Juwet


Di Suroboyo, aku kenal buah ini dengan nama juwet.
Bikin gigi ungu, bikin baju ungu. Kenapa baju?

Pohon juwet tumbuh di sejumlah pekarangan tetanggaku di Suroboyo. Di pekaranganku tak ada pohon juwet.
Siang, anak SD ini pulang sekolah bergerombol, melewati rumah Pak Widodo di ujung Jalan Telaga I yang halamannya ditumbuhi beberapa pohon juwet. Buahnya hitam berkilat-kilat. Semakin ungu warna dagingnya, semakin manis rasanya. Semakin putih warna dagingnya, semakin sepat dia.
Kami melompati pagar bambu yang tingginya hanya sepinggang di halaman samping rumah hoek itu. Satu teman naik ke pohon untuk merontokkan buah-buahnya, sedangkan kami di bawah memegang tepi rok, mengangkatnya hingga setinggi pinggang, menjadikannya alat penampung juwet yang rontok.
Mendengar ada kegaduhan, Bu Widodo ke luar, memarahi bocah-bocah yang langsung tunggang langgang. Biarlah, asal juwet aman di pelukan. Membagi hasil jarahan di tempat aman, di panasnya siang Suroboyo.
Hampir 30 tahun berselang (anjrit, buka umur akhirnya), terjumpai lagi buah hitam berkilat-kilat itu. Di Bekasi, jamblang namanya. Masih dengan rasa yang sama. Ungu yang sama. Kali ini, beli di pasar.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.