Mengukir Hari di Candirejo

Di sebelah sini, ladang dan hutan buatan karena tak cukup air. Di sebelah sana, sawah demikian suburnya dan air melimpah. Kali Progo di antaranya.

Di perbukitan Menoreh, yang siangnya gerah justru ketika musim hujan, Desa Candirejo ayem dengan kisahnya yang sudah bergenerasi-generasi. Desa seluas 365,250 hektare dan berjarak 3 kilometer dari Candi Borobudur ini menobatkan diri sebagai desa wisata. Koperasi yang mengelola pariwisata, masyarakat ikut mendapat hasilnya.

Tiga pekan lalu saya ke Candirejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Menyewa sepeda dari sebuah rumah makan di seberang Candi Borobudur, seusai sarapan. Empat puluh lima menit mengayuhnya ke arah timur. Jalanan beraspal mulus. Melewati kebun cabe dan kebun jagung berlatar belakang Bukit Menoreh. Bingung menentukan arah belok ketika sampai persimpangan, penduduk menunjukkan arah secara jelas dan lengkap, khas masyarakat Jawa yang fasih betul dengan arah mata angin dan membuat kepala saya berputar-putar mencari matahari.

Akhirnya terlihat bangunan Koperasi Desa Wisata Candirejo di tepi jalan. Siapa saja yang ingin menelusuri Desa Wisata Candirejo memang harus ke koperasi dulu agar mendapat pemandu. Hampir mustahil bagi pendatang berkeliling desa tanpa pemandu, karena kondisi untuk mencapai lokasi seringkali tak terkira. Petugas koperasi juga akan menjelaskan kegiatan apa saja yang ada di sini yang bisa dipilih pengunjung. Arung jeram, jelajah desa, jelajah perbukitan Menoreh, kesenian, wisata kebun, pendidikan alam, juga bisa tinggal bersama penduduk. Jika dua orang atau lebih, maka keliling desa dapat menggunakan andong.

Kegiatan wisata alam di Desa Candirejo dimulai pada 18 April 2003, namun persiapannya sudah sejak tahun 1996, melalui pelatihan-pelatihan kelompok sadar wisata di bawah binaan Dinas Pariwisata Kabupaten Magelang. Yayasan Patrapalalima tahun kemudian, ikut membina untuk menggabungkan konsep desa wisata dengan wisata alam. Pemerintah desa lantas membentuk koperasi khusus wisata yang independen, tidak bergabung dengan pemerintah desa, dinamakan Koperasi Wisata Candirejo. Survei demi survei dilakukan bersama travel agent dari Yogyakarta guna memilih lokasi mana saja yang menarik didatangi. dari Yogyakarta,

Sekarang, tak kurang dari 15 travel agent yang bekerjasama dengan koperasi, memasukkan Desa Candirejo dalam paket turnya. Angka kunjungan juga meningkat, dari yang awalnya dua kunjungan per bulan, pada tahun 2008 ada lebih dari 2.800 wisatawan. Tahun 2009 lalu mencatatkan 3.076 wisatawan, yang enam puluh persennya adalah wisatawan mancanegara, dan terbanyak berasal dari Belanda.

Sepeda saya titipkan di koperasi. Selanjutnya berkeliling dengan membonceng sepeda motor yang dikendarai Budiyanto, 30 tahun, pengurus koperasi sekaligus pemandu untuk Desa Wisata Candirejo. Sepeda motor baru melaju, tangan kirinya menunjuk sungai jauh di bawah, deras, lebar, cokelat. Kali Progo. “Tempat menghanyutkan orang-orang yang diduga PKI?” tanya saya. “Ya, para gali juga dihanyutkan di situ. Dianggap sampah masyarakat,” jawabnya menyebut kasus penembakan misterius (petrus) di era 1980-an.

Jalanan beraspal menembus ladang dan hutan buatan di punggung Bukit Menoreh. Pohon-pohon mahoni, sonokeling, dan jati tinggi menjulang di punggung bukit. Di sepanjang tepi jalan, baik itu jalan besar maupun jalan setapak, tumbuh pandan duri, bahan pembuat tikar. Pohon rambutan juga banyak. Ketika itu musim panen durian hampir habis.

Rambutan bukanlah pohon asli Candirejo, melainkan didatangkan dari Balai Benih Induk (BBI) Magelang. Setelah melalui riset, BBI menyimpulkan bahwa rambutan cocok ditanam di sini untuk menambah penghasilan penduduk, karena sebelumnya Candirejo hanya ditanami tembakau, jagung, dan jeruk. Desa ini memang bukan kawasan persawahan, melainkan perladangan, akibat tak cukup air. Penduduk malah mengandalkan Kali Progo untuk kebutuhan air sehari-hari. Sebaliknya, Desa Paren di seberang Kali Progo, adalah kawasan persawahan karena berlimpahnya air.

