Toko Bawah Waru

Memori saya akan Toko Bawah Waru selalu segar. Aroma khasnya, tiang dan papan toko yang berwarna hijau pupus, almanak yang tiap hari harus disobek, timbangan berasnya, lengkingan suara Taci, serta kuli panggul yang keluar masuk memanggul karung goni gemuk-gemuk. Engkong berkaus singlet duduk di balik meja berlaci besar. Tangannya cepat sekali memainkan simpoa.

Sekali dalam sebulan keluarga kami belanja besar di sini. Belanja bulanan. Dua kaleng Khong Guan selalu ada dalam daftar belanja, bersama jagung pipil kering seperempat karung untuk makanan ayam, sabun colek, dua slof rokok Gudang Garam Hijau (lalu berganti Gudang Garam Merah), dan entah apa lagi.

Letak tokonya di samping Kali Mas, lurusan Jalan Patiunus, Surabaya. “Toko Bawah Waru” itu sebetulnya sebutan Mama saja karena di halamannya tumbuh lebih dari satu pohon waru besar dan rindang. Di kerindangannya diletakkan drum-drum minyak tanah, membuat tanah di sekitarnya berwarna hitam dan padat. Sampai sekarang saya tidak tahu nama sebenarnya toko itu.

Papa yang bertugas belanja bulanan. Biasanya hari Minggu, berangkat jam 3-an usai shalat ashar, dan saya selalu minta ikut.

Jarak tempuh dari rumah ke toko itu sekira 15 menit menggunakan sepeda motor. Sepeda motor Papa adalah Suzuki bebek warna hijau tua. Sesampai di sana, Papa sodorkan kertas bertuliskan daftar belanja ke Taci yang dengan sigap menyiapkan pesanan.

Sambil menunggu, kami jalan-jalan dulu. Nah sebenarnya acara jalan-jalan ini yang jadi alasan saya minta ikut tiap Papa mau ke Bawah Waru. Kami pergi ke Jalan Jakarta atau ke Jalan Baba’an untuk beli roti kasur atau beli agar-agar dalam gelas atau beli es jolly atau pesan label nama. Macam-macamlah.

Sekembalinya ke toko, pesanan sudah siap di atas meja. Sambil membacakan daftar yang tadi Papa sodorkan, Taci memasukkan satu per satu belanjaan ke dalam karung plastik yang seperempatnya sudah berisi jagung kering pipilan. Karung yang akhirnya penuh itu diikat ujungnya, lalu diangkat ke atas sepeda motor, diletakkan antara Papa dan stang. Mesin sepeda motor dinyalakan, dan setelah saya duduk mapan, Suzuki hijau melaju membawa kami pulang dengan hati senang.

Advertisements

4 Comments

  1. ciee yang beli domain ..

    aku sebel, mbakku , kemaren sibuk melulu tarsok tarsok mau backup mp, eh akhirnya tadi pas buka dah non aktif, tabungan memori dan teman teman disana hilang semua..
    akhirnya dermaga kecilnya runtuh … hiks …

  2. iya nih , soalnya kirain di batalin dihapusnya, karena ga ada omong omongan dari MP nya.
    kenangannya banyak banget disana, setelah sekian lama bertahan, akhirnya tergerus juga … selanjutnya aku mau buat “pelabuhan besar itu” kali aja ya… jangan dermaga kecil lagi hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s