Saat (VOC) Berjaya di Laut*



Tujuan didirikannya Museum Bahari untuk mengingatkan kejayaan kelautan Nusantara di masa lampau nampak tak berjalan sesuai diinginkan. Kebesaran kerajaan maritim Nusantara tak terlihat dari artefak museum.

Oleh Silvia Galikano

Menurut informasi tentang museum-museum di Jakarta, Museum Bahari yang berlokasi di Jalan Pasar Ikan No.1 Jakarta Utara itu menyimpan koleksi perahu-perahu tradisional, kapal modern, juga perlengkapan penunjang kegiatan pelayaran.(jangkar, alat navigasi, meriam, teropong), teknologi pembuatan perahu tradisional, juga budaya masyarakat nelayan Nusantara sejak masa kolonial. Informasi tentang Museum Bahari memang selalu sebatas itu, kurang “menggigit”. Tapi, tak ada salahnya dicoba dulu.

Bersama seorang teman, Ahad (10/9) lalu, saya mendatangi Museum Bahari dengan tujuan awal merasakan masa jaya kerajaan maritim Nusantara. Namun ternyata kegagahberanian nenek moyangku yang pelaut itu sama sekali tidak terwakilkan dalam artefak museum.

Yang memprihatinkan, kondisi artefak seperti diletakkan tanpa perencanaan matang. Perahu-perahu nelayan tradisional (terutama yang berukuran kecil) bahkan seperti masuk gedung karena nyangsang, terbawa arus pasang air laut. Jangan ditanya masalah penerangan. Andalannya semata sinar matahari. Bukan hanya satu, melainkan ada beberapa ruang yang gelap gulita dengan kondisi jendela ditutup terkunci, padahal ada perahu di dalamnya.

Jangankan untuk mengamati perahu dan mengambil gambar, masuk ruangannya pun langkah terasa sangat berat. Bukan hanya gelap, tapi juga pengap dan lembap. Tak heran kalau museum ini pernah dijadikan lokasi segmen Uji Nyali di acara Dunia Lain, Ekspedisi Alam Gaib, juga untuk lokasi syuting Si Manis Jembatan Ancol, tiga acara yang berkaitan dengan hantu.

Dibandingkan artefak museum, justru sejarah bangunan museum itulah yang paling menarik. Kemegahan dan keindahan bangunannya membuat kita sesaat terlupa pada bau amis yang menyebar kuat begitu berbelok masuk Jalan Pasar Ikan.

Sejarah keberadaan bangunan ini jauh ketika VOC (1602—1799) sedang parah-parahnya digerogoti kasus korupsi oleh pegawai-pegawainya. Dibangun dalam tiga tahap, tahun 1718, 1773, dan 1774 untuk menyimpan, memilah, dan mengepak hasil bumi, terutama rempah-rempah, hasil bumi Nusantara yang membuat gilang gemilang negara liliput Belanda jauh di belahan bumi utara sana.

Belanda membangun beberapa gudang di muara sungai Ciliwung. Di sisi baratnya disebut Westzijdsche Pakhuizen atau Gudang Barat yang dibangun secara bertahap tahun 1652 hingga 1771. Sedangkan yang berada di sisi timur disebut Oostzijdsche Pakhuizen atau Gudang Timur, yang terdiri dari empat unit bangunan, dan tiga unit di antaranya sekarang digunakan sebagai Museum Bahari.

Pada masa pendudukan Jepang, gedung-gedung ini digunakan sebagai tempat menyimpan barang-barang logistik tentara Jepang. Setelah masa kemerdekaan, difungsikan sebagai gudang oleh PLN dan PTT. Setelah dipugar tahun 1976, bangunan cagar budaya ini diresmikan sebagai Museum Bahari pada 17 Juli 1977 oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.

Jika berkesempatan mendatangi museum ini, hal wajib dilakukan adalah menelusuri setiap sudut bangunannya, termasuk naik ke menara penjagaan, sudut terbaik untuk mengambil foto. Jangan lupa, perhatikan pula dinding museum yang lembap dan berlumut, dan air laut saat pasang meninggalkan jejak di dinding. Kondisi lembap pula yang melapukkan kusen-kusen jendela museum. Karya arsitektur Belanda yang kualitas materialnya dipuji tahan panas dan hujan, pada akhirnya harus menyerah pada deraan air yang pernah pasang mencapai ketinggian dua meter.

