan dari India melalui jalur perdagangan laut di selatan.

Jumlah penganut Hindu di Vietnam kemudian menyusut bersamaan menyusutnya populasi suku Champa akibat serbuan suku Viet dari Tiongkok sejak abad ke-15. Populasi etnis Champa sekarang tinggal 99 ribu jiwa. Dari 99 ribu itu pun hanya 15 persen yang beragama Hindu Brahmanisme, sedangkan 85 persennya Muslim.

Satu bangunan penting agama Buddha di Vietnam berada di Nha Trang, kotaVietnam bagian selatan, yakni Pagoda Long Son (Chua Long Son). Berada di distrik Phuong Son, kaki pegunungan Trai Thuy.

Pagoda Long Son terbuka untuk umum dengan jam kunjungan dari pukul 8 hingga 17.00. Tak dikenai biaya masuk. Tapi karena kami bersepeda, maka yang harus dibayar adalah biaya titip sepeda di halaman depan pagoda. “Anda bayar 10 ribu VND (Rp5.600) untuk sepeda, maka Anda bisa gratis masuk kuil,” kata seorang bapak yang jadi penjaga parkir. Kalimatnya seolah memberi pesan kalau sudah bayar titip sepeda, maka tak perlu lagi bayar masuk kuil, padahal masuk kuil memang gratis.

Long Son aslinya berlokasi agak ke atas bukit, dibangun pada tahun 1886 dengan nama Dang Long Tu yang ketika itu jadi tempat tinggal para rahib di bawah pimpinan Thich Ngo Chi (1856 – 1935). Sebelum bergabung di Dang Long Tu, Thich Ngo Chi aktif jadi pendukung gerakan anti-Prancis. Dang Long Tu kemudian rusak berat akibat badai, sehingga pada tahun 1900 harus dipindahkan ke lokasi sekarang.

Yang juga menarik perhatian begitu memasuki gerbang adalah kepala patung Buddha Gautama yang menyembul di balik atap pagoda, tepat di tengah-tengah atap, menghadap timur (menghadap laut), bukan selatan seperti arah hadap pagoda. Jadi yang terlihat hanyalah kepala bagian samping kanan.

Naik anak tangga pagoda, nampak kental langgam Tionghoa di detail bangunan. Menggunakan atap pelana bertingkat, di pertemuan tiap sisi atap serta di bubungan atap terdapat hiasan naga, tiang-tiang kayunya berukir karakter Tionghoa, dan naga besar meliliti dua tiang di altar utama. Salah satu sisi tiang bermotif burung bangau terbuat dari mozaik keramik. Demikian pula dinding depan yang berhias naga dari mozaik keramik. Ada beberapa fragmen lukisan Buddha Gautama di dinding atas yang terletak antara dua atap bertingkat.

Sejak didirikan, Long Son sudah mengalami beberapa kali renovasi. Renovasi lumayan besar dilakukan pada tahun 1968 dan 1971 akibat Perang Vietnam yang menyebabkan bagian atap pagoda rusak berat.

Setelah Thich Ngo Chi, pagoda dikepalai Thich Chanh Hoa (1936 – 1957) dan Thich Chi Tin (sejak 1957). Tiga orang itu saja sepanjang 123 tahun. Sekarang, Long Son jadi tempat tinggal 10 rahib.

Pengunjung Long Son hanya bisa masuk menyusuri selasar, tak bisa lebih jauh ke ruang-ruang dalamnya, karena terkunci. Di ujung selasar yang melintang ini terdapat papan penunjuk arah menuju patung Buddha Gautama yang tadi di gerbang masuk hanya terlihat kepalanya menyembul di tengah-tengah atap pagoda.

Dicegat seorang ibu penjual hio yang bermodus sama seperti penjaga sepeda di halaman pagoda, yakni dengan membayar 10 ribu VND maka kami akan mendapat sebungkus hio dan bisa gratis masuk area patung Buddha Gautama lewat jalur ini. Kata dia, kalau tak hendak membayar, harus lewat jalur lain yang memutar jauh. Kali ini kata-kata macam itu tak lagi mempan.

Kami jalan terus, mendaki 150 anak tangga batu yang berlekuk-lekuk, melewati beberapa pengemis tua, kurus, dan bungkuk, melewati juga patung Buddha Berbaring di sebelah kiri tangga, lantas sampailah di halaman patung Buddha Gautama. Dari puncak bukit ini terlihat kota Nha Trang dan laut. Dan di depan mata, patung raksasa Buddha Gautama berwarna putih bersih, duduk di atas bunga teratai, landmark kota Nha Trang, selain candi Po Nagar. Di lokasi patung Buddha itulah dulunya berdiri pagoda Long Son, saat masih bernama Dang Long Tu.

Patung Buddha ini punya tinggi 24 meter, diukur dari permukaan teratai hingga ujung kepala Buddha. Butuh 11 tahun pengerjaan, dari tahun 1953 hing
ga 1964. Baru setahun berikutnya patung dipasang.

Patung Buddha Gautama didirikan sebagai bentuk doa perdamaian memperingati para rahib yang jadi martir ketika melakukan protes terhadap Amerika Serikat serta rejim Ngo Dienh Diem di Vietnam Selatan yang korup dan membatasi aktivitas keagamaan umat Buddha. Pada tahun 1963, seorang rahib, Thich Quang Duc, duduk di jalan di tengah kota Saigon, menyiram dirinya dengan bensin lantas menyulutkan api. Tanpa “perlawanan”, dia tetap duduk tenang hingga api padam dan menyisakan abu. Aksi ini berlanjut dilakukan oleh rahib-rahib lain.

Sebagai tanda penghormatan, di bawah teratai yang jadi alas duduk Buddha Gautama, ada bangunan pentagonal setinggi 2 meter. Di tiap sisi dindingnya terpasang relief para rahib yang dulu membakar diri, masing-masing berbingkai jilatan api. Tempat menancapkan hio ada di depan bangunan pentagonal, bagi siapa saja yang ingin berdoa untuk perdamaian. Silvia Galikano

Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 8 November 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s