Mendengar Cerita Menyusun Legenda

Interaksi masyarakat dengan Sang Pencipta yang berpilin rapat dalam cara hidup sehari-hari membuat tiap jengkal bumi Candirejo punya makna batin, bahkan beresonansi ke siapa saja yang datang ke sini.

Hampir seluruh masyarakat Desa Candirejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah adalah Muslim, namun laku Kejawen tetap punya tempat dan terus dijalankan turun temurun. Satu contoh adalah saparan, yakni perayaan ruwatbumi dengan tujuan sebagai penolak bala dan bentuk syukur atas berkah yang diterima desa.

Saparan diadakan tiap Jumat Kliwon yang jatuh 35 hari sekali (sebelas kali dalam setahun), berlangsung dua hari, hingga Sabtu Pon. Saparan mempersembahkan uluwetu, yakni gunungan berisi hasil bumi berupa buah-buahan dan sayur-sayuran, kepada Dewi Sri sang pemberi rizki. Malamnya digelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk.

Budiyanto, pengurus Koperasi Desa Wisata Candirejo, Februari lalu menemani saya berkeliling desanya. Dia bercerita, tak ada desa yang sengaja melewatkan saparan jika tak ingin tertimpa bencana. Bencana itu bisa macam-macam bentuknya, bisa hama tikus, wereng, atau kera yang muncul secara tiba-tiba. Pernah terjadi di suatu desa yang menolak saparan, kambing yang ada di beberapa kandang mati karena diisap darahnya, padahal kambing di desa sebelahnya, yang mengadakan saparan, baik-baik saja.

Laku Kejawen yang berpadu mistis dapat dijumpai di Tempuran pada tengah malam. Tempuran adalah lokasi pertemuan tiga sungai; Sileng, Progo, dan Pabelan. Tiga arus bertemu, berpusar-pusar, mengangkat lumpur coklat ke permukaan. Tempuran bukanlah tempat biasa. Di sinilah para penganut Kejawen bermeditasi, membersihkan diri, ada juga yang minta pesugihan. Mereka datang pada tengah malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon untuk mandi, berendam (kungkum), atau hanya duduk di tepinya.

Desa Candirejo yang punya 15 dusun ini berada di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang menyimpan banyak kisah. Dulu, Candirejo adalah jalur gerilya Pangeran Diponegoro. Perbukitan Menoreh dianggap ideal sebagai tempat mengintai Belanda karena dari sini bisa melepas pandang ke tempat yang luas, selain medannya curam, berbatu-batu, dan mudah longsor.

Salah satu legenda yang masih hidup di Candirejo adalah tentang kera abu-abu berekor panjang yang hidup di sini. Mereka dipercaya sebagai keturunan Hanoman. Hingga sepuluh tahun lalu, kera abu-abu itu masih banyak di Candirejo, bergelantungan di setiap pohon. Tapi sekarang tinggal sedikit. Tak ada yang tahu apa sebabnya. Saya bahkan tak menemukan satu ekor pun kera selama berada di Candirejo. “Kera-kera itu munculnya memang tiba-tiba. Tahu-tahu saja tebing ini sudah penuh kera. Menghilangnya juga begitu. Tiba-tiba,” kata Budi.

Sebagai “bukti” bahwa kera abu-abu itu bukan kera biasa, Budi bertutur, pernah suatu masa, kera sedang banyak-banyaknya hingga merusak kebun. TNI sampai turun tangan hendak membasmi mereka menggunakan senapan. Ajaib, kabut mendadak turun, menutup pandangan para tentara. Selamatlah para kera.

Budi bercerita tentang saparan dan monyet keturunan Hanoman itu ketika kami berjalan kaki mendaki bukit menuju Watu Kendil di Dusun Butuh, Desa Candirejo yang juga “bukan tempat biasa”. Watu Kendil adalah batu berbentuk kendil (belanga tanah liat) sebesar rumah yang menempel kokoh di tubir jurang. Padahal bagian yang menempel di tanah diameternya tak lebih dari tiga meter, tapi dia tetap aman tak begerak, bahkan ketika gempa melanda Yogyakarta, tiga tahun lalu.

Penduduk meyakini Watu Kendil berfungsi sebagai batu sumpal dan dijaga seekor ular siluman hitam besar. Watu Kendil menyumpal mata air besar yang ada di bawahnya, sehingga jika batu itu berhasil menggelinding, akan keluar air berkekuatan sangat besar dari bumi. Tak ayal, Watu Kendil jadi lambang stabilitas kawasan Candirejo.

