Yang Bergulat di Tanah Borneo

Image
Danau Laet

Hilangnya hutan di paru-paru dunia bukan hanya merusak habitat hewan. Manusia yang sangat lihai beradaptasi pun porak poranda peradabannya.

Oleh: Silvia Galikano

“Selamat datang di Pontianak, Kalimantan Barat, tapi kami lebih suka menyebutnya West Borneo karena istilah Kalimantan itu politis. Pontianak ini ibukota administratif, sedangkan kota perekonomiannya di Kuching.”

Image
Alexander Mering

Dua kalimat itu terang saja membuat kami, yang datang dari Jakarta dan tak banyak tahu tentang Kalimantan, terhenyak. Melalui kalimat satir, Program Manager Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM) Peduli-Yayasan Pemberdayaan Pefor Nusantara (YPPN) – Kemitraan Alexander Mering, Senin 28 Januari 2013 lalu memaparkan adanya ironi di pulau terbesar ke-3 di dunia. Bahwa ternyata ada dorongan untuk mengembalikan nama Kalimantan menjadi Borneo, dan percaya atau tidak, Kuching yang notabene ibukota Negara Bagian Sarawak, Malaysia Timur diakui penduduk Indonesia sebagai kota yang penting bagi keseharian mereka.

Dorongan untuk mengembalikan nama Kalimantan menjadi Borneo kaitannya tidak sesederhana ganti stempel kantor pemda atau ngurusi eyel-eyelan bahwa Kalimantan menunjukkan wilayah Indonesia dan Borneo itu wilayah Malaysia. Inilah upaya masyarakat lokal menunjukkan keberadaannya sebagai penentu nasib atas wilayahnya sendiri. Dan suku Dayak sebagai masyarakat asli (indigenous people) Borneo, jadi pihak paling keras bergulat dengan masalah besar ini.

Masyarakat Dayak yang bertato, tidak berbaju, dan hidup tenang di hutan dari hasil berburu sudah nyaris tidak ada.  Hutan sudah berkurang sangat banyak. Dari 53,7 juta hektare luas Kalimantan tinggal 40,8 juta hektare yang jadi hutan di seluruh provinsi di Kalimantan. Sedangkan hampir 3,2 juta hektarenya jadi kebun sawit.

Di Kalbar, sawit mulai ditanam secara massal pada 1982 dan sekarang kebun sawit yang sudah beroperasi sudah memakan 900.000 hektare sedangkan lahan untuk tambang 1,5 juta hektare dari luas Kalbar yang 14,7 juta hektare. Jangan lega dulu dengan selisih angka yang besar itu, karena kabar buruknya perusahaan sawit dan pertambangan sudah melahap habis perizinan di Kalbar, kecuali untuk hutan lindung dan taman nasional yang memang tidak dapat diutak-atik.

Image
Perambahan hutan berjalan terus di Dusun Loncek

Hilangnya hutan tentu mengubah peradaban masyarakat, salah satunya di Loncek, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar yang umumnya dihuni suku Dayak Kanayatn/ Dayak Salako. Kesenian tradisional praktis hilang, berganti karaoke tempel, istilah setempat untuk organ tunggal dengan penyanyi berbaju minim. Untuk mencegah lebih banyak lagi budaya Kanayatn yang hilang, PNPM Peduli-YPPN-Kemitraan menggalang masyarakat untuk melestarikan budaya setempat. Para relawan yang juga terdiri dari pemuda Loncek, mengajarkan masyarakat muda untuk mulai mencatat tempat-tempat keramat dan sejarah kampungnya sendiri.

“Karena dua hal itu hanya diketahui penduduk sendiri, bukan orang lain. Kecenderungannya malah sekarang yang muda-muda tidak tahu tempat-tempat keramat dan sejarah kampungnya. Karena itu mereka harus bertanya pada yang tua-tua, lalu mencatatkannya,” kata Mering.

Image
Tari Topeng Bela’

Upaya lain adalah mengangkat kembali kesenian yang mulai terlupa, misalnya Tari Topeng. Penarinya mengenakan topeng bermimik seram, memegang tongkat, dan sekujur tubuhnya ditempeli tanaman. Mereka bergerak ritmis diiringi pukulan gong. Maksud tarian asli Dayak Kanayatn ini adalah untuk tolak bala.

Tari Topeng terdiri dari tiga jenis: Topeng Bela’ yang ditarikan untuk menyambut tamu, Topeng Kara’ untuk acara perkawinan, dan Topeng Buta untuk acara sunatan karena Dayak Kanayatn juga mengenal sunat. Dari tiga jenis ini, yang terakhir dimainkan adalah Topeng Buta, itupun empat tahun lalu, karena pada 2010 ketika perusahaan sawit masuk, Tari Topeng mendadak terasa kuno, kalah keren dibanding karaoke tempel.

Topeng Buta dan Topeng Kara’ lebih kurang mirip kesenian Kuda Lumping. Sebelum menari, penarinya dibacakan mantra terlebih dahulu oleh dukun, lalu mereka menari dalam keadaan kesurupan. Sedangkan Topeng Bela’ tidak perlu ada pembacaan mantra dan penarinya menari dalam keadaan sadar.

Topeng Bela’ kini dimainkan jika ada tamu yang berkunjung ke Loncek. Sejauh ini baru cara itulah yang efektif untuk mengingatkan masyarakat muda bahwa suku Dayak juga punya Tari Topeng selain tari Jonggan dan tari Hudoq yang sudah dikenal luas.

MASYARAKAT Loncek juga punya solusi mencegah merangseknya perusahaan sawit dengan memanfaatkan hutan negara menjadi hutan desa. Dasarnya adalah Permenhut no 49 tahun 2008 tentang Hutan Desa, yakni desa punya hak mengelola hutan desa selama 35 tahun (dan dapat diperpanjang).

