Lihat Warisan Budaya dari Dekat*

Oleh Silvia Galikano

Gempa berkekuatan 5,6 SR yang mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah pada pagi 27 Mei 2006 menghancurkan candi-candi peninggalan Mataram Kuno yang tersebar di dua wilayah tersebut. Di antara candi-candi itu adalah Gugusan Candi Prambanan yang meliputi Kompleks Candi Prambanan dan Kompleks Candi Sewu, serta Candi Lumbung dan Candi Bubrah.

Candi-candi tersebut berdekatan satu sama lain, berasal dari periode yang sama namun punya latar belakang agama yang berbeda. Candi Prambanan yang dibangun Dinasti Sanjaya pada abad ke-9 Masehi adalah candi Hindu, sedangkan Candi Sewu yang dibangun pemerintahan Rakai Panangkaran pada abad ke-8 Masehi adalah candi Buddha. Rehabilitasi candi pascagempa sudah dilakukan sejak tahun 2007, dan sekarang belum selesai secara keseluruhan. Candi Brahma, Candi Wisnu, Candi Garuda, dan Candi Nandi sudah diresmikan kembali.

Untuk menyosialisasikan situs-situs tersebut, digelar pameran yang merupakan kerjasama Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata; PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko; serta Bentara Budaya Jakarta. Pameran bertema Menjaga Warisan Umat Manusia ini diadakan pada 15 hingga 24 Januari 2010 di Bentara Budaya Jakarta.

 

Susunan percobaan relung candi. Candi perwara kompleks Candi Plaosan, abad ke-10. (Foto: Silvia Galikano)

Untuk pameran ini, 2 ton batu-batu candi yang berusia lebih 1000 tahun diangkut dari Yogyakarta dan Jawa Tengah ke Jakarta agar dapat dilihat masyarakat. Pada pembukaan pameran, Kamis (14/1) lalu, diluncurkan juga buku Membangun Kembali Prambananyang dikeluarkan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta, berisi proses rehabilitasi Candi Prambanan pascagempa 2006.

Herni Pramastuti, Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Daerah Istimewa Yogyakarta menyampaikan bahwa rehabilitasi candi-candi itu sudah memakan biaya Rp3,2 milyar, diambil dari APBD DIY tahun 2009. Yang menunggu untuk direhabilitasi adalah Candi Angsa, pagar halaman 1, dan Candi Syiwa.

“Candi Angsa dan pagar halaman 1 akan segera direhabilitasi begitu biaya turun. Candi Syiwa mengalami kerusakan yang kompleks, karenanya akan diteliti dulu metode apa yang cocok,” ujar Herni sebelum pameran dibuka.

Selain menjadi bencana, gempa ternyata membawa berkah bagi dunia arkeologi Indonesia. Satu pengetahuan baru terkuak, yakni beton bertulang yang dipasang vertikal dan horisontal di dalam candi pada saat rehabilitasi dulu justru memperparah kerusakan candi, padahal tujuan awalnya untuk perkuatan.

Gambarannya begini. Ketika gempa terjadi, beton bertulang itu bergerak cepat yang membuat candi jadi bergerak cepat. Ketika rehabilitasi, kesulitan bertambah karena harus melepaskan batu-batu dari ikatan betonnya.

Kemuncak di Candi Siwa Kompleks Candi Prambanan. Sudut atap candi berbentuk replika candi. (Foto: Silvia Galikano)

“Ini menunjukkan kearifan lokal. Teknologi nenek moyang tidak canggih tapi sesuai dengan kondisi. Teknologi baru malah tidak sesuai. Karena itu kearifan lokal tanpa perkuatan-perkuatan, kecuali tanah lempung, akan diterapkan agar saat gempa tidak menyebabkan candi runtuh,” Tri Hatmadji, Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah.

Hatmadji mencontohkan satu lagi kearifan lokal nenek moyang Indonesia, yakni pemilihan lokasi Candi Sewu. Ketika proses rehabilitasi, tim rehabilitasi mengetes dengan menuang air ke tanah, dan ternyata airnya tidak cepat meresap, menandakan tanahnya padat. Ditemukan juga lapisan pasir batu yang ketika terjadi gempa lapisan ini akan memberi ruang untuk bergerak. Selain itu ditemukan juga sambungan-sambungan batu yang menjadikannya elastis bergerak saat ada goncangan.

Yang masih dalam penelitian adalah arca-arca Candi Sewu. Ada 240 bilik di Candi Sewu tapi arcanya hanya 50, itupun umumnya tanpa kepala. Di catatan Belanda pun memang sudah demikian. “Sedang dicari tahu apakah saat pembangunan candi itu dulu memang belum dilengkapi dengan arca. Yang juga sekarang tidak ada adalah arca perunggu setinggi 3,6 meter. Banyak misteri di Candi Sewu yang harus terus kita cari jawabannya,” kata Hatmadji.

Rehabilitasi candi-candi masih terus berjalan. Teknologi komputer mempermudah peletakan susunan batu-batunya. Begitu siap di atas kertas dan dananya cair, pemugaran bisa dimulai. Banyak waktu dihemat. Rehabilitasi satu candi selesai tak sampai satu tahun. Bandingkan ketika dulu yang bisa makan waktu 10 tahun hanya untuk merehabilitasi satu candi.

Hari Untoro Dradjat, Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala berujar sudah 224 candi perwara (candi-candi pendamping) yang didirikan kembali. Di atas kertas, sepuluh candi siap dinaikkan, walau sebelumnya sempat terjadi perdebatan di kalangan arkeolog apakah candi-candi yang sudah runtuh itu akan dinaikkan lagi atau dibiarkan begitu saja.

Kata Hari, mendirikan kembali semua candi tidak sama dengan kanibalisme, melainkan sebagai wujud dari persiapan yang matang. Karenanya ketahanan bentuk harus diperhatikan. Candi-candi yang direhabilitasi juga dikembalikan ke bentuk aslinya yang tahan gempa, tanpa ikatan-ikatan vertikal dan horisontal. Sebagai contoh adalah Bangsal Trajumas yang hancur akibat gempa padahal yang lain tidak hancur, karena Trajumas tidak dikembalikan ke bentuk semula.

Selain itu, penamaan akan dikembalikan sesuai dengan yang tertulis di prasasti, bukan berdasarkan nama desa tempat berdirinya candi. Misalnya Candi Prambanan yang terletak di Desa Prambanan Jawa Tengah, prasastinya bernama Siwagraha atau Siwalaya. Masyarakat juga akan diajak memberi informasi, seperti informasi tentang Candi Kimpulan di kawasan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta yang banyak didapat dari masyarakat.

Begitu pameran yang di Jakarta usai, pameran yang sama akan diadakan di Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada karena dua kampus itu memberi banyak kontribusi bagi penelitian candi-candi tersebut. Pameran juga akan diadakan di Stasiun Kota Jakarta karena ada kira-kira 10 ribu orang yang setiap hari datang ke Stasiun Kota. Setelah itu pameran akan digelar di Brunei Darussalam.

***
Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 17 Januari 2010

*Ini tulisan lama. Tadinya ngga mau diposting, tapi sewaktu dibaca lagi, ternyata banyak informasi menarik dari para cerdik pandai itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s