Datangi pula pasar ikan yang berada di seberang Museum Bahari. Di sini dijumpai jangkar-jangkar sederhana yang umum digunakan perahu motor nelayan hingga jangkar bekas kapal perang yang tingginya mencapai dua meter. Dijual pula tambang kapal berbagai ukuran. Jangkar dan tambang diletakkan di luar toko, tersiram hujan dan tersengat panas, serta kotor
. Tinggal dibersihkan sedikit, maka akan akan tampil secantik barang-barang antik yang dijual di Jalan Surabaya. Tentu saja dengan harga yang jauh lebih murah.

Melangkah beberapa meter dari Museum Bahari, berdiri megah Menara Syahbandar yang didirikan VOC tahun 1839 untuk pengawasan di laut dan sekitarnya. Menara setinggi 18 meter itu berada tepat di sebelah barat Kali Besar, sungai yang menjadi “jalan tol” perdagangan dari dan ke kota Batavia. Di luar menara, terdapat dua meriam yang moncongnya diarahkan ke Kali Besar.

Tentu saja sekarang Anda tak dapat menemukan Kali Besar yang berukuran lebar (menurut peta zaman Belanda, lebar Kali Besar mencapai lebih dari 50 meter, dua kali lebih lebar dari lebar Kali Ciliwung), berarus deras, dan bersih. Sekarang, kita malah bisa berjalan kaki santai di atas Kali Besar, karena di sungai bersejarah itu sudah menumpuk sampah, berbau menyengat, dan lalat besar beterbangan di mana-mana.

Kondisi ini tak lepas dari kebijakan pemerintah tahun 1985 untuk membuat kali di sisi Jalan Pakin, sungai kecil yang melintang dari timur ke barat, membelah Kali Besar. Air yang sebelumnya mengalir lancar melalui kali yang lama di muka dan di belakang Museum Bahari dan terus mengalir ke Muara Baru, hingga ke Teluk Jakarta.

Penutupan saluran air di antara Museum Bahari dan bekas “pulau” Pasar Ikan menyebabkan, antara lain, permukaan air tanah naik, sehingga tembok museum yang tebal itu selalu lembap dan balok kayunya semakin rusak. Kali Besar di sebelah selatan Pintu Air di Pelabuhan Sunda Kelapa tidak bergerak lagi dan menimbulkan bau busuk.

Belum sah rasanya mengunjungi Menara Syahbandar tapi tidak naik hingga puncak. Kelelahan menempuh delapan bagian tangga yang masing-masingnya terdiri dari tujuh anak tangga kayu terbayar begitu kami mencapai bagian teratasnya. Dari sini mata bisa melepas pandang ke arah utara hingga ke sebagian Teluk Jakarta, memperhatikan kesibukan Bandar Sunda Kelapa dengan kapal-kapal pinisinya.

Kami baru menyadari saat penjaga menara mengingatkan bahwa masih ada satu bagian lagi di atas yang belum kami lihat. Berbeda dengan 56 anak tangga yang barusan kami lewati, lebar dan landai, maka 12 anak tangga ke loteng menara terhitung curam dan sempit. Yang disebut loteng adalah papan selebar 2 x 2 meter (mirip mezzanin) di sisi atap yang mengarah ke utara, tanpa pembatas apa pun di sisi-sisinya.

Bagi yang takut ketinggian, sebaiknya tidak usah naik hingga loteng, pasalnya, kondisi loteng yang tanpa pengaman akan membuat gamang dan menimbulkan pikiran kalau kita bisa jatuh kapan pun ke lantai di bawahnya yang berjarak lima meter. Diperparah dengan truk-truk besar bermuatan berat yang lalu lalang di jalan depan menara membuat guncangan lumayan keras di loteng menara selama beberapa detik.

