Tentang Bicara Cinta

tentang bicara cinta, What They Don’t Talk About When Talk About LoveKisah cinta difabel dikemas anggun dengan visual menarik. Film kedua Mouly Surya ini berhasil menggaet penghargaan internasional.

Oleh Silvia Galikano

 

Judul: What They Don’t Talk About When Talk About Love

Sutradara: Mouly Surya

Skenario: Mouly Surya

Pemain: Nicholas Saputra, Ayushita Nugraha, Karina Salim, Anggun Priambodo, Lupita Jennifer

Produksi: Cinesurya, Amalina Pictures

Produser: Rama Adi, Tia Hasibuan, Faizan Zidni

Director of photography: Yunus Pasolang

Music: Zeke Khaseli

Durasi: 110 menit

“Delapan puluh delapan, delapan puluh sembilan, sembilan puluh, sembilan puluh satu….” Hitungan berlanjut terus hingga berhenti di angka 100. Setiap pagi, seperti itu cara Diana (Karina Salim) menyisir rambut. Sambil dihitung. Setelah hitungan ke-100, baru dia meletakkan sisir.

Dari ibunya (Tutie Kirana) yang selalu rapi, Diana belajar memperhatikan penampilan. Ibunya bisa minta sopir menepikan mobil dulu hanya karena melihat wajah putrinya polos tanpa bedak. Kekhawatiran ibu dan anak ini cuma satu, yakni Diana yang sudah berusia 17 tahun itu belum juga mendapat haid. Itu sebabnya secara berkala remaja ini menjalani terapi akupunktur usai sekolah.

Diana bersahabat dengan Fitri (Ayushita Nugraha) yang lebih santai, teman sekelas dan sekamar di asrama SLB tunanetra. Mereka memang punya keterbatasan pengelihatan. Diana hanya bisa melihat sejarak 2,5 cm (myopia), sedangkan Fitri tunanetra sejak lahir.

Anak baru di kelas mereka, Andhika, menarik perhatian Diana. Andhika belum lama ini kehilangan penglihatannya akibat kecelakaan sepeda motor. Dia ke sekolah membawa tongkat, tangannya meraba-raba dinding, sangat berbeda dengan anak-anak lain yang sudah hafal lokasi kelas dan bangku mereka.

Andhika salah bangku, dia melangkah ke bangku Diana. Tangannya tanpa sengaja menyentuh tengkuk Diana. “Siapa ya?” kata Diana sambil memegang tengkuk yang barusan disentuh. “Andhika,” jawab si anak baru, lalu berjalan ke bangkunya di sebelah Diana.

Sementara itu Fitri sejak lama jadi pusat perhatian Edo (Nicholas Saputra), putra Ibu Warung (Jajang C. Noor). Remaja punk yang bisu-tuli ini tinggal bersama ibunya di dekat sekolah. Tanpa Fitri ketahui, Edo selalu memperhatikan Fitri datang ke kolam renang terapi di halaman belakang sekolah setiap Kamis malam untuk curhat pada kawan imajinernya, hantu dokter. Edo duduk di kejauhan sambil mengisap rokok, sementara Fitri duduk berjuntai di tepi kolam renang.

Malam ini, seperti biasa, Fitri duduk di pinggir kolam, tapi Edo tak lagi duduk di kejauhan memperhatikan. Dia mendekat, melemparkan kerikil ke air di dekat Fitri. Fitri mengira hantu dokter memberi jawaban atas pertanyaannya.

Mengenakan jas putih dan stetoskop, Edo masuk ke dalam kolam. Fitri di sudut seberang pun ikut turun ke kolam, berjalan mengarah ke suara riak air yang diciptakan hantu dokternya. Malam itu mereka bercinta di dalam kolam.

Judul film ini lumayan panjang, atau bahkan terlalu panjang, What They Don’t Talk About When They Talk About Love. Ceritanya tentang kompleksitas cinta pertama para difabel yang tak beda dengan remaja lain pada umumnya. Hanya saja karena keterbatasan indera penglihatan, mereka mengekspresikan cinta melalui indera lainnya, seperti melalui suara, gerak, dan sentuhan.

Kisahnya menyentuh, membukakan mata, dan tidak terjebak ke cerita cengeng. Komposisi sinematik dan visualnya mendapat perhatian serius dari sutradara Mouly Surya. Banyak sudut pengambilan gambar yang tidak biasa.

Melalui skor musiknya, Zeke Khaseli memberi kita gambaran perjuangan emosional karakternya. Karakter-karakternya seperti sedang berpuisi. Kita dibuat terheran-heran dengan keajaiban hidup mereka. Hasilnya, What They Don’t Talk About anggun menukik ke kedalaman multisensorik kita.

Film ini mendapat penghargaan NETPAC Prize di Festival Film Internasional Rotterdam 2013 untuk kategori film Asia Pasifik. Sebelumnya, What They Don’t Talk About jadi film Indonesia pertama yang diputar di Sundance Film Festival 2013 kategori World Dramatic Competition dan ikut kompetisi di Goteborg International Film Festival 2013.

Yang patut jadi catatan kecil adalah film ini beralur maju mundur tapi tidak memberi tanda apapun. Tidak dari perubahan penampilan karakternya dan tidak ada keterangan waktu. Sebagai contoh, ada adegan sepasang remaja berboncengan. Adegan ini muncul beberapa kali, tanpa dialog, dan terselip di antara adegan-adegan lain. Siapa menyangka bahwa itu Andhika saat masih dapat melihat?

Tapi tunggu, masih ada satu adegan lagi yang paling membingungkan kalau kita tidak sadar alurnya, yaitu adegan Edo dan Fitri ngobrol di dalam kamar bocor. Oh, semoga saya tidak jadi spoiler. Sebaiknya penonton memang membaca sinopsis dulu sebelum menonton dan tahu bahwa alurnya maju mundur.

***
Dimuat di Majalah Detik 76, 13-19 Mei 2013

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.