Paduan Timur dan Barat untuk Keabadian

Rumah yang disiapkan untuk alam nanti seringkali tak terbayangkan. Apalagi rumah untuk raja.

Hue yang berada di tengah-tengah pesisir Vietnam, dulunya adalah ibukota Dang Trong (Kerajaan Selatan) di bawah pemerintahan Dinasti Nguyen. Awalnya hanya jadi ibukota politik, tapi kemudian status Hue berubah jadi ibukota pada masa Dinasti Tay Son (1778–1802) dan berlanjut hingga Dinasti Nguyen berakhir.

Masa kekuasaan Dinasti Nguyen (1802—1945) adalah masa bersinarnya Hue. Selain pusat politik, kota ini juga jadi pusat kebudayaan. Di masa Nguyen inilah Prancis masuk dan menguasai politik Indochina (1887—1945).

Ada 13 kaisar di Dinasti Nguyen di Vietnam, di antaranya tersebutlah Khai Dinh (1885—1925), kaisar ke-12. Tak ada kebijakannya yang memihak rakyat selama sembilan tahun memerintah (1916—1925). Dia tak ubahnya boneka bagi pemerintah kolonial Prancis.

Kenyataannya, dari seluruh makam, makam Khai Dihn-lah yang paling sedikit punya unsur arsitektur Oriental.

Makamnya demikian megah, bak istana, dikunjungi orang dari semua belahan dunia, sampai sekarang. Hal yang umum di Vietnam, para mendiang raja punya makam bagus-bagus. Selain Khai Dinh, tersebut pula makam Gia Long, makam Minh Mang, makam Thieu Tri, makam Tu Duc, dan makam Dong Khanh yang kesemuanya berada di sepanjang tepi sungai Huong (Perfume river).

Makam-makam kaisar Dinasti Nguyen ini umumnya sudah disiapkan saat para kaisar masih hidup. Mereka rancang sendiri rumah masa depan itu tak kalah bagusnya dengan istana yang ditinggali kala masih hidup. Tak heran jika ada yang menyebut makam indah itu sebagai istana.

Nama lahir Khai Dinh adalah Pangeran Nguyen Phuc Buu Dao, putera Kaisar Dong Khanh. Setelah Kaisar Dong Khanh mangkat, yang seharusnya menjabat sebagai penguasa Vietnam adalah Thanh Thai dan Duy Tan, namun ini tak terwujud karena keduanya diasingkan Prancis akibat melawan pemerintahan kolonial. Prancis kemudian menobatkan Buu Dao karena dialah putera monarki Nguyen yang paling patuh pada pemerintahan kolonial Prancis dan menentang setiap gerakan kemerdekaan.

Nguyen Buu Dao naik takhta pada 18 Mei 1916 kala usianya 31 tahun, dan bergelar Khai Dinh yang berarti “elemen perdamaian dan stabilitas”. Dia membuat kebijakan-kebijakan yang bekerjasama dengan Prancis, mengikuti semua aturan yang ditetapkan Prancis, sehingga secara tidak langsung memberi legitimasi pada pemerintahan kolonial Prancis di Vietnam. Ketika dia berkuasa inilah budaya dan pengaruh Barat mulai merembes ke Vietnam.

Tak heran jika tokoh nasionalis Phan Chau Trinh menuduhnya menjual negara ke Prancis karena tinggal di istana mewah tapi membiarkan rakyat dieksploitasi Prancis. Nguyen Ai Quoc (tokoh revolusioner komunis, kemudian dikenal sebagai Ho Chi Minh) bahkan menulis drama berjudul Naga Bambu yang mengejek Khai Dinh yang berpenampilan mewah dan jadi boneka Prancis.

Ketidakpopuleran Khai Dinh mencapai puncaknya pada tahun 1923 ketika dia memberi wewenang Prancis untuk menaikkan pajak pada petani Vietnam. Sebagian dari pajak itu digunakan untuk membiayai pembangunan makam mewahnya. Dia juga menandatangani perintah penangkapan sejumlah pemimpin nasionalis, menempatkan mereka di pembuangan, serta memenggal pengikut mereka yang tertangkap.

