Sakit Maag


Aku di angkot, pagi tadi, duduk di samping pak supir. Masih belum jauh dari rumah. Di tepi jalan, berjalan melawan arah, seorang kurus, berkulit gelap, berjaket hitam. Karena kukira laki-laki, maka kukira rambutnya gondrong sebahu. Jarak kami semakin dekat. Ah laki-laki berwajah tirus, berpipi cekung. Ngga kenal, tapi pandanganku seolah terkunci ke wajahnya. Terus kulihat dia.

Masya Allah, itu Henny!

Henny tetanggaku sekaligus teman satu SMP. Dulu kami sama-sama anak baru di kelas 3 SMP di Jatiasih Bekasi ini. Aku pindahan dari Surabaya, Henny pindahan dari Ambon. Kami berangkat bareng, pulang bareng. Ukuran badan kami bisa dibilang serupa. Karena aku juga berkulit gelap dan berambut keriting, jadi sering ditanya apakah kami adik-kakak.

Selepas SMP, mulai bercabang jalan kami. Frekuensi pertemuan tak sesering dahulu. Kadang berpapasan saat ke minimarket di depan kompleks, kadang barengan di angkot. Henny masih sama. Badannya masih kongruen denganku.

Setahun lalu aku seangkot lagi dengan Henny setelah ngga ketemu entah berapa lama. Sangat lama. Mungkin lebih dari setahun. Aku sudah duduk manis di angkot, naik dari jalan tikus di samping kompleks. Tak lama, naiklah seorang perempuan yang keluar dari gerbang resmi kompleks. Pakaian mbak-mbak kantoran. Kurus, pipi cekung, matanya bulat menonjol.

Bukankah itu Henny? Aku ragu menyapa. Mengapa sekurus itu? Apa yang terjadi? Tapi tidak mungkin aku langsung tanya “kenapa lu jadi kurus begini???” Ngga sopan, kata papa.


Caraku bertanya yang paling sopan, “Kok ngga pernah kelihatan?”
“Gue sakit, tiga bulan.”
“Heh? Sakit apa?”
“Maag. Makanya badan gue sampe habis begini.”

Bingung mau tanya apa lagi karena merasa bersalah, teman sakit sampe tiga bulan kok ngga tahu.
“Sekarang mau ke mana?”
“Mau anter surat lamaran ke Penabur. Di tempat yang dulu gue resign karena sakit itu.”
Sejak pertemuan di angkot itu, aku belum bertemu dia lagi hingga tadi pagi, aku di angkot berangkat kerja, dia berjalan ke arah pulang.

Sungguh, sebelumnya, aku menganggap sakit maag itu sakitnya cewek-cewek keganjenan yang berharap ditelpon cowoknya untuk ngingetin makan. “Sudah makan, belum?” Pertanyaan basa-basi. Dan si cewek ngga bakal jawab, “Emang kalo belon makan, elu mau anter makanan ke sini?!!” Evi, pertanyaan itu untuk pembuka obrolan yang isinya cewek merajuk dan cowok membujuk.

Sejak aku kecil, mama sudah bilang aku punya sakit maag (ini bener ngga sih istilahnya? Punya sakit maag?). Ngga tau itu info dari mana dan berdasar apa. Aku ngga pernah merasakan lambungku melilit dan seterusnya seperti yang dikeluhkan cewek-cewek keganjenan itu. Sewaktu rutin akupuntur mberesin lutut, dua tahun lalu, dr.Ferry pegang pergelangan tanganku, tanya, “Sering kambuh maag-nya?” Enggaaaa, sumpah deh ngga pernaaahhh. Beneran tah aku punya sakit maag?

Dan ketika sakit maag itu kambuh beneran, aku teler sepekan di tempat tidur. Lambung ngga melilit, tapi tiap disuapin makan, keluar semua. Duduk agak lama bisa gemetar. Inilah yang dirasakan Henny selama tiga bulan sampai badannya kurus, pipinya cekung, dan membuatnya tampak seperti laki-laki. Semoga Henny segera diberi kesembuhan. Pulih lagi seperti dulu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s