Meretas Stereotipe

Oktober ini, buku Mereka Bilang Aku China: Jalan Mendaki menjadi Bagian Bangsadiluncurkan. Penulisnya Dewi Anggraeni, 65 tahun, menyebut diri sebagai novelis walau dia juga menulis buku nonfiksi. 

Oleh: Silvia Galikano

Sudah 40 tahun Dewi mukim di Melbourne, Australia dan bersuamikan orang Australia. Dari Melbourne dia melihat Indonesia secara utuh, bukan keping per keping seperti jika melihat dari dekat.

Mereka Bilang Aku China berisi cerita delapan perempuan Tionghoa tentang keberadaannya sebagai orang Indonesia keturunan Tionghoa. Delapan nama dipilih dari sederet nama karena 8 adalah angka hoki di masyarakat Tionghoa. Mereka adalah Susi Susanti, Esther Indahyani Jusuf, Linda Christanty, Maria Sundah, Jane Luyke Oey, Milana Yo, Mawarni Saputra, dan Meylani Yo.

Jumat (22/10) siang lalu, saya temui Dewi di rumah budayawan Goenawan Mohammad di Pulomas, Jakarta. Rumah sahabatnya yang juga jadi “rumahnya” kalau dia ke Jakarta.

Perempuan Tionghoa ini bercerita bahwa ide tentang buku itu sudah lama, saat masih bekerja full time sebagai guru sekolah menengah dan berlanjut sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi di Melbourne. Tentang perhatiannya pada isu etnis Tionghoa yang sudah lama ada dan semakin kuat pasca-Orba.

“Ketika itu, saya membaca tulisan-tulisan, termasuk esai, tentang etnis Tionghoa di Indonesia, saya merasa ada yang luput, tapi tidak tahu apa,” kata Dewi. Karena masih terbentur waktu, belum ada banyak kesempatan untuk pengendapan dan mencari jawaban.

“Setelah saya tidak terikat dengan pekerjaan, tulisan-tulisan itu baca ulang. Ternyata yang luput adalah orang-orang yang tidak cocok dengan stereotipe. Tokoh-tokoh yang cocok dengan stereotipe selalu diangkat dengan mudah, sedangkan yang jauh dari stereotipe selalu jatuh dalam lubang hitam editor karena dianggap tidak punya nilai berita.”

Maka bukan kebetulan jika delapan narasumber Mereka Bilang Aku China tidak klop dengan stereotipe yang dilekatkan pada orang Tionghoa. Stereotipe yang dimaksud seperti mata duitan, hanya bisa berdagang, mementingkan diri sendiri, semuanya orang kaya, dan eksklusif. Dewi memberi penekanan lebih saat menyebut “eksklusif”.

Ambil contoh Susi Susanti yang pebulu tangkis, menyumbangkan medali emas untuk Indonesia di Olimpiade Barcelona 1992 tapi kerap dipertanyakan keindonesiaannya serta Esther Indahyani Jusuf yang aktivis pembela HAM di bidang antidiskriminasi dan antirasialisme.

“Memang ada orang-orang yang seperti distereotipekan, tapi mereka jadi menonjol karena disorot. Hal ini diperkuat dengan imaji-imaji dan produk hukum yang dikeluarkan di masa Orde Baru.”

Produk hukum yang dimaksud antara lain simbol-simbol Tionghoa dilarang, nama Tionghoa didorong untuk diganti menjadi “nama Indonesia”, tahun baru Imlek tidak boleh dirayakan, dan menyebarkan kesan bahwa orang Tionghoa jahat, buruk.

Produk hukum, kata Dewi, seperti memberi restu atas stereotipe yang sudah ada sejak sebelum Orba, sekaligus memadatkannya. “Akibatnya kalau kita mendengar orang India kaya tidak apa-apa, tapi kalau China, ‘eeuugghh’.”

Disudutkan oleh stereotipe dan produk hukum Orba membuat orang Tionghoa jadi sangat mumpuni di sudutnya. Sangat rajin bekerja dan punya tekad kuat, kata Dewi. “Sebenarnya itu manifestasi dari kondisi sudah dipojokkan dan tidak punya pilihan lain.”

Memadatkan Keindonesiaan

Dewi dibesarkan pada masa pra-Soeharto. Selulus kuliah di Sastra Prancis UI, dia mendapat tawaran mengajar bahasa Prancis dan bahasa Indonesia di sekolah Strathcona di Melbourne. Tawaran yang tidak perlu pikir dua kali, langsung dia ambil.

Maka pada 1970, Dewi ke Australia. Pada masa Orba itu dia hanya 2-3 kali pulang ke Indonesia. Di Australia, Dewi mengajar sambil menjadi koresponden majalah Tempo dan menulis fiksi. Di sini juga dia meraih gelar master dan menikah dengan orang Australia. Dari perkawinan tersebut beroleh dua anak. Sekarang Dewi nenek dari dua cucu.

Dengan tinggal di Australia, Dewi tidak merasakan krisis identitas sebagaimana orang Tionghoa di Indonesia, sebaliknya semakin memadatkan rasa keindonesiaannya. “Melihat Indonesia dari jauh membuat saya paham mengapa terjadi sengketa antara Indonesia dan Australia, atau antara Indonesia dan Malaysia, atau kejadian lain yang terjadi di Indonesia.”

