Sting Kembali ke Klasik

Image

Konser dengan tiga kali encore. Baru Sting yang begini.

Oleh Silvia Galikano

“Selamat malam, Jakarta!” Kalimat dalam bahasa Indonesia itu diserukan Sting semunculnya di panggung. Waktu menunjukkan pukul 20.45, mundur 45 menit dari jadwal.

If I Ever Loose My Faith in You menggebrak tanpa ada pengantar lagi, membuat Mata Elang International Stadium (MEIS), Jakarta seketika bergemuruh oleh histeria 8000 penonton. Inilah konser penutup tahun yang sudah berbulan-bulan dinanti, Sting Back to Bass, 15 Desember 2012. Back to Bass adalah rangkaian tur dunia memperingati 25 tahun Sting bermusik sebagai musisi solo. Delapan belas tahun lalu, dia pernah juga menggelar konser di Jakarta, dalam Ten Summoner’s Tales Tour.

Sabtu malam lalu, mengenakan kaus abu-abu, celana jeans hitam, dan berselempangkan Fender Precision Bass yang cat body atasnya aus tergesek tangan, Sting menyuguhkan penampilan yang solid, efektif, dan tanpa diberati “aksesoris”. Hanya lima musisi yang mengiringinya di panggung: Dominic Miller (gitar), David Sancious (keyboard), Vinnie Colaiuta (drum), Peter Tickell (biola), dan Jo Lawrie (backing vocal).

Semua aransemen persis seperti yang kita kenal selama ini. Jadi begitu David memainkan intro Every Little Things She Does Is Magic yang jadi lagu ke-2, seketika itu juga kor penonton berlanjut. Tanpa jeda, single monumental The Police yang dirilis pada 1981 itu bersambung ke English Man in New York.

Dan karena Sting langsung ke chorus, baru saja dia menyanyikan “O o,” penonton menyambar, menyelesaikan bait itu hingga selesai. Dia sampai menjauh dari mikrofon, melepaskan tangannya dari bas, lalu bersedekap sambil menatap heran ke penontonnya yang menggila.

I’m an alien I’m a legal alien/ I’m an Englishman in New York/ I’m an alien I’m a legal alien/ I’m an Englishman in New York.

Lalu berturut-turut Seven Days dari album Ten Summoner’s Tales (1993), Demolition Man yang dijadikan soundtrack film berjudul sama, dan I Hung My Head (1996). Terasa sekali bahwa lagu-lagu yang dibawakan saat Sting masih bergabung dengan The Police lebih dikenal dan dihafal penonton ketimbang ketika dia jadi penyanyi solo. Kita lebih kenal, misalnya, Message in a Bottle dan De Do Do Do De Da Da Da dibanding Heavy Cloud No Rain dan The Hounds of Winter. Meski demikian, ini tidak jadi masalah berarti ketika di tangan Sting, dengan bas yang catnya sudah tergerus itu, semua lagu tetap punya nyawa yang sama.

Sebelum menyanyikan lagu berikutnya, The End of the Game, Sting menunjukkan boneka rubah seukuran telapak tangan. “Di sini ada binatang seperti ini? Di Inggris, namanya fox (rubah). Lagu ini tentang Tuan dan Nyonya Fox saling jatuh cinta, lalu mereka sama-sama mati,” kata Sting sambil mengarahkan tangannya secara horisontal ke leher. And you were my lover and I was your beau/ We ran like the river, what else did we know?

Sting juga membuat komunikasi dengan penonton melalui Heavy Cloud No Rain yang dinyanyikan secara bersahutan-sahutan. Jadi begitu Sting sampai di bagian “heavy cloud, but…” maka tugas penonton melanjutkan dengan “no rain!” Begitu terus berulang di bait-bait selanjutnya.

Di lagu-lagu balada berlirik puitis,  Sting “cukup” berkomunikasi lewat liriknya, tak perlu lagi pengantar. Shape of My Heart, Wrapped Around Your Finger, dan Fields of Gold. Single yang disebut terakhir berkisah tentang sepasang kekasih berjalan di keemasan ladang barley, diawasi langit sore yang cemburu. Lagu yang dia tulis dengan gitar itu meninggalkan banyak tafsir akan arti “the sun in his jealous sky”.

Kini panggung berganti warna saat Roxanne menyentak. Hanya lampu warna merah yang menyorot panggung, membuat suasana persis di rumah bordil. Lagu ini sudah berumur 34 tahun, tapi laki-laki berumur 61 tahun itu menyanyikannya masih dengan kegemasan yang sama. Roxanne/ You don’t have to wear that dress tonight/ Walk the streets for money/ You don’t care if it’s wrong or if it’s right.

Roxanne berakhir, panggung pun terang. Sting berikut musisi pengiring menghilang ke belakang panggung. Seketika penonton berteriak-teriak “We want more!” Sungguh, ini teriakan paling seram yang pernah saya dengar. Delapan ribu orang berteriak serempak benar-benar membuat MEIS serasa hampir meledak.

Mereka akhirnya keluar lagi. Dessert Rose dia nyanyikan sambil menggerakkan tangan menirukan gerak kupu-kupu terbang. Sampai di interlude, samar sekali Sting menggerakkan pinggulnya. Awww!!! Sting goyang pinggul!!! Laki-laki Inggris ini sejenak jadi pangeran padang pasir.

Usai King of Pain, suguhan encore diakhiri dengan Every Breath You Take dengan durasi agak lama dari biasa, dan ditutup dengan seruan, “Jakarta, I’ll be watching you!” Mereka berenam menghilang lagi ke balik panggung. Tak rela konser berakhir, teriakan penonton menggema lagi.

Yang dipanggil pun keluar lagi, memberi satu lagu bonus: Next to You, lalu pamit lagi. Oh, Next to You bukan lagu yang pas untuk berpisah. Maka penonton pun berseru-seru lagi.

Dan benar saja, Sting nongol lagi. Fragile dia bawakan hanya berteman gitar. Lagu keramat untuk encore dari segala encore, tepat 15 menit menjelang tengah malam. On and on the rain will fall/ Like tears from a star like tears from a star/ On and on the rain will say/ How fragile we are how fragile we are….

***

Dimuat di Majalah Detik edisi 56, 24-30 Desember 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s