Di Sini Komodo Tuan Rumahnya

Jika waktu dan uang kompak bertemu, datanglah ke Taman Nasional Komodo. Jangan sampai bule lebih fasih bercerita tentang tempat ini dibanding orang Indonesia sendiri.

Walau namanya Taman Nasional Komodo (TN Komodo) tapi bukan berarti hanya terdiri dari Pulau Komodo, melainkan ada juga Pulau Rinca, Pulau Padar, serta pulau-pulau kecil di sekitarnya. Luas keseluruhan taman nasional yang dibuat tahun 1980 ini 1.817 kilometer (daratannya saja 603 kilometer persegi). Dibuat untuk melindungi komodo dan habitatnya, berikut 277 spesies hewan lain. Di perairannya, terdapat 253 spesies karang dan 1000 spesies ikan. TN Komodo masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO pada 1986.

Akhir November lalu kami ke sana. Bertolak dari Labuanbajo, kota di ujung barat Pulau Flores, begitu matahari muncul. Dengan dua kapal kayu sewaan berlayar ke barat daya; melewati bukit-bukit cokelat yang menyembul dari laut; di satu-dua pulau ada sedikit rumah di pantainya, selebihnya kosong; menikmati bias matahari dari belakang bukit; atau jika tak tertahan bukit, sinar matahari menyorot silau di sebelah kiri; laut tenang biru jernih; langit lebih terang dari laut.

Tiga kali berseru gembira ketika tanpa disangka tiga kali dua ekor lumba-lumba muncul dari laut, melompat keluar di sisi lunas kapal, lantas masuk lagi. Sulit ditangkap kamera. Mesin kapal yang tiga kali mati sehingga harus ditarik dengan kapal yang satu lagi jadi tak demikian merisaukan karena adanya atraksi lumba-lumba yang munculnya suka-suka itu.

Dua jam kemudian sampai di Pulau Rinca. Mendarat di Loh Buaya, dermaga di bagian utara Rinca. Dalam bahasa setempat, loh berarti teluk, dan buaya adalah sebutan bagi hewan komodo.

“Komodo” bukanlah sebutan asli masyarakat pulau-pulau sekitar Pulau Komodo untuk hewan komodo. Istilah “komodo” pertama kali digunakan W Douglas Burden untuk reptil purba ini. Lengkapnya komodo dragon. Komisaris di American Museum of Natural History itu pada 1926 melakukan ekspedisi ke Pulau Komodo dan tiga dari hasil tangkapan dipajang di museumnya.

Tak ada penduduk di Loh Buaya, kecuali tiga bangunan kantor taman nasional yang semuanya berbentuk rumah panggung. Siang itu, empat komodo sedang berteduh di kolong rumah. Tak terganggu dengan kedatangan kami. Tak bergerak, seperti tidak ingin beranjak.

Di pulau ini, komodolah tuan rumahnya. Manusia adalah tamu yang harus mengikuti etika mereka. Tak bisa kita datang langsung kluyuran di sini. Harus berkelompok-kelompok dipandu salah satu petugas taman nasional. Nama pemandu kami siang itu Ian, berusia 20-an. Sama sekali tak punya darah Flores. Orang Bandung, berlogat Sunda kental, lulusan akademi perhotelan di Bandung, bahkan pacarnya pun di Bandung. Entah bagaimana bisa nyangkut di Rinca.

Kami berjalan berurutan. Ian di depan, memegang tongkat kayu untuk mengusir jika ada komodo yang mendekat. Melewati padang rumput kering, berkontur datar, tak ada pohon besar, dan matahari terik. Komodo tidak suka leyeh-leyeh di tempat seperti ini. Masuk hutan kecil; dua ekor burung gosong lari terbirit-birit; satu kerbau besar bertanduk, diam berdiri di tengah semak-semak, melihat ke arah kami. Lebih ngeri melihat kerbau ini dibandingkan melihat empat ekor komodo di kolong rumah tadi.

