30 Menit Lewat Tengah Malam

Image

Duet maut Kathryn Bigelow dan Mark Boal bertemu lagi dalam perburuan orang paling berbahaya bagi Amerika. Akankah mengulang kesuksesan mereka dalam The Hurt Locker?

Oleh Silvia Galikano

Judul: Zero Dark Thirty

Genre: Drama, sejarah, thriller

Sutradara: Kathryn Bigelow

Skenario: Mark Boal

Produksi: Columbia Pictures

Pemain: Jessica Chastain, Joel Edgerton, Chris Pratt

Durasi: 2 jam 37 menit

Dua helikopter Black Hawk meliuk-liuk rendah di atas perbukitan di Provinsi Kyber Pakhtunkhwa, Pakistan pada tengah malam Mei 2011. Lampu heli dimatikan, inframerah yang digunakan. Sebuah kamp di Abbotabbad yang dituju.

Ketegangan tak dapat disembunyikan dari para personil elite U.S. Navy SEAL di dalam dua perut heli. Dalam hitungan menit mereka akan menyerang masuk ke kamp yang diduga tempat bersembunyinya buron nomor satu AS, Usama bin Laden. Kantung mayat sudah disediakan.

Inilah puncak operasi CIA setelah pencarian bertahun-tahun pascaserangan 11 September 2001 atas World Trade Center di New York City. Selama ini, Usama bin Laden yang dianggap paling bertanggung jawab tak kunjung ditemukan. Namanya mulai hilang dari perbincangan, bahkan ada yang percaya dia sudah mati.

Namun CIA tetap terus melakukan pelacakan. Menangkap satu kurir berlanjut ke kurir berikutnya. Agen baru CIA, Maya (Jessica Chastain) pada pada 2003 mulai dilibatkan dalam sebuah interogasi seorang jaringan Bin Laden di Pakistan. Sesi ini dipimpin agen senior CIA, Dan (Jason Clarke), yang nampaknya selalu menyertakan siksaan fisik untuk mengorek keterangan tahanannya.

Setelah melalui penyiksaan yang lama, termasuk melucuti celana tahanan dan waterboarding (wajah tahanan ditelentangkan, ditutup kain, lalu air digelontorkan ke mulutnya), tahanan yang dari tadi hanya bilang “I don’t know, I don’t know,” mengaku sebagai orang yang mengirimkan uang. Tidak langsung ke Bin Laden, tapi melalui orang lain yang akan memberikannya pada orang lain, lantas ke orang lain lagi, dan seterusnya.

Maya kemudian ikut terus dalam interogasi yang dilakukan Dan. Suatu petang Dan memutuskan berhenti dari pekerjaannya karena kebijakan baru Washington melarang menyiksa tahanan dan hendak menutup penjara Guantamo, selain dia sudah “bosan melihat kelamin tahanan” dan ingin hidup tenang di Amerika. Maya melanjutkan tugasnya tanpa mitra kerja.

Hampir satu dekade penyelidikan, interogasi, penyuapan, pertengkaran di internal CIA, hingga serangkaian bom bunuh diri, sampailah pencarian CIA ke kamp Abbottabad, Pakistan. Walau tidak pernah ada konfirmasi langsung dari siapapun, Maya yakin di sinilah Usama bin Laden bersembunyi, bukan di tengah suku pedalaman Afganistan seperti yang selama ini diyakini. Dan di saat yang sama sekali tidak diduga, akhirnya Maya mendapat izin dari kepala CIA mengirimkan tim untuk menyerang Abbottabad. Bukan pekan depan, bukan dua hari lagi, bukan pula esok, tapi malam ini juga.

Usama bin Laden, dengan nama yang mendekati dongeng saking misteriusnya, akhirnya ada di dalam kantung mayat, dan Zero Dark Thirty menyuguhkan drama belakang panggung penangkapannya. Kisah tersebut selama ini tidak diketahui umum, termasuk tindakan brutal para agen CIA dalam mengorek keterangan.

Cukup lama Kathryn Bigelow memberi porsi adegan Dan menyiksa tahanan. Sempat terpikir film ini tidak akan diterima penonton Indonesia jika saja adegan itu sebagai bentuk Bigelow “menikmati” menyiksa orang Timur Tengah melalui tangan Dan. Baru belakangan kita tahu, inilah cara cerdas Bigelow memuntahkan kemuakannya akan cara kerja busuk para agen CIA, kenyataan yang selama ini ditutup-tutupi.

Kathryn Bigelow mendapat Oscar sebagai Sutradara Terbaik pada 2008 melalui The Hurt Locker, film tentang penjinak bom di tengah perang di Irak. Dan untuk 2013, Zero Dark Thirty mendapat lima nominasi Oscar, yakni Best Picture, Best Actress (Jessica Chastain), Film Editing, Original Screenplay, dan Sound Editing.

Bigelow membuat Zero Dark Thirty dan The Hurt Locker sama efektifnya. Dia sangat detail menggarap pencarian yang awalnya menemui jalan buntu, mengalami kemunduran, hingga kemudian membuat terobosan disusul aksi yang berujung pada ditembaknya  Bin Laden. Walau ada unsur action, tapi tak ada aksi theatrikal berlebihan di sana.

Pada akhirnya kita tahu Bigelow menekankan pada proses, bukan karakter, tidak pula sedang membintangkan seorang aktris. Bigelow menjadikan Maya sebagai pokok cerita yang kemudian berkembang pada terungkapnya aktivitas CIA yang selama ini tertutup rapat. Ketegangan pun terbangun tanpa penonton sadari, tahu-tahu saja napas lega terembus, dan saat itulah kita ngeh bahwa dari awal film sudah tahan napas.

Penampilan Chastain luar biasa membawakan karakter Maya yang tertutup, kaku, dan punya sederet oposan di dalam CIA. Maya sangat fokus pada pekerjaannya hingga tak punya kehidupan lain selain misinya sebagai agen CIA. Dia direkrut CIA selepas SMA dengan satu-satunya tugas memburu Usama bin Laden. Dan ketika buruan sudah ditangkap, dia “hilang akal” menjawab pertanyaan akan ke mana setelah ini.

Pencarian Maya sudah selesai, tapi detik itu pula dia dihadapkan pada pencarian berikutnya. Penonton pun dihadapkan pada lapisan lebih dalam, lebih pedih, tapi herannya, kosong.

***

Dimuat di Majalah Detik edisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s