Di salah satu lekuk bukit yang lebih tinggi dari posisi Watu Kendil, terdapat tiga gua yang dinamakan Gondopurowangi, berarti gua pura yang beraroma wangi. Gua-gua ini adalah gua buatan, dulunya sebagai tempat berlindung sekaligus mengintai tentara Belanda. Budi tak tahu berapa usia gua ini dan siapa yang membuat, mungkin saja dibuat pasukan Diponegoro. Dari tempat yang tinggi begitu, bisa melepas pandang jauh tanpa terhalang.

Satu dari tiga gua itu bernama Gua Gantung. Inilah yang paling dikeramatkan. Untuk mencapainya harus menaiki tangga kayu vertikal setinggi tujuh meter. Tak heran kalau hanya sedikit yang pernah (atau punya nyali) untuk ke sana. Menurut cerita Budi, di dalam Gua Gantung terdapat singgasana dari batu, dan gua ini dipercaya memiliki jalan gaib menuju Gunung Merapi dan Pantai Selatan.

Dusun Paren Desa Candirejo ada di sisi Kali Progo. Dusun ini punya Sendang Bunder, pancuran kuno tempat dulu orang Hindu membersihkan diri sebelum masuk pura. Pura-nya sudah rata dengan tanah, namun tempat bersucinya terus ada sampai sekarang. Air yang keluar dari sela-sela batu andesit ini punya rasa sedikit manis, dan jika mencuci muka dari pancurannya dipercaya dapat menjadikan awet muda. Belum lama ini pancuran longsor. Akibatnya air dialirkan ke bagian yang lebih rendah sementara pancuran aslinya diperbaiki.

Dusun Paren juga punya Sarwono, laki-laki berusia 30-an yang bermukim persis di samping kelokan Kali Progo. Pada tahun 2003, tebing di dekat rumahnya longsor. Dia menemukan arca Dewa Syiwa setinggi 50 sentimeter serta dua lingga, masing-masing setinggi 30 sentimeter yang sebelumnya tertimbun tanah.

Kepala arca ditemukan terpisah dari tubuhnya. Sarwono tetap menjaga seperti ketika ditemukan, tidak dia rekatkan. Ketika gelap, menurut Sarwono, kepala arca ini memancarkan sinar hijau, badannya tidak bersinar. “Orang tua-tua di kampung bilang kharisma arca Dewa Syiwa ini setara dengan sepuluh kerajaan. Saya tidak tahu persis apa maksudnya.”

Dua tahun lalu, dengan menggunakan katrol, Sarwono mengangkat batu berbentuk yoni yang sebelumnya berada di tengah-tengah Kali Progo. Masyarakat menyebutnya batu gong, karena mengeluarkan bunyi gamelan yang, anehnya, hanya terdengar di seberang sungai. Tahun lalu, dari halaman rumahnya dia temukan juga bata-bata candi yang punya ukuran lebar tiga kali bata sekarang.

Seluruh temuan itu dia laporkan ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemkab Magelang yang kemudian datang memeriksa. Diperkirakan arca Syiwa dan lingga berasal dari abad ke-6 atau 7, masa pra-Mataram. Lebih tua dari usia Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-9, masa Mataram Kuno.

Temuan-temuan tersebut disimpan Sarwono di dalam rumah dan di halaman rumahnya, tidak diserahkan ke Museum Karmawibhangga di kompleks Candi Borobudur. Besar keinginan Sarwono agar pemerintah setempat membangun museum di Candirejo untuk menyimpan artefak bersejarah yang digali dari bumi Candirejo. Pasalnya Desa Candirejo ini berdiri di atas reruntuhan candi.

“Kalau diletakkan di sana, masyarakat sini tidak punya kebanggaan lagi. Kalau di Candirejo dibangun museum, orang dari tempat lain bisa melihat peninggalan yang didapat dari Desa Candirejo langsung di Candirejonya sendiri. Orang-orang jadi tahu bahwa tempat ini bersejarah.”

Satu lagi bukti bahwa Dusun Paren berdiri di atas reruntuhan candi adalah Masjid Tiban yang berjarak beberapa puluh meter dari rumah Sarwono. Masjid yang menghadap Kali Progo ini berdinding kayu dan gedhek, berukuran 7 x 8 meter. Bentuknya seperti jamak masjid di desa. Baru terlihat bedanya ketika menengok ke bawah. Pondasi masjid tak lain adalah bagian dasar candi, yakni batu-batu andesit lebar. Entah butuh wangsit atau tidak sebelum dahulu, bapak-bapak pemuka agama Dusun Paren, memutuskan mendirikan masjid di atas reruntuhan candi.

Silvia Galikano

Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 14 Maret 2010

Tulisan terkait bisa dilihat di sini dan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s