Berjalan beberapa puluh meter lagi, seekor komodo betina di kerindangan bayangan pohon. Di dekatnya ada beberapa lubang yang baru ditimbun. Ian bilang komodo ini baru bertelur. Telurnya dia sembunyikan di salah satu lubang yang dia gali. Komodo bisa menggali hingga delapan lubang dengan jarak berdekatan, tapi hanya satu yang dipakai untuk menyimpan telur, selebihnya sebagai pengecoh.

Masing-masing lubang bisa sedalam 2 meter, dan betina itu menggali sendiri delapan lubang sewaktu bunting! “Telur-telur komodo yang sudah ditimbun ini jadi incaran monyet. Jadi kalau lubangnya dangkal akan mudah sekali bagi monyet membongkarnya,” kata Ian.

Hanya induk komodo dan Tuhan yang tahu lubang mana yang jadi tempat penyimpanan telur. Karena itu yang dapat dilakukan petugas taman nasional adalah melindungi semua lubang dengan cara memberi pagar pembatas agar tidak dilintasi manusia. Komodo betina itu tak sesegar empat komodo yang kami lihat pertama. Kondisi komodo yang baru bertelur memang berada di titik terendah. Sangat lemah. Rentan dimangsa hewan lain, bahkan oleh sesama komodo.

Dari Ian saya tahu bahwa komodo berpoligami sekaligus berpoliandri. Satu jantan bisa mengawini dua betina, sedangkan satu betina bisa kawin dengan empat jantan. Sepertinya julukan buaya darat perlu diganti sekaligus dibersihkan namanya, bukankah buaya adalah hewan bermonogami?

Kami berjalan ke puncak bukit. Dari sana terlihat jelas lekuk Loh Buaya. Teluk Buaya. Ada beberapa titik pulau kecil di perairan teluk. Salah satunya bernama Pulau Kambing. Nama pulau ini diambil karena pulau tak bermanusia dan tak berkomodo itu sengaja hanya diisi kambing oleh penduduk pulau-pulau sekitar.

“Penduduk mengangkut kambingnya ke sana untuk dipelihara, karena di sana tidak ada komodo. Kalau di pulau lain, keburu dimangsa komodo,” ujar Ian.

Mengapa kami pergi melihat komodo di Pulau Rinca, dan bukan di Pulau Komodo, tak lain karena populasi komodo terbanyak adanya di Rinca, yakni kira-kira 1.100 ekor dari total 3.300
ekor yang ada di Taman Nasional Komodo.

Sempat juga kami mendarat sebentar di Pulau Komodo. Di Dermaga Abdul Husen Pulau Komodo, berisi penduduk nelayan dengan rumah-rumah panggung mirip Balla Lompo, rumah adat Bugis. Di pantainya ada kuburan tua yang sejak tahun 1980-an sudah tidak digunakan lagi. Hari itu Idul Adha. Para remaja dari pagi pergi rekreasi ke Loh Liang, masih di Pulau Komodo, naik perahu, dan menjelang sore ramai-ramai pulang.

Snorkeling sore-sore di Pantai Merah lumayan juga karena matahari tak segarang tadi, arus laut bersahabat, terumbu karang serta ikan-ikan kecilnya cantik, dan tak ada bulu babi. Penutup hari itu yang bikin kecut. Menikmati sunset di Pulau Bidadari yang hanya 15 menit dari Labuanbajo. Tiga tahun lalu, Pulau Bidadari sempat bikin heboh karena pulau ini dibeli orang Inggris, Ernest Lewandowski, dan melarang orang lain untuk mendekati pulaunya.

Walau bisa mendarat, kami tak bisa masuk lebih jauh karena ada pagar pembatas, jadi hanya bisa di emperan, di tepian pulau. Di pantainya yang berpasir merah muda. Matahari di barat tertutup awan, tapi tengok langitnya, awan yang mirip sapuan tipis itu merah berlatar belakang biru. Semakin lama semakin merah, dan pada akhirnya gelap, ketika mesin kapal mulai meraung, angkat jangkar, meninggalkan Pulau Bidadari, kembali ke Labuanbajo. Silvia Galikano

Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 20 Desember 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s