Menemukan Keabadian dari Sebuah Kata

Oleh Ahmad Yunus

Menjaga stamina dalam menulis catatan perjalanan membutuhkan waktu dan energi tersendiri. Terkadang begitu mudah menuliskannya. Namun seringnya tersendat. Penyakitnya macam-macam. Mulai kecapean. Hilang konsentrasi. Sampai kurangnya menyediakan waktu untuk menjaga displin menulis.

Kegiatan ini membutuhkan mental baja. Displin dalam menulis. Wawancara dan bercerita. Melihat sudut pandang. Mencari tema yang kuat. Hingga merapikan data.

Tak semua penulis terbiasa bekerja dalam segala medan. Apalagi yang terbiasa manja. Menulis dalam ruang berpendingin. Suasana hening. Makan cukup. Istirahat cukup. Dan mungkin…seks yang cukup.

Suasana ideal itu jauh dari harapan. Keadaan lapangan memaksa saya harus menulis dalam keadaan siap siaga. Mau di atas geladak kapal yang bau muntah, kentut dan pesing hingga di pinggir jalanan. Paling penting ada jaringan listrik untuk menghidupkan laptop. Ini pun sudah terbilang manja. Saya termasuk orang yang tidak bisa menulis kalau tak ada komputer.

Menyusun data dan memompa catatan perjalanan butuh tenaga ekstra. Ini bukan pekerjaan sederhana. Ada 100 pulau yang hendak kami lewati. Mengendarai motor sambil berpikir, memotret, mengambil gambar untuk video, dan kondisi lapangan yang berat memakan tenaga. Menguras otak. Belum masalah lain untuk menjaga stamina fisik.

Seingat saya, kami tak begitu manja dalam urusan makanan. Semua jenis makanan bisa masuk. Kopi menjadi bensin yang menggerakan kami agar tidak menyerah. Menjaga agar tidak tertidur di siang bolong. Kami sangat khawatir dengan nyamuk yang bisa menularkan virus malaria. Rata-rata pulau yang kita kunjungi endemik malaria. Tapi sejauh ini, kita bersyukur kita tidak pernah jatuh sakit. Cuma flu ringan, batuk, hingga gatal-gatal akibat berenang di laut.

Nah, rasanya tidak mungkin menumpuk semua data dan kemudian menuliskan semua catatan perjalan di akhir ekspedisi. Ingatan manusia terbatas. Catatan di buku bisa luput. Mencicil tulisan adalah kuncinya. Walau masih draft kasar, lama-lama bisa jadi satu tumpukan tulisan.

Keunggulan mencicil tulisan dalam perjalanan bisa menangkap ruh suasana, detail dan emosi. Ini penting dalam tubuh tulisan. Memberikan dampak psikologis bagi pembaca untuk ikut larut. Dan mampu berimajinasi dengan setiap kata yang tertulis.

Sejak awal, saya menyadari, mengunjungi 100 pulau bukan untuk kebutuhan wisata. Bersenang-senang tanpa pretensi apapun untuk menceritakan pada orang lain. Tapi saya datang untuk melihat secara dekat denyut kehidupan manusia. Berbicara dengan orang biasa. Tentang mimpi, harapan juga pengalaman hidupnya.

Memotret keadaan dan kemudian menuliskannya agar pembaca bisa mengambil sesuatu dari cerita itu. Agar kehidupannya semakin kaya dan bermakna. Orang perlu cermin pada kehidupan orang lain. Mungkin, begitu kehidupan manusia berjalan dan saling terikat. Dari cerita. Oleh cerita. Untuk cerita.

Menulis catatan perjalanan sangat menyenangkan. Semua hal bisa saya tumpahkan. Dari pengalaman kemarin saya menuliskannya terlalu jurnalistik. Saya belum masuk pada intensitas emosi dari sisi pribadi. Saya tidak tahu apa ini akan mengganggu penceritaan. Atau sebaliknya. Justru memperkaya penceritaan.

Semangat menulis catatan perjalanan datang dari reaksi pembaca. Bara semakin menyala ketika tahu apa yang kita tulis merangsang orang untuk bereaksi. Saya senang mendengarnya ketika tulisan-tulisan itu bisa menggugah. Apalagi bisa disampaikan untuk cerita anak.

Sesuatu yang tidak saya dapatkan ketika masa kecil. Imajinasi tentang kehidupan. Kekayaan dari tanah dan air Indonesia. Saya baru sadar sekarang. Indonesia adalah tempat bermain yang indah dan menyenangkan. Saya banyak mendapatkan pengalaman, pengetahuan, perkenalan, persahabatan dan spiritual. Sesuatu yang tak bisa diukur dalam bentuk materi.

Saya bersyukur bisa merasakannya. Kenyataan adalah guru terbaik. Pramoedya Ananta Toer seorang novelis, bercakap. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Saya merasa hidup untuk sebuah keabadian. Juga menulis tentang kenyataan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s