Bumi Flores Bumi Savana

Dari udara, daratannya coklat meliuk-liuk di keluasan laut biru.

Flores, salah satu pulau besar di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) diidentikkan dengan gersang, savana, dan panas. Bisa jadi itu sebabnya tak banyak wisatawan lokal yang datang ke Flores. Takut panas yang ekstrim dan khawatir tidak banyak obyek yang dilihat.

Padahal pulau ini indah. Teramat indah. Rangkaian bukit savana berlatar langit biru jernih. Rumput yang menyelimuti bukit berwarna coklat kala musim panas, dan berganti hijau begitu masuk musim hujan. Awan seakan berjarak hanya sedepa dari kepala. Lompat sedikit maka akan teraih.

Ruteng, kota di pegunungan, dinginnya menggigit. Pagi di Ruteng adalah pagi yang malas karena ingin terus duduk di teras menghadap jalan, memandangi anak-anak berjalan kaki berangkat sekolah. Berbincang ditemani secangkir kopi dan roti keras (hard bread) yang sebelum dimakan, dicelupkan dulu ke kopi manis legit hangat ini.

Jalan raya Trans Flores selebar 5 meter beraspal mulus, meliuk-liuk melintasi pantai dan bukit. Pohon randu dan pohon asam selalu ada di sepanjang tepi jalan. Tumbuh liar. Pengendara harus terus waspada karena seringkali ternak sekonyong-konyong berada di tengah jalan. Dari anak anjing yang lincah sampai sapi yang berjalan lamban usai merumput di tepi jalan. Juga babi dan kambing berkalung kayu melintang 1 meter di leher, sepertinya tak terganggu dengan kalung antiknya itu.

“Di sini, babi dan kambing memang harus dipasangi kayu untuk mencegah masuk kebun orang lain. Kalau sampai masuk kebun orang lain akan langsung ditombak sama yang punya kebun,” ucap Pak Yos, sopir yang mengantar kami selama di Flores, akhir November lalu.

Rumah-rumah berdinding kayu dan bambu, beratap seng. Hampir tak ada rumah yang beratap genting tanah liat. Genting tanah liat tak dijual di sini, melainkan harus didatangkan dari Bali. Berat di ongkos. Jadi andaipun ada rumah beratap genting, tentulah pemiliknya sangat berkelonggaran secara ekonomi.

Lalu lintas di kota-kotanya tidak padat. Mobil angkot sama banyaknya dengan bus kayu. Jika angkot hanya mengangkut orang dan sedikit barang, bus kayu bahkan mengangkut babi atau kambing, dijejalkan bersama manusia. Bus kayu adalah truk kayu seukuran metromini yang dilengkapi papan-papan melintang untuk tempat duduk. Berbeda dengan angkot yang punya jam operasional, bus kayu beroperasi 24 jam. Kendaraan umum paling fleksibel di Flores.

Kehidupan di Flores adalah kehidupan rohani Katholik, yang dibuka para misionaris sejak abad ke-16 dan terpelihara hingga sekarang. Gereja-gereja indah sangat mudah dijumpai—baru maupun lama, kecil dan besar. Di dekat gereja, berdiri sekolah seminari berikut asramanya. Halaman gereja yang luas jadi tempat anak-anak bermain di luar jam misa.

Flores juga sedikit disebut-sebut dalam sejarah Indonesia—sejarah Indonesian yang Jawa sentris. Sulit menemukan cerita tentang pemberontakan terhadap penjajah. Alamnya yang keras membuat tak banyak yang bisa ditanam untuk didagangkan bangsa Eropa di pasar dunia, kecuali kopi. Kopi Flores yang bercitarasa kuat punya peminat tersendiri di kalangan pencinta kopi.

Ende, kota di Flores, jadi tempat pembuangan Sukarno dari tahun 1934 hingga 1938, membuat anak sekolah se-Indonesia mengenal nama kota ini, meski tak menjamin mereka bisa menunjukkan letaknya di peta. Inilah persinggungan paling banyak antara Flores dengan sejarah yang umumnya dikenal masyarakat.

Bung Karno; istrinya, Ibu Inggit; dan putri angkat mereka, Ratna Djuami meninggalkan Bandung untuk menjalani pembuangan selama empat tahun di kota pantai Ende, tinggal di rumah sewaan milik Haji Abdul Amburawuh. Di sini mereka beroleh satu anak angkat lagi, Kartika.

Selama di Ende, Bung Karno menghabiskan waktu dengan membaca buku agama kiriman Ahmad Hassan di Bandung sambil berdiskusi secara tertulis dengan tokoh PERSIS itu. Dia juga mendirikan kelompok sandiwara bernama Toneel Kalimutu, berperan rangkap sebagai sutradara, penulis skenario, dan penata panggung. Rumahnya dijadikan tempat latihan, sedangkan tempat pertunjukan meminjam gedung gereja. Ibu Inggit dan Ratna Djuami jadi penata rias dan penata kostum.

Rumah pengasingan itu masih ada dan terawat sampai sekarang. Rumah lama berjendela banyak. Halaman depannya ditanami tanaman rendah, sumur lama masih ada di halaman belakang. Menghadap teras belakang adalah Ruang Semadi berukuran 3 x 3 meter. Rumah yang masuk dalam daftar bangunan cagar budaya ini dapat dikunjungi kapan saja, dengan terlebih dulu menemui pemegang kunci yang bertempat tinggal tak jauh dari situ.

Di Flores juga terdapat, paling tidak, dua desa tradisional, yakni Desa Moni di Kabupaten Ende dan Desa Wogo di Kabupaten Ngada. Moni lebih sering diekspos, walau ternyata bangunan tradisionalnya tak sampai lima buah.

Desa Wogo masih punya banyak rumah tradisional. Ada lebih dari 30 rumah berjajar membentuk formasi huruf U. Rumah-rumah panggung bertiang kayu, berdinding papan, dan beratap ijuk. Semua rumah memiliki ukuran dan pembagian ruang yang sama. Dua anak tangga untuk naik ke beranda. Di dalam, ada ruang utama yang berada lebih tinggi dari ruang-ruang lain, mendaki dua lagi anak tangga kayu. Pintu rendah berukir untuk masuk ke ruang utama, sehingga yang masuk harus merunduk. Ruang utama ini tempat diadakannya upacara adat.

Ruang utama juga berfungsi sebagai kamar tidur utama. Anak-anak tidur di kamar yang ada di samping atau belakang ruang utama. Dapur terletak di belakang, berlantai tanah, dengan pintu menghadap halaman belakang.

Penduduk Desa Wogo sangat ramah. Orang-orang tua mengisi sore dengan duduk di beranda rumah sambil mengunyah sirih. Anak-anak bermain di tengah kampung. Di dapur salah satu rumah, Paulina Yozo sesekali meniup api di tungku agar tak padam. Ibu satu anak ini sedang menanak nasi untuk makan malam. Dia menyilakan saya masuk rumah, mengenalkan Melan, putrinya, dan sang mama. Melan yang malu-malu itu siswi kelas 1 SD. Sekolahnya berjarak setengah jam dari rumah dengan berjalan kaki.

“Lebih baik jalan kaki bersama kawan-kawannya, biar sehat. Orang kota gampang sakit karena lebih suka naik mobil, naik ojek, padahal dekat,” kata Paulina. Silvia Galikano

Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 6 Desember 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s