Sinis yang Nyamleng

Image

Judul: Pecinan Semarang dan Dar-Der-Dor Kota
Penulis: Tubagus P. Svarajati
Penerbit: Suka Buku
Tahun Terbit: 2012
Tebal: 248 halaman

Tubagus menuliskan kritik mengenai kehidupan Pecinan Semarang justru karena kecintaannya yang mendalam pada kawasan ini dan penghuninya. Kenyinyiran yang enak dan perlu.

Oleh Silvia Galikano

Monggo dimakan sa’adae.”

Tak tinggal ndisik isa ndak?”

Ada yang bisa menebak bahasa manakah dua kalimat itu? Benar, jika Anda menjawab bahasa Cina-Semarang. Memang tidak se-“terkenal” bahasa Jawa langgam Solo-Yogya, Jawa Timuran, atau Banyumasan karena penggunanya hanya dalam lingkup kecil, yakni di Pecinan Semarang. Melalui bahasa yang unik inilah masyarakat Cina-Semarang dicirikan di tempat lain.

Tapi bagaimana sebenarnya kondisi Pecinan Semarang saat ini? Masihkah seindah dan seasri lagu Empat Penari yang berirama gambang semarang itu? Tubagus P. Svarajati, esais, jurnalis, dan pengamat seni yang menjalani masa kecil di Gang Cilik, kawasan Pecinan Semarang menuliskan keprihatinannya dalam buku berjudul Pecinan Semarang dan Dar-Der-Dor Kota. Buku ini adalah kumpulan 48 esai yang pernah dimuat berbagai media massa.

Pecinan Semarang berawal dari kekhawatiran pemerintah kolonial bakal terulangnya pemberontakan Tionghoa di Batavia (1740), di tempat lain. Maka pada 1741, orang-orang Tionghoa Semarang direlokasi ke suatu tanah kosong di tepi barat sungai, tak jauh dari benteng Belanda (sekarang Kota Lama), agar mudah diawasi. Kawasan inilah cikal bakal Pecinan Semarang.

Meski tak jelas benar sampai di mana batas topografinya, kompleks Pecinan Semarang kontemporer menunjukkan watak khas ciri kenampakan suku Tionghoa yang berdiam di sana. Mereka pun menjalankan usaha beragam, bahkan ada yang berkesan mendekati kultur asalnya di negeri China, seperti toko obat tradisional di Gang Warung, Gang Pinggir, dan ujung Jalan Pekojan; kerajinan batu nisan (bongpay) di ujung Gang Cilik; toko khusus yang menjual pernik-pernik alat persembahyangan kelenteng di Gang Pinggir; serta toko buku dan aksesori Cina di Jalan Sebandaran Timur.

Selain itu, ada pasar tradisional di Gang Baru yang menjual berbagai kebutuhan sehari-hari dengan kualitas prima. Yang paling unik, sekaligus diyakini mendatangkan berbagai mukjizat bagi yang percaya, adalah bercokolnya 12 kelenteng di Pecinan Semarang. Salah satunya kelenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok.

Pada perayaan Sam Poo Tay Jien, masyarakat Tionghoa berbondong-bondong datang dari berbagai kota untuk berziarah dan bersembahyang di Kelenteng Tay Kak Sie. Dalam ritual ini, patung Sam Poo diarak dari Kelenteng Tay Kak Sie ke Kelenteng Gedung Batu, di Simongan.

Nah omong-omong tentang Kelenteng Gedung Batu atau Kelenteng Sam Poo Kong, Tubagus punya catatan. Kelenteng yang berdiri sejak 1406 itu mengalami renovasi besar-besaran pada 2002. Bangunan peribadatan itu dibuat gigantik dan meniru persis arsitektural China. Akibatnya, kawasan kelenteng menjadi situs asing di tengah-tengah kultur lokal. Pengunjung pun disaring ketat siapa yang boleh masuk, siapa yang hanya boleh sampai emperan.

Tatkala kelenteng itu belum direnovasi, walau gedungnya tua namun berkesan auratik, para musafir atau peziarah leluasa beraktivitas, khusyuk berkontemplasi, pasrah sumeleh di sana, di bawah kerindangan pepohonan.

Semoga hanya di Semarang ini Pecinan tidak punya kekhasan Pecinan. Tak ada di sana arsitektur ala rumah silat Shaolin, pintu tebal berukir liong, papan nama berhuruf Mandarin, atau rumah-rumah yang didominasi warna merah atau kuning. Khasnya Pecinan tersisa atap wuwungan bundar tumpul. Apa pasal?

Inilah hasil beleid yang diskriminatif (dan rasis) pada 1970-an. Kala itu, fasad-fasad rumah di jalanan protokol Gang Pinggir-Gang Warung dipapras dengan alasan pelebaran jalan. Alhasil fasad bangunan menjadi seragam dan kehilangan aura. Seluruh raut bangunan di Pecinan berubah: serupa kerangkeng dengan lajur tembok lurus di lantai dua. Keelokan arsitektur Cina jadi kenangan.

Dilanjutkan dengan normalisasi Kali Semarang (NKS) pada akhir 1980-an. Puluhan bangunan kuno dibongkar atau dikepras. Di Jalan Petudungan, 22 ruko dihancurkan, tiga di antaranya hanya tersisa 3-4 meter. Di Gang Warung, 24 ruko bagian belakangnya dipotong. Ironisnya, setelah penanda-penanda budaya anak bangsa itu dirontokkan, penguasa baru mendusin: Pecinan Semarang adalah aset kota dan hendak mengail rezeki turisme dari kawasan itu. Hello???

Lantas, apa lagi yang layak dijual dari Pecinan Semarang selain kelenteng dengan ritualitasnya? Tubagus mengusulkan untuk mendorong warga menata bangunan tempat tinggal dengan pencitraan kecinaan. Arsitektural kecinaan itu, setidaknya, mampu menarik mata pelihat secara cepat (eye catching) sehingga tanda fisikal sebagai kawasan Pecinan terbangun dengan sendirinya.

Di bidang kesenian, regenerasi sangat ditunggu. Wayang potehi alamat jadi kisah sahibul hikayat jika seni teater boneka itu dibiarkan tertatih-tatih menempuh jalan sunyi sendiri. Begitu pula gambang semarang yang kian sedikit berpentas, padahal dulu pernah didaku sebagai ikon seni tradisi semarangan.

Langkah lainnya, meneliti dan mengenalkan ulang folklor Tionghoa Pecinan Semarang (sastra peranakan) kepada masyarakat. Tujuannya untuk menumbuhkan pemahaman bahwa kebudayaan dan masyarakat Tionghoa adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah keindonesiaan. Cara termudah dan termurah adalah dengan membukukannya, walau hanya buku-buku sederhana.

Satu lagi, lapangan parkir di depan Kelenteng Tay Kak Sie, Jalan Gang Lombok, mesti dikembalikan lagi ke fungsi awal sebagai taman. Taman yang rindang jauh lebih produktif dan bermanfaat ketimbang lapangan parkir. Apalagi mobil-mobil yang berlalu-lalang di dekat kelenteng akan mempercepat kerapuhan situs warisan budaya (cultural heritage) tersebut.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 58, 7-13 Januari 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s