Sebuah Penghormatan dari Spielberg

steven spielberg, lincoln movie, film lincolnLincoln adalah bentuk penghormatan Steven Spielberg terhadap salah satu presiden terbesar AS. Daniel Day-Lewis sampai jatuh cinta gila pada karakternya.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Lincoln

Genre: biografi, drama, sejarah

Sutradara: Steven Spielberg

Penulis: Tony Kushner (skenario), Doris Kearns Goodwin (buku)

Produksi: Dreamworks Pictures

Pemain: Daniel Day-Lewis, Sally Field, David Strathairn

Durasi: 2 jam 29 menit

 

Sosok satu ini kurus, jangkung, agak bungkuk, berjenggot, dan bersuara serak. Tempat tinggalnya di White House. Abraham Lincoln namanya. Presiden ke-16 Amerika Serikat yang pada 1865 sedang menjalani masa jabatannya ke-2.

Budak masih ada, utamanya di Selatan. Perang Sipil masih berlangsung dan sudah memakan ribuan nyawa. Karena itu kampanye utama Lincoln melarang perdagangan manusia, jual beli budak, di masa pemerintahannya. Jalan satu-satunya adalah DPR (House of Representatives) meloloskan Amendemen ke-13 tentang penghapusan perbudakan. Dengan dihapusnya perbudakan, Perang Sipil akan berhenti dengan sendirinya dan Amerika yang terbelah Utara dan Selatan bisa disatukan kembali.

Namun dia menghadapi pengadang terbesar, yakni anggota kongres dari partai Republik yang tak ingin RUU itu diloloskan. Agar berhasil, dia butuh setidaknya 20 suara setuju dari Demokrat dan tak boleh satu pun blunder bagi Republiken.

Semula tugas ini nampak mustahil, tapi Lincoln punya keyakinan kuat bakal mendapat kemenangan. Pasalnya, lolosnya Amendemen ke-13 adalah juga pertaruhan nama AS dalam pergaulan internasional, dan ini bukan masalah printilan yang bisa ditawar-tawar.

Sutradara Steven Spielberg dan penulis skenario Tony Kushner membuat keputusan cerdas dengan tidak menjadikan Lincoln sebagai film biografi konvensional dalam rentang waktu panjang. Mereka membatasi pada periode empat bulan terakhir hidup presiden, utamanya Januari 1865, ketika mendorong DPR untuk meloloskan Amendemen ke-13.

Spielberg juga tak perlu repot-repot mendramatisasi kehidupan Lincoln untuk meyakinkan bahwa laki-laki kurus jangkung ini salah satu presiden terbesar AS. Film ini menampilkan sosok Lincoln sebagai seorang cerdas dan merakyat (bukan yang ujug-ujug nongol di warung nasi menjelang pemilu dan bikin pengunjung warung canggung). Rakyat tidak pernah dipersulit untuk bertemu langsung dengan presidennya atau untuk mendatangi White House.

Lincoln sadar benar bahwa aset terbesarnya adalah kesadaran akan benar dan salah, di samping kemampuannya bermain politik. Ada sebuah adegan dua tentara kulit hitam tanpa canggung mengadukan nasibnya ke Pak Presiden karena diperlakukan berbeda dengan koleganya yang berkulit putih. Mereka cuma dibekali senjata seadanya –ada yang bermodal bogem mentah- dan insentif minim dibanding tentara kulit putih.

Lincoln dikenal pandai bercerita sampai-sampai kebablasan waktunya. Dia punya segudang cerita dan kerap terkikik dengan ceritanya sendiri. Saat berdiskusi tentang politik, cerita-cerita itu digunakan sebagai metafora untuk isu-isu politik yang lebih besar.

Di rumah, Lincoln adalah ayah yang asyik bagi Tad (Gulliver McGrath) yang masih bocah dan ayah yang protektif  bagi Robert (Joseph Gordon-Levitt ) yang berusia 21 tahun. Robert memutuskan tidak studi hukum, lalu bergabung sebagai tentara untuk dikirim perang. Keputusan  ini membuat perdebatan sengit dengan orang tuanya.

Istri Lincoln, Mary Todd Lincoln (Sally Field), tak kunjung usai masa berkabungnya walau kematian putranya dalam perang sudah lewat tiga tahun. Itu pula sebabnya dia menentang keras keinginan Robert. Mary tak mau satu lagi putranya mati sia-sia.

Lincoln yang tadinya juga sama kerasnya menentang Robert, kini melunak dan bisa paham. “Saya tidak mau malu seumur hidup karena tidak pernah ikut perang,” itu alasan yang Robert utarakan.

Lincoln menyuguhkan potret detail karakternya secara kaya serta mengilustrasikan taktik dan manuver politik pada 1860-an yang kasar dan seru. Sebagian dianggap kotor kalau menurut standar sekarang, seperti korupsi dan suap yang dulu hal biasa saja.

Daniel Day-Lewis tampil impresif di Lincoln, sampai-sampai tak terbayangkan siapa aktor lain yang lebih pas memerankan tokoh ini. Suaranya yang bergetar dan badannya yang kurus, bukan hanya nampak persis seperti Sang Presiden, Day-Lewis bahkan “menjadi” Lincoln di sini. Belum pernah dia segila ini jatuh cintanya pada karakternya, maka sangat pantas Daniel Day-Lewis diganjar Oscar tahun ini.

Akting hebat Day-Lewis mendapat rival setara Tommy Lee Jones yang memerankan Thaddeus Stevens, seorang Republiken radikal yang selalu bermuka masam, berbicara kasar, sinis, kerut-kerut mendalam di wajahnya, dan wignya nampak canggung. Mungkin dialah satu-satunya sosok yang mengerti sampai dalam tulang bahwa orang kulit hitam setara dengan yang berkulit putih.

Melalui film ini Spielberg memberi penghormatan pada sosok yang dia kagumi sejak berumur 16 tahun. Spielberg menuntaskan ambisi besarnya sekaligus memberi bentuk sebuah kerendahhatian tulus seorang pemimpin yang pernah dimiliki Amerika.

***
Dimuat di Majalah Detik 67, 11-17 Maret 2013

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.