Ziarah Sang Menteri

cirebon (46)
Makam Aria Wira Cula. (Foto: Silvia Galikano)

Pedagang asal Tiongkok ini membesarkan Kesultanan Cirebon bersamaan dengan berkembangnya Islam di tanah Jawa.

Oleh Silvia Galikano

Di Jalan Siliwangi Cirebon, tepat seberang Pasar Pagi, terdapat plang penunjuk jalan bertuliskan Makam Aria Wira Cula (Tan Sam Tjai Khong) berikut tanda panah ke arah pasar dan keterangan jarak kira-kira 50 meter. Pengetahuan saya nol tentang nama Aria Wira Cula, dan kali itulah baru tahu nama tersebut. Karena dekat, tak ada salahnya singgah sebentar, toh dekat dari posisi saya saat itu, di Jalan Siliwangi yang merupakan ruas jalan utama Cirebon.

cirebon (44)
Prasasti dalam tiga bahasa. (Foto: Silvia Galikano)

Bertanya pada seorang ibu yang menjual buah di depan pasar, mendapat jawaban, “Ooo Kuburan Cina. Di belakang, tidak jauh, lewat jalan di samping pasar.” Jalan samping pasar itu bernama Jalan Sukalila Utara yang di sisinya berderet warung, dari yang menjual sate kambing hingga service jok.

Baca juga Dua Keraton Cirebon di Tengah Impitan Dua Budaya Besar

Tak jauh melangkah, tampak pintu gerbang dari besi setinggi 2 meter dicat merah. Temboknya adalah juga prasasti dalam tiga bahasa/huruf, yakni dalam karakter Tionghoa, bahasa Melayu, dan aksara Jawa. Ini tulisan yang berbahasa Melayu:

Di sini ada koeboerannja Toemenggoeng Aria Wira Tjoela. Ia Tan Sam Tjaij Kong. Orang Tiongkok jang dikasi pangkat dan gelaran nama Toemenggoeng Aria Wira Tjoela oleh Kandjeng Soeltan Kasepoean dan dikasi tanah Soekalila. Wafatnya hari Senen tanggal 24 taoen Djawa 1739 dan dikoeboer tana Soekalila.

Moefakatnja Majoor Tan Tjin Ki tanah kuburannja Toemenggoeng diperceel dan ditembok.

Di balik gerbang merah itu terdapat kompleks makam. Areanya kira-kira 25 x 25 meter, dan menyimpan tujuh makam. Makam Aria Wira Cula adalah makam utamanya. Terbesar dibanding makam-makam lain di sekelilingnya.

makam istrinya
Makam sang istri, Loa Lip Ay. (Foto: Silvia Galikano)

Lima makam seperti umumnya bentuk makam Tionghoa yang membukit dengan nisan bertuliskan karakter Tionghoa, sedangkan dua lagi berbentuk umumnya makam umat Islam Indonesia, berkijing, tapi tanpa tulisan di nisan.

Baca juga Dua Rumah Ibadah di Satu Masa

Ketika datang ke kompleks makam ini, Juli 2009, hanya ada Yati, istri penjaga makam yang rumahnya di sudut kompleks makam. Tak ada petugas resmi.

Makam Aria Wira Cula yang jadi makam utama menghadap selatan. Di sebelah kirinya adalah makam istrinya, Loa Lip Ay. Karena itu pemakaman ini dikenal juga dengan sebutan makam Siang Kong (makam suami istri).

Dua makam pengawal ada di sebelah kanan dan belakang/utara makam utama. Dan satu lagi, di belakang makam utama, adalah kuburan kuda peliharaan Aria Wira Cula. Dua makam pembantu berada di timur laut makam utama. Dua makam inilah yang bentuknya seperti umumnya makam umat Islam di Indonesia. Mereka orang pribumi, bukan bersuku Tionghoa.

makam pembantu
Makam dua pembantu Aria Wira Cula. (Foto: Silvia Galikano)

Di sebelah makam dua pembantu itu terdapat area berukuran 1×2 meter yang, menurut Yati, di situ terdapat tapak kaki Nyimas Gandasari, perempuan sakti asal Panguragan Cirebon. Tapi tak terlihat jejak apa pun, kecuali sampah daun gugur.

Kompleks makam ini ramai didatangi peziarah setiap Maulid Nabi dan hari raya Ceng Beng. “Kebanyakan adalah pedagang yang datang, untuk minta berkah,” kata Yati.

Baca juga Plang Salon di Satu Masa

Aria Wira Cula adalah saudagar asal Tiongkok yang ingin berdagang di Nusantara. Nama aslinya Tan Gun We. Bersama dua rekan bisnisnya yang juga dari Tiongkok, Tan Cun Lay dan Sam To Liong, Tan Gun We mendarat di pelabuhan Cirebon pada saat Islam sedang berkembang pesat di Cirebon. Ketiganya tertarik kepada Islam, dan memutuskan untuk menganut agama ini. Tan Gun We beroleh nama baru Muhammad Syafii.

nyimas gandasari
Tapak kaki Nyimas Gandasari. (Foto: Silvia Galikano)

Tan Sam Cai Kong alias Tan Gun We alias Muhammad Syafii kemudian beralih haluan, tak lagi jadi pedagang, akan tetapi memilih menetap di Cirebon untuk mengabdi pada keraton Kasepuhan, sedangkan dua temannya terus berdagang ke kota-kota pelabuhan lain. Di keraton, Tan Sam Cai Kong jadi Menteri Keuangan di masa Panembahan Ratu, pengganti sementara Sunan Gunung Jati yang telah wafat.

Dia andal mengatur keuangan sehingga menjadikan Keraton Kasepuhan maju secara ekonomi. Berkat jasanya, Sultan Sepuh memberinya gelar Tumenggung Aria Wira Cula.

Aria Wira Cula ini juga yang membangun Sunyaragi, pertapaan berbahan batu karang di Kesambi Cirebon, dan kelenteng Talang di Kota Cirebon. Kelenteng Talang diperkirakan awalnya didirikan sebagai masjid, karena bangunannya menghadap kiblat, ada sumur dan tempat berwudu, ada kaligrafi bergaya Tionghoa, dan ada dinding menjorok yang diperkirakan dulunya mihrab.

Di masa tuanya, Aria Wira Cula memilih meninggalkan Islam, kembali jadi penganut Konghucu. Dia meninggal pada tahun 1817 M (atau tahun 1739 Saka) di Puri Sunyaragi akibat menenggak racun, saat bersama harem (perempuan simpanan)-nya.

Baca juga Mencari Air di Taman Air Sunyaragi

Aria Wira Cula dimakamkan dengan upacara resmi kenegaraan. Makamnya di Jalan Sukalila Utara ini jadi salah satu cagar budaya di bawah lindungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon.

***
Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 04 Oktober 2009

4 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s