Galangan Kapal VOC

Dari Menara Syahbandar, menyeberang Jalan Pakin, di ujung Jalan Kakap terdapat bangunan anggun restoran VOC Galangan. Tempat terbaik untuk menikmati menu andalan restoran, yakni sop buntut dan steak saus asparagus, adalah di teras lantai dua. Ditemani semilir angin laut, mata dimanjakan dengan interior kolonial, termasuk lekukan-lekukan besi penyangga atapnya.

Ternyata, restoran ini punya sejarah sama panjang dengan sejarah gedung Museum Bahari. Menurut data-data lama, Galangan Kapal (termasuk gedung Museum Bahari dan Menara Syahbandar) berdiri di atas tanah urukan yang sampai tahun 1522 masih berupa laut. Nama lengkapnya Compagnies Timmer – en Scheepswerf, yaitu Bengkel Kayu dan Galangan Kapal Kompeni, berdiri sejak tahun 1632 di atas tanah urukan di tepi barat Kali Besar.

Gedung Utama di Galangan Kapal mirip gudang-gudang abad ke-17, dengan demikian termasuk gedung-gedung tertua di Jakarta yang masih ada. Konstruksinya kuat dan bertahan, walaupun selama puluhan tahun tidak dirawat dan digunakan sebagai gudang maupun bengkel.

Pada tahun 1923, de Haan menulis tentang gedung ini: “Betapa sederhana pun semuanya disusun, kami mencatat dengan senang hati proporsinya yang bagus dari pilar-pilar kayu serambi y
ang bertingkat dua itu, seperti pula pembuatan balok dan lis kayu yang merupakan peralihan dari arsitrap beranda bawah kepada langkam di atasnya. Tak kalah pula kesungguhan yang dipakai untuk membuat balustrade (langkam) yang terdiri dari pilar-pilar kecil yang dibubut dan berdiri rapat-rapat….

Galangan Kapal dipakai untuk memperbaiki kapal-kapal besar yang berbulan-bulan lamanya berlayar, juga untuk membuat kapal-kapal kecil. Walaupun sejak tahun 1618 perbaikan kapal-kapal besar sudah dipusatkan di Pulau Onrust, namun perkakas kerja, material, dan tukang-tukang tetap diatur dari Galangan Kapal di tepi Kali Besar dan sebagian besar barang disimpan di tempat ini.

Di tahun 1826 hingga 1859, Galangan Kapal digunakan oleh orang yang datang dan pergi dengan kapal laut, baik orang biasa maupun pejabat-pejabat tinggi. Di tempat ini mereka naik atau turun dari sampan yang membawa mereka ke atau dari kapal-kapal besar, yang terpaksa berlabuh lepas pantai karena pelabuhan terlalu dangkal.

Mulai abad ke-19, Galangan Kapal menjadi milik Pensioensfonds voor de Europeese en voor gelijkgestelde militairen beneden den opsier in N.I (Dana pensiun untuk tentara Eropa dan yang dipersamakan, bagi opsir dan yang berpangkat lebih rendah, di Hindia Belanda). Tempat ini juga pernah digunakan sebagai tempat penggilingan kopi (koffiepellereij) pada tahun 1920.

Sebelum dipugar, gedung bekas Galangan Kapal VOC ini telah dipakai sebagai gudang sewaan selama puluhan tahun. Barang-barang terakhir yang tersimpan di dalamnya adalah bahan kimia serta cairan yang mengandung minyak serta oli. Sisa-sisa bahan ini mengotori segala tempat, baik di dalam gedung maupun di halaman sekitarnya. Lambat laun kerusakannya makin parah. Hal ini diperburuk pula oleh faktor lain seperti naiknya permukaan air tanah. Desakan air tanah tersebut sangat berkaitan dengan timbunan sampah yang menutup Kali Besar di Pasar Ikan, serta penggalian Kali Pakin tahun 1985.

Sejak tahun 1950-an hingga kini, Galangan Kapal menjadi milik pribadi dengan kepemilikan yang berpindah-pindah. Pemilik terakhir, Ny. Susilawati, merenovasi total Galangan Kapal tahun 1998. Setahun kemudian, restoran Very Old Café (VOC) diresmikan.

Dimuat di Jurnal Nasional, September 2006.

*Sebelum upload tulisan & foto-foto ini, saya tidak meng-up-datesituasi museum. Semoga sudah lebih baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s