Perjalanan Lain di Teluk Ha Long

Pada tahun 1994, Unesco memasukkan Teluk Ha Long dalam daftar Warisan Dunia. Termasuk mewariskan kehidupan miris di teluknya?

Perjalanan penutup dari delapan hari di Vietnam adalah tak lagi melihat jejak sejarah budayanya, melainkan menikmati pemandangan dramatis yang terbentuk oleh alam yang jadi kebanggaan Vietnam. Vinh Ha Long atau Teluk Ha Long. Sebutan dalam bahasa Inggris lebih sering terdengar karena untuk kepentingan wisata, yakni Ha Long Bay.

Dari foto-foto di internet, pemandangan Teluk Ha Long mengingatkan saya pada lukisan Tiongkok kuno yang dijadikan motif tirai jendela yang banyak dijumpai di tahun 1970-an dan awal 1980-an. Megah, sunyi, berkabut, sekaligus magis. Seperti negeri “perangkap”, bagi yang sudah masuk tak kan ingin keluar lagi.

Pukul 8 pagi 11 Oktober lalu kami bertolak dari kota Hanoi menuju Teluk Ha Long menggunakan minibus. Bus masuk jalan tol yang tidak padat, melaju sedang, dan dua kali berhenti di tempat perhentian sementara untuk meluruskan kaki, masing-masing selama 15 menit. Total waktu tempuh dari Hanoi ke arah timur hingga sampai di kota Haiphong adalah empat jam.

Sampai kami di pelabuhan Haiphong, disambut ibu-ibu penjaja perhiasan yang menawarkan cincin, gelang, dan kalung bermata mutiara dengan harga bisa dibilang sama dengan harga perhiasan di Pasar Rawabening, Jatinegara. Mutiara memang dibudidayakan di Teluk Ha Long dan jadi salah satu sumber mata pencarian nelayan di sini.

Di dermaga, ada kira-kira 10 kapal kayu berwarna coklat sedang sandar berjajar-jajar. Agak ke tengah juga padat dengan kapal yang buang sauh. Kapal-kapal yang sedang sandar inilah yang akan membawa wisatawan berkeliling Teluk Ha Long. Kapal kami bernama Minh Hang 19.

Butuh waktu 30 menit berlayar dari pelabuhan ke tengah teluk, tempat terpampangnya formasi batu-batuan besar menjulang. Kapal makin ke tengah teluk, makin terlihat bahwa batu-batuan itu terserak di mana-mana dengan berbagai ukuran. Ada yang berdiri sendirian, ada pula yang berangkai-rangkai. Permukaannya lebat ditumbuhi tanaman. Batu-batuan gamping ini tingginya bisa mencapai 30 meter dari permukaan laut.

Kapal terus berlayar pelan, melewati Kissing Rock yang jadi lambang Teluk Ha Long. Kissing Rock berupa formasi dua batu yang mirip sepasang ayam sedang berciuman. Bagaimana bisa tahu bahwa itu jantan dan betina? Kata pemandu kami, Đô Vaň Minh, “Yang pinggulnya besar biasanya betina.” Siang itu kami tak bisa melihat utuh Kissing Rock karena ada kapal lumayan besar yang menghalangi. Sepertinya dia buang sauh tepat di samping pasangan itu, tak kunjung beringsut.

Cuaca teluk berkabut. Kata Đô (dibaca Dyo), cuaca berkabut akibat sehari sebelumnya badai di Filipina, sehingga berimbas ke sini. Pemandangan berkabut begini membuat semakin sempurnanya kesamaan Teluk Ha Long dengan gambaran di memori saya tentang lukisan kuno Tiongkok yang dijadikan motif tirai zaman dulu itu.

Dalam pelayaran itu Đô bercerita bahwa setiap hari tak kurang 200 kapal yang diberangkatkan dari pelabuhan ke Teluk Ha Long, khusus untuk mengangkut wisatawan. Jika satu kapal rata-rata berkapasitas 30 penumpang maka dalam sehari ada 6 ribu wisatawan yang datang melihat Teluk Ha Long.

Kalau dibanding Indonesia, angka 6 ribu per hari atau 180 ribu wisatawan per bulan per satu lokasi wisata bahkan belum bisa dicapai Bali, kawasan wisata paling terkenal dibanding wilayah-wilayah lain di Indonesia. Menurut data Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI, jumlah rata-rata wisatawan mancanegara yang datang ke Pulau Bali (bukan yang datang ke salah satu lokasi wisata di Bali) pada semeseter awal 2009 adalah 108.811. Perbandingan ini menunjukkan betapa seriusnya Vietnam menggarap potensi wisatanya.