Dusun Loncek punya luas 20.000 hektare. Lahan (yang seharusnya) hutan luasnya 17.000 hektare. Dari luas itu, 12.000 hektare digunakan untuk lahan kelapa sawit, dan tersisalah 5.000 hektare hutan. Dengan kata lain, luas hutan Loncek hanya 30 persen dari yang seharusnya.

Image
Masyarakat mengokulasikan mata karet unggul ke batang karet lokal.

Sejak 2011, masyarakat Loncek mengamankan 5.000 hektare yang tersisa ini dengan menanam karet lokal yang diokulasi dengan karet unggul. Karet bukanlah tanaman yang asing bagi masyarakat karena karet lokal jenis palambon dan lambau sudah ditanam masyarakat sejak 1979. Secara berkala ada tauke yang datang untuk membeli lateks dari petani.

Hitung-hitungan di atas kertas begini: karet lokal hanya menghasilkan 5-10 kilogram lateks per hektare (378 batang), sedangkan dengan okulasi bibit unggul menghasilkan 25-30 kilogram lateks per hektare per satu kali sadap (noreh). Sehari bisa satu hingga dua kali sadap. Jika karet lokal baru bisa disadap saat pohon berumur 9 tahun, karet unggul sudah bisa disadap ketika umurnya baru 4 tahun.

Karet unggul di Loncek belum bisa dipanen karena usianya baru 1 tahun. Karena itu kegiatan masyarakat tiap hari Minggu adalah menggarap ladang karet mereka dari pukul 5 hingga pukul 8 pagi sebelum bersiap ke gereja. Sedangkan di hari-hari lain mereka bekerja di kebun sawit, berladang, dan menoreh karet lokal. “Gotong royong begini sudah kami lakukan sejak nenek moyang,” ujar Yuliana Lusa (35), anggota salah satu kelompok tani yang hari itu mengecek hasil okulasi tiga hari sebelumnya.

***

Lele Pun Bisa Merajuk

Image
Pulau Otong

Kalbar punya danau indah yang di tengahnya terdapat pulau mungil yang ditumbuhi langsat. Pulau dan danau cantik itu bahkan dijadikan lokasi syuting film Tanah Surga…Katanya (2012). Pulau Otong, namanya. Sedangkan danaunya bernama Danau Laet. Danau ini “dijaga” gunung bernama Gunung Laet. Letaknya di Desa Subah, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, Kalbar.

Pulau Otong hanya berisi 15 kepala keluarga. Jika Loncek dihuni suku Dayak Kanayatn, Pulau Otong dihuni Dayak Tobak.

Image
Tambang bauksit di dekat Danau Laet

Kehidupan tenang Pulau Otong dan Danau Laet-nya yang sudah bergenerasi-generasi terganggu sejak datangnya perusahaan penambang bauksit PT Danpac pada 2009 yang menggali bukit-bukit di sekeliling Danau Laet. Sepin, penduduk Otong, bercerita perusahaan datang untuk “minta lahan” di sekeliling Danau Laet dengan membayar lahan kosong Rp15 juta per hektare dan lahan produktif Rp25 juta per hektare untuk kurun 15 tahun. Seluruhnya ada 70 hektare tanah masyarakat yang disewakan.

“Sejak ada perusahaan bauksit, ikan di danau semakin berkurang. Danau tercemar karena limbah turun ke danau,” kata Sepin.

Penduduk di sini sehari-hari bekerja sebagai petani padi tadah hujan dan penoreh karet. Sawah mereka bermasa panen enam bulan sekali, namun berasnya habis dalam waktu tiga bulan. Boro-boro dijual, untuk dimakan sendiri saja kurang, jadi harus ditambah dengan beras beli.

Image
Keramba di muara Sungai Kedopok.

Pada 2007 penduduk mulai kenal budidaya ikan dalam keramba karena ada mahasiswa dari Jakarta yang membuat tugas akhir di sini. Baru dua tahun lalu budidaya ikan dalam keramba digarap serius dengan memelihara lele dumbo dan ikan toman (ikan Danau Laet, mirip ikan gabus). Penduduk bergotong royong membuat keramba dari papan dan bergantian memberi makan. Keramba diletakkan di muara Sungai Kedopok yang alirannya berakhir di Danau Laet.

Pulau Otong punya tradisi unik. Setiap akhir November, saat panen durian, penduduknya berbondong-bondong “pindah” ke Gunung Laet. Mereka tinggal di sana selama satu bulan 10 hari untuk menunggui pohon durian. Durian Gunung Laet dikenal dengan sebutan durian tembaga (mirip durian mentega). Di gunung ini dulu sekali nenek moyang mereka menanam banyak pohon durian yang sekarang diameter pohon-pohonnya sudah lebih dari 1 meter.

Pada musim panen, tak kurang dari 1000 butir durian didapat per hari. Satu keluarga bisa memperoleh duit Rp100 ribu per hari dari menjual 17-20 butir durian. Yang apes saat musim durian adalah nasib ikan peliharaan karena tidak ada yang memberi makan. Alhasil, begitu musim durian habis, penduduk yang baru turun gunung mendapati ikan di dalam keramba sudah kurus-kurus. Diberi makan pun sambutannya ogah-ogahan. Butuh satu bulan untuk mengembalikan kondisi ke normal lagi. Cewek merajuk sudah biasa, tapi lele merajuk? Hanya ada di Pulau Otong.

Dimuat di Majalah Detik edisi 63 halaman 91, terbit 11 Februari 2013.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s