Dewi, misalnya, tidak seemosional rekannya yang tinggal di Indonesia ketika menyalahkan pemerintah atas satu peristiwa. Orang Tionghoa yang ada di Indonesia, menurutnya, geram akibat perlakuan rezim dan tidak punya tempat untuk lari.

Menjadi Tionghoa di Australia dirasakannya beda dengan di Indonesia. Australia adalah negara imigran. Jadi posisinya adalah etnis Tionghoa yang jadi warga negara Australia. Sama halnya dengan etnis-etnis lain di sana.

Sedangkan di Indonesia, yang dirasakan orang Tionghoa beda dengan anggapan orang luar (pribumi). Orang Tionghoa merasa sebagai orang Indonesia, sedangkan bagi orang lain dianggap sebaga
i bagian dari Tiongkok.

“Saya lebih merasa sebagai orang Indonesia dibanding orang Tionghoa. Saya bahkan bingung apa ketionghoaan saya kecuali warna kulit. Kalau mendengar kecapi Sunda, rasanya ‘duh’ (Dewi mengurut dadanya, Red), sedangkan kalau mendengar musik Tionghoa ya rasanya tak ada bedanya dengan mendengar musik India. Tidak ada ikatan emosionalnya.”

Dari garis bapak, Dewi punya darah Betawi, sedangkan dari garis ibu, mengalir darah Sunda. “Perbandingannya 70:30,” katanya, menyebut darah Tionghoanya lebih dominan.

Dia pun bercerita tentang nama. Nama Tionghoanya Tan Soen May. Tapi sejak 1963, sebelum ada peristiwa G30S, dia pakai nama Dewi Anggraeni. Setelah terjadi peristiwa G30S, ketika orang Tionghoa disarankan untuk mengindonesiakan nama mereka, Dewi justru kembali ke nama Tionghoanya.

“Karena semakin saya dipaksa untuk menggunakan nama Indonesia, semakin keras penolakan saya. Ketika di Australia saya kembali pakai nama Dewi Anggraeni karena di Australia tidak ada tekanan apa pun. Dan saya lebih nyaman dengan nama Dewi Anggraeni.”

Tidak Merasa Dihina

Buku Mereka Bilang Aku China makan waktu tiga tahun pengerjaan. Dewi datang ke Indonesia untuk ngintilin sekaligus wawancara satu narasumbernya selama berhari-hari, lantas terbang ke Australia untuk menulis.

Selesai satu narasumber, dia ke Indonesia lagi untuk melakukan hal yang sama dengan narasumber lain. Begitu terus hingga delapan narasumber, dan seluruhnya diongkosi dari kantong pribadi. Royalti buku tentu tidak menutup modal bikinnya.

“Saya habis ribuan dolar Australia. Saya membuat buku ini bukan bertujuan cari untung. Bukan seperti anggapan orang bahwa saya mengeksploitasi orang lain.” Pada 10 November nanti akan diluncurkan versi bahasa Inggrisnya, berjudul Breaking the Stereotype, di Melbourne University.

Sempat saya tanyakan alasan dia menggunakan “China” dan bukan “Tionghoa”. Tak dikira, ternyata sebelumnya dia bikin judul Mereka Bilang Aku Cina (tanpa “h”). Penerbitlah yang menambahkan huruf “h” agar tidak terjadi salah paham pada pembaca.

Dewi tak menganggap penyebutan Cina berarti merendahkan. “Yang saya kira tidak masalah, ternyata di sini menjadi masalah. Buat saya, sama saja ‘Cina’ , ‘China’, ‘Tionghoa’. Karena diprotes sana-sini, ya sudah, saya mulai membiasakan menyebut ‘Tionghoa’, bukan ‘Cina’.” Ringan saja dia jelaskan ini.

Saat Dewi masih di Indonesia dulu, kata “Cina” belum mengalami penyempitan makna. Belakangan, istilah itu digunakan rezim yang berkuasa untuk menghina.

“Tujuan Orde Baru sengaja membelokkan kata ‘Cina’ untuk menghina. Kalau kita merasa dihina dengan sebutan ‘Cina’, berarti berhasil tujuan Orba untuk membuat kita merasa terhina. Saya tidak merasa dihina dengan sebutan Cina. Kalau ada yang tanya ‘Kamu Cina?’ Saya jawab ‘Ya, saya Cina’.”

Dimuat di Jurnal Nasional, Selasa 26 Oktober 2010

***

Dewi Anggraeni (Tan Soen May)

Tempat, tanggal lahir: Jakarta, 16 April 1945

Suami: Ian Fraser

Anak-anak: Eric dan Trisnasari

Pekerjaan:

Jurnalis Tempo, Forum Keadilan, dan The Jakarta Post
Kontributor Pesona, Femina, The Peak, Global Asia, The Age, The Australian, The Australian Financial Review.

Karya fiksi/novel:

The Root of All Evil
Parallel Forces
Stories of Indian Pacific

Journeys through Shadows

Neighbourhood Tales
Snake

Karya nonfiksi:

Who Did This to Our Bali?

Dreamseekers: Indonesian Women as Domestic Workers in Asia

Breaking the Stereotype (Mereka Bilang Aku China)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s