Sepeda motor masuk jalan setapak. Di kanan-kiri, ladang bersistem tumpang sari. Begini sistemnya. Di tengah ladang ditanam cabe berseling kacang tanah. Di tepinya jagung berselang-seling dengan pepaya, jagung, dan singkong. Tanaman ini panen bergantian, sehingga selalu ada hasil dari ladang.

Sehabis zuhur, singgah kami di Dusun Palihan, melihat pembuatan slondok milik pasangan Mukijo dan Trimah yang jadi industri rumahan. Slondok adalah cemilan terbuat dari singkong parut berbumbu ketumbar, bawang putih, dan garam. Singkong yang sudah jadi tepung ini kemudian dipres, lantas dikukus. Setelah itu dicetak, dipipihkan, baru dijemur. Kalau panas sempurna, setengah hari cukup untuk menjemur, tapi kalau musim hujan, proses penjemuran bisa sampai tiga hari. Proses terakhir adalah menggoreng slondok hingga mekar dan matang.

Trimah mempersilakan kami mencicipi slondok yang baru matang. Dia menunjuk dua plastik terbuka, masing-masing setinggi satu setengah meter yang disandarkan di dinding. Renyah dan gurih.

Setiap hari, 75 – 100 kilogram singkong mereka olah hingga didapat 25 – 30 kilogram slondok matang, yakni dua plastik tinggi itu. Pada bulan Februari ini, singkong didatangkan dari Desa Borobudur. Ketika Agustus datang dan Candirejo panen singkong, maka singkong asli Candirejo yang diolah. Pemasarannya tak sulit, karena setiap sore, agen dari Temanggung dan Yogyakarta menjemput slondok matang itu ke rumah Mukijo.

Hanya tiga pekerja di rumah ini, yakni Mukijo, Trimah, dan Budiyono. Budiyono adalah kakak Trimah. Mukijo dulunya pengemudi kereta di Taman Wisata Candi Borobudur. Pada tahun 1999 dia banting setir jadi pembuat slondok. Koperasi Wisata Candirejo ikut membantu dengan membawa tamu ke sini, sehingga slondok buatan Mukijo dan Trimah jadi lebih dikenal.

Slondok bikinan pasangan ini difavoritkan pemesan dibanding produksi industri rumahan lain di desa ini. Pernah juga mereka menolak order dari Jakarta, yakni 2,5 ton slondok per bulan. “Itu kan tiga truk slondok. Wah, ndak sanggup. Singkongnya dari mana?” kata Mukijo.

Di Dusun Palihan, ada 10 industri rumahan yang membuat slondok. Kegiatan ini sudah turun temurun. Bahkan ketika Palihan sedang panen singkong, 80 persen penduduknya membuat slondok. Sehari-harinya, penduduk juga membuat rengginang dan getuk, meski tak sebesar industri slondok.

Ingin merasakan hidup sebagai masyarakat desa yang sebenarnya? Menginaplah barang semalam atau dua malam di rumah penduduk untuk tahu suasana asli kampung, ikut ke ladang, merasakan interaksi keluarga, serta tidur di kamar sederhana di rumah berdinding kayu. Rumah-rumah yang kamarnya dapat disewa menempelkan tanda berupa logo rumah dan tulisan “homestay” di dindingnya. Harga sewanya Rp90 ribu hingga Rp100 ribu per malam, termasuk makan tiga kali sehari serta makanan kecil khas kampung.

“Pernah ada wisatawan Jepang yang malah minta tinggal di rumah yang masih menggunakan lampu teplok. Kami bingung, karena di sini sudah ada listrik di tiap rumah,” cerita Ami, salah satu pengurus koperasi, ketika kami masih di gedung koperasi tadi.

Homestay adalah rumah-rumah kampung yang “berkelebihan” kamar karena anak-anaknya merantau atau karena sudah menikah dan tidak lagi tinggal bersama orang tuanya. Rata-rata ada dua hingga tiga kamar kosong di setiap homestay.

Saya datang ke salah satu homestay. Rumah limasan milik Susi sudah dihuni tiga generasi. Dindingnya kayu jati. Beberapa perangkat kursi dan meja di ruang tamu juga terbuat dari kayu. Ada seperangkat gamelan di ruang tamunya. Jika ada yang ingin belajar, pemilik rumah akan mengajarkan cara memainkan gamelan pada tamunya. Hmmm, jika malam datang, suara gamelan sebagai lagu pengantar tidur, udara sejuk, hilanglah gundah hati, dan nyenyaklah tidur. Silvia Galikano

Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 28 Februari 2010

Tulisan terkait ada di sini dan ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s