Sang raja punya empat istri dan 10 selir. Fisiknya lemah, sering sakit, dan punya ketergantungan terhadap obat-obatan. Khai Dinh meninggal di Hue pada usia 40 tahun akibat tuberkulosis.

 

Berada di punggung bukit Chau Chu (kadang disebut Chau E), tempat yang jauh dari kota dan jauh dari keramaian. Kira-kira 10 kilometer dari pusat kota Hue. Kami mencapainya dengan menyewa taksi dari kota karena tak ada kendaraan umum yang lewat sini, selain sempitnya waktu karena harus melanjutkan perjalanan.

Pusat kota Hue yang kecil itu sebentar saja dilahap taksi, pemandangan selanjutnya tak beda dengan pemandangan di kota-kota kecamatan di Pulau Jawa. Jalan raya dua arus selebar empat mobil, aspal mulus, rumah-rumah penduduk berhalaman luas yang seringkali tak berpagar, kebun buah, kebun sayur, alang-alang tinggi kering dan coklat, serta rombongan anak sekolah berseragam putih-putih mengayuh sepeda pulang.

Di kesahajaan dan ketenangan kampung inilah makam Khai Dinh berada. Di keluasan area makam 117 meter x 48,5 meter, megah arsitekturnya paduan gaya Timur dan Barat. Hampir semua bagiannya berbahan beton. Pembangunannya butuh 11 tahun (1920—1931) hingga rampung.

Tiga puluh tujuh anak tangga lebar bertepi naga menyambut untuk mencapai gerbang dan menuju halaman pertama, dari tiga halaman makam. Lantainya dari kepingan batu hitam. Tampak luar memang bangunan ini hanya hitam, warna batu kali, tak terlihat apa yang disebut-sebut paduan gaya arsitektur Oriental dan Barat itu.

Di sebelah kiri dan kanan halaman pertama, berdiri masing-masing satu rumah beratap ganda, inilah rumah bagi para patung mandarin penjaga makam, yakni mandarin sipil dan mandarin militer. Tentu saja dua bangunan ini hanya simbol, tidak pernah digunakan. Naik 29 anak tangga lagi, di halaman berikutnya yang lebih tinggi, berjajar berhadapan dua jenis mandarin itu. Mandarin sipil di baris kiri, dan mandarin militer di baris kanan, masing-masing sisi terdiri dari 10 patung orang, satu kuda, dan satu gajah.

Pemandangan hitam-hitam di halaman, berubah total ketika masuk ruang dalamnya. Langit-langitnya tinggi. Pintu-pintu dan jendel-jendelanya besar. Seluruh bagian dalamnya berhias. Seluruhnya. Tak ada dinding yang dibiarkan polos.

Di atas warna dasar kuning, menempellah mozaik bertema Oriental yang terbuat dari kepingan keramik dan kaca. Mozaik di seluas dindingnya. Mozaik di setinggi pilarnya. Mozaik di meja sembahyang. Mozaik lagi di altar patung sang Kaisar.

Di ruang sebelah kiri berisi foto-foto keluarga serta satu patung perunggu Khai Dinh berpakaian militer Eropa. Berbeda dengan ruang lain yang berukir-ukir, ruang foto ini berlapis marmer di lantai dan dindingnya.

Belum selesai terkejut dari kontrasnya suasana di luar dan di dalam, saya ikut ternganga-nganga bersama pengunjung lain memperhatikan langit-langit berlukis yang didominasi warna biru dan abu-abu. Langit-langit berlukis biasanya hanya dijumpai di gereja-gereja Eropa produk masa Renaissance. Khai Dinh mengambil ide itu untuk diterapkan di makamnya, lantas menyelipkan unsur Oriental sebagai tema lukisan, yakni sembilan naga muncul di balik gugusan awan. Lampu-lampu Oriental bergantung anggun di langit-langit. Manis paduannya. Silvia Galikano

Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 15 Oktober 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s