Aksi Kolosal Pelaut Mandar

20120917_MajalahDetik_42_a2 copy

Orang Mandar punya semboyan yang diwariskan dari leluhur mereka: Dota lele ruppu dari na lele di lolangang. Lebih baik hancur perahu daripada mundur dalam pelayaran.

Oleh Silvia Galikano

Berjajar-jajar sandeq langsing putih bergerak laju agak ke tengah perairan Majene, Sulawesi Barat. Layar-layar putih cembung didorong angin. Tepi layarnya terikat kencang ke tiang yang tinggi. Hanya satu layar untuk satu sandeq.

Sandeq-sandeq itu sedang berlomba di acara tahunan Sandeq Race 2012. Ada penanda di tiga titik yang harus dilalui sandeq sebelum kembali ke pantai. Di tiga titik yang membentuk segitiga itulah sandeq dinilai. Kelihaian melayarkan perahu, kekuatan fisik, dan kecermatan membaca arah angin diuji di sini.

ImageDi tiap titik mereka berbelok, seketika itu riuh tercipta. Sahut bersahut suara pemegang kemudi memberi komando ke tiga passandeq (peserta) lainnya, ke mana layar harus diarahkan, kapan layar harus dibelokkan, siapa saja yang harus segera berlari ke palato (cadik), siapa yang tetap di tengah, dan kapan dayung harus digunakan.

Jika angin sedang saja, sandeq diisi dua orang, yakni jurumudi dan pengembang layar, sedangkan dua lainnya berdiri di palato sebagai penyeimbang layar. Tapi jika angin demikian kuat, sandeq bisa hanya berisi satu orang, yakni sang jurumudi. Tiga lainnya bergerak sigap ke palato. Semua dilakukan serbacepat di tengah laut tanpa tali pengaman, tanpa pelampung. Tiga laki-laki berdiri berderet di seruas bambu betung! Tak ada yang mereka takutkan seolah laut sama ramahnya dengan darat.

Image
Mendorong sandeq ke pantai.

Sandeq adalah perahu khas Mandar berbentuk langsing mungil sepanjang 7 meter dan lebar 1 meter. Berbanding terbalik dengan perahu adalah layarnya. Tinggi tiang layar sandeq bisa mencapai 20 meter dengan bentangan layar hingga 5 meter. Yang tidak terbiasa melihat sandeq pasti mengira layar selebar itu bisa bikin sandeq terjungkal kapan saja, apalagi kalau mendadak angin berubah arah. Woho! Tunggu dulu, bukan pelaut Mandar namanya kalau tidak menguasai teknik melayarkan sandeq.

Aksi kehebatan para pelaut Mandar itu sejak 1995 jadi tontonan menarik yang dikemas dalam Sandeq Race. Tahun ini adalah gelaran ke-13. Rute awal pelayarannya adalah Mamuju – Makassar sejauh 480 km. Pada 2004 terbentuk Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) yang wilayahnya antara lain Mamuju dan Majene. Maka yang tadinya  seluruh wilayah pelayaran adalah Sulawesi Selatan, berubah administrasinya jadi Sulbar ke Sulsel.

Image
Jajaran sandeq di kejauhan.

Tahun ini, rute Sandeq Race diperpendek hingga separuhnya, yakni Mamuju – Poliwali (Sulbar – Sulbar). Menciutnya rute hanya “di dalam kandang” tentu menimbulkan banyak pertanyaan dan tak sedikit yang kecewa karena masyarakat Sulbar menganggap bisa ikut Sandeq Race adalah sebuah prestise. Apa lagi jika dilihat filosofinya, rute Mamuju – Makassar adalah untuk mengingatkan bahwa Mandar, Bugis, Makassar, dan Bajau punya akar sama sebagai suku laut. Kalau dipendekkan begini tidakkah juga mereduksi semangat Sandeq Race?

Gubernur Sulawesi Barat Anwar Adnan Saleh menjawab pertanyaan ini usai melepas etape maraton Sandeq Race ke Poliwali di Majene, 4 September 2012. Menurutnya, Sulsel sekarang sedang dalam proses pilkada gubernur yang diikuti Gubernur Sulsel petahana Syahrul Yasin Limpo dan Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin.

Image
Pembuatan sandeq untuk mencari ikan.

Jika Sandeq Race mengakhiri pelayarannya di Makassar, siapa yang akan menjadi tuan rumah? Bukan karena tidak ada tuan rumah, sebaliknya, gubernur Sulsel dan walikota Makassar bisa saja berebut jadi tuan rumah mengingat Sandeq Race adalah acara besar dan moment yang bagus untuk ditumpangi.

“Kesepakatan dengan gubernur Sulawesi Selatan dan walikota Makassar, lebih baik Sandeq Race tidak dilibatkan dalam persaingan. Bukan karena alasan yang lain. Kalau bisa, sandeq dilayarkan ke Pulau Jawa atau Kalimantan,” Anwar menegaskan.

Sandeq Race yang dihidupkan Horst H. Liebner, antropolog maritim berkebangsaan Jerman,  bukanlah pelayaran sekali jalan selesai. Lomba yang tahun ini diikuti 31 peserta itu terdiri dari beberapa etape. Dimulai di Mamuju dengan lomba segitiga, keesokannya marathon Mamuju – Deking.

Image
Sandeq bermesin siap melaut.

Etape kedua Deking – Somba. Etape ketiga Somba – Majene. Setelah lomba segitiga di Majene, dilanjut marathon Majene – Pantai Bahari Polewali, dan ditutup dengan lomba segitiga di Polewali. Pemenang seluruh etape akan membawa pulang uang Rp25 juta.

Tak seluruhnya mulus. Ada sandeq yang baru berlayar sebentar untuk lomba segitiga, memutuskan balik ke pantai guna menyimpan energi untuk marathon keesokan harinya. Ada sandeq yang merapat ke pantai akibat tiang penopang layarnya patah di tengah jalan. Patah tiang penopang layar tentu bukan apa-apa bagi passandeq karena bisa segera diganti di darat dan besok berlayar lagi. Mereka pelaut Mandar yang pantang mundur dalam pelayaran.

***
Dimuat di majalah detik edisi 42, 17-23 September 2012

Advertisements

4 Comments

  1. hai salam kenal, auk (bener ini panggilannya?).
    anda tamu pertama saya di rumah baru ini lho.
    senang sekali 😀
    btw apakah anda ada hubungan dengan warmorning (? or something gitu deh).
    ngga inget saya baca di mana nama itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s