Banyaknya wisatawan yang datang ke Teluk Ha Long diharapkan dapat menguntungkan nelayan yang hidup di sini. Nelayan yang tinggalnya di rumah-rumah apung itu bukan menangkap hasil laut, melainkan
membudidayakannya dalam bagan-bagan. Bagan yang dimaksud di sini adalah ikan atau udang hidup di perairan teluk yang dibatasi jaring-jaring persegi, masing-masing berukuran 4 meter x 4 meter.

Berbincang dengan Đô membuat saya tidak saja tahu tentang batu-batu di sini yang jumlahnya ratusan dan sudah berusia 500 juta tahun, atau tentang legenda ibu dan anak-anak naga yang turun dari langit dan betah tinggal di Teluk Ha Long, tapi juga tentang kerasnya kehidupan nelayan di teluk. Mereka sepenuhnya bergantung pada wisatawan. Selain menjual ikan, menyewakan sampan, ada juga yang menjajakan buah menggunakan sampan ke wisatawan yang ada di atas kapal. Tawar menawar harga terjadi di kapal dan sampan masing-masing—sambil berteriak, tentu saja—, kalau sepakat harga, sang penjual akan menempelkan sampannya ke kapal, lantas naik mengantar dagangan.

Kapal kami berhenti di samping bagan, memberi kesempatan bagi yang ingin membeli ikan, udang, atau lobster. Bagan itu ditunggui beberapa perempuan. Đô berujar, “Sulit menemukan ikan yang hidup liar di sini. Adanya yang dipelihara. Kalau Anda membeli ikan kepada nelayan-nelayan ini, berarti Anda sudah membantu mereka. Nanti ikannya kami masakkan di kapal.”

Kapal bergerak lagi. Saatnya makan siang. Hidangan disajikan per meja seperti di rumah makan padang. Cumi-cumi bakar, udang saus tiram, ayam goreng, kangkung cah, bayam rebus, dan sawi tumis. Lezat tak terkira dengan suguhan pemandangan indah di jendela.

Sebentar kemudian, sampailah kapal di dekat gua kecil di kaki batu. Gua ini hanya bisa dilewati sampan atau kayak yang dapat disewa ke nelayan seharga 30 ribu VND (Rp16.700). “Harga sewanya tidak sampai dua dolar, tapi sangat berarti buat nelayan,” kata Đô.

Di dekat gua, persis bersebelahan dengan kapal buang sauh, ada rumah apung nelayan yang dikelilingi bagan-bagan ikan. Di teras rumah, seorang ibu duduk di lantai, mendorong ayunan bayi menggunakan kain panjang yang digantung ke palang rumah. Di dekatnya, seorang bocah perempuan berusia kira-kira 3 tahun sedang bermain, dua ekor kucing yang lehernya diikat tali yang tersambung ke tiang, dan dua ekor anjing tanpa pengikat. Hampir semua rumah nelayan di teluk ini memelihara anjing penjaga untuk mencegah maling ikan yang datang sembunyi-sembunyi di tengah malam menggunakan perahu.

Seorang anak buah kapal turun ke rumah apung itu membawa sebaskom kecil nasi, sepiring cah kangkung, sepiring sawi tumis, dan sepiring ayam goreng, meletakkan semuanya dalam satu baskom besar di lantai teras. Segera ibu tadi meninggalkan ayunan menuju baskom, diikuti si bocah, datang juga seorang laki-laki dari arah luar. Mungkin suaminya. Mereka duduk mengelilingi baskom berisi makanan yang saya yakini adalah sisa makan siang kami. Tak ada udang saus tiram dan cumi-cumi bakar untuk keluarga nelayan ini, karena sudah ludes masuk perut kami tadi.

Tak kuat melihat pemandangan ini, saya meneruskan berbincang dengan Đô. Dia bertanya negara asal saya. Dia bilang negara Indonesia kaya, yang saya tanggapi dengan tawa getir lantas menyangkal pendapatnya. Beberapa saat kemudian, setelah menceritakan susahnya kehidupan nelayan di Teluk Ha Long, dia bilang negara Vietnam kaya, tapi rakyatnya miskin. Mendadak terpikir, mungkinkah kalimat awal Đô tentang negara Indonesia yang kaya tadi itu belum selesai? Silvia Galikano

Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 22 November 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s