Dawai Budjana di Rinai Hujan

Image

Dewa Budjana tidak kege-eran memberi titel Dawai in Paradise sebagai album the best-nya. Tapi siapa yang menolak mengakui kalau inilah lagu-lagu terbaik hasil komposisinya?

Oleh Silvia Galikano

Malam mendung. Panggung dan kursi penonton beratapkan tenda. Rumah Kudus latar belakang panggung. Peralatan musik lengkap tapi tanpa pemain.

Satu laki-laki dengan t-shirt hitam dan celana jeans hitam naik panggung, berjalan menuju gitarnya. Dewa Budjana dia. Tanpa perlu diperkenalkan dia mainkan Dedariku sebagai pembuka. Dia sendiri berteman gitar putihnya di atas panggung itu selama seperempat lagu.

Baru kemudian satu per satu musisi lain naik panggung dan menempati posisi masing-masing. Jalu di perkusi, Sandy Winarta di drum, Sadhu Rasjidi di bass, Saat “Borneo” Syah di suling, dan Irsa Destiwi di piano. Lengkap formasi malam itu.

Pentas Dawai in Paradise di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (26/1/2012) itu berkaitan dengan album terbaru Budjana, Dawai in Paradise, yang diluncurkan Desember lalu. Album ini rangkuman lagu-lagu pilihan dari empat album sebelumnya, yakni Nusa Damai (1997), Gitarku (2000), Samsara (2003), dan Home (2005).

“Bukan album the best. Hanya kompilasi lagu-lagu sebelumnya,” kata Budjana.

“Dawai” yang dimaksud tidak hanya dawai gitar, tapi juga dawai sitar, banjo, ukulele, dan alat-alat gesek lainnya yang digunakan di album ini. Dan “Paradise” mewakili Indonesia. Jadi bisa dibilang Dawai in Paradise adalah lagu-lagu tentang Indonesia.

Dedariku yang jadi pembuka itu diambil dari album Gitarku, namun tidak ada di Dawai in Paradise. Memang tidak semua lagu yang dibawakan malam itu ada dalam album Dawai in Paradise, dan tidak semua lagu di album terbaru Budjana itu dimainkan di Bentara.

Malacca Bay yang ada di Home masuk di Dawai in Paradise. Lagu ini dibuka dengan tiupan lirih suling yang menyayat dan suara rendah parasaluang, menciptakan suara siut angin dan laut yang sedang berkabar duka.

Parasaluang adalah alat musik tiup yang panjangnya sekira 50 sentimeter. Lurus sepanjang 30 sentimeter, lantas membengkok selebihnya. Alat musik ini kreasi Saat dibuat dari paralon berdiameter 1/2 inci dan 3/4 inci. Parasaluang tak lain gabungan kata paralon dan saluang (alat tiup khas Minang). Saluang yang dibuat dari paralon.

Malam itu Saat membawa 30-40 suling dan parasaluang ke atas panggung. Setiap lagu dia bisa gunakan dua hingga tiga suling dan parasaluang bergantian.

Saluang yang asli yang punya, empat lubang, kerap tidak dapat mencapai nada yang diperlukan. Sedangkan parasaluang yang enam lubang dapat menjangkau lebih banyak lagi nada.

Lubang paling atas hingga paling bawah saluang jaraknya sejengkal tangan. Bagaimana agar parasaluang yang lubangnya ada enam itu bisa berjarak sejengkal tangan juga? Dengan dibengkokkan itulah caranya. Itu sebab parasaluang bengkok di bawahnya.

Nada parasalauang juga bisa naik atau turun setengah (nada kromatik), “kemampuan” yang tidak dipunyai saluang.

Selesai bersyahdu dengan suling dan parasaluang, Budjana membangunkan penonton dengan Kromatik Lagi. Lagu bikinan tahun 1991 ini berirama cepat dengan pergantian birama yang unik. Shadu dapat satu bagian interlude solo bass yang dimainkan keren sangat. Penonton bersorak. Selesai Shadu dengan bagiannya, Budjana menyambar, bermain cepat hingga selesai klimaks.

Selain Dedariku, Temple Island juga tidak ada dalam album Dawai in Paradise. Lagu ini termuat di album Home. Andai bisa “diselipkan” satu lagu lagi, Temple Island kandidat paling oke.

Musiknya medium beat, kental sekali pentatonik Balinya, dan tepukan perkusi memberi sedikit sentuhan Madura, padahal notasinya -kata Budjana- berirama Jawa. Dia tidak berniat membuat irama Bali, hanya musik Indonesia yang memang banyak bernada pentatonik. Home adalah ekspresi kesedihannya atas tsunami di Aceh pada Desember 2004.

Sandy Winarta dapat giliran satu part solo drum dalam Temple Island. Budjana memeluk body gitarnya dengan gagang mengarah ke atas, lantas menghadapkan badannya ke Sandy. Ada sekira satu menit Sandy bermain sendiri. Anak muda kinyis-kinyis dengan bakat hebat.

Sementara itu hujan mulai turun. Walau beratapkan tenda, penonton yang berada di tepi tenda tak luput dari tampias hujan. Mereka beringsut, merapat ke tengah. Usai Bunga yang Hilang dibawakan, hujan makin deras. Budjana berkelakar, “Bunga yang hilang, hujan pun datang.” Waktu belum lagi pukul 9 malam.

Masih di tengah deras hujan, Gangga merampok hati sangat kuat. Suara sitar sebagai pembuka, disahut qawwali-nya Saat (versi album dibawakan musisi India Vinod Gangani), oh oh oh rasanya seperti sedang memandangi matahari terbit di tengah kabut di Agra. Tenang, sunyi, mistis.

Qawwali adalah musik tradisional India. Di Gangga diwakili seruan nada “haaa haaa haaa…” yang jamak sebagai pembuka lagu-lagu India. Usai berqawwali, Saat mainkan sulingnya diiringi tepukan pelan perkusi. Suling melengking makin tinggi, dan bam! distorsi gitar Budjana “mengusik”, mengisi ruang bening dan memporakporandakan semua yang teratur. Solo drum Sandy ikut mengisi “kekacauan” itu, baru kemudian kembali lagi ke suling yang bening dan manis.

Gangga dibuat Budjana di Indonesia pada tahun 2005 sebelum dia melakukan perjalanan ke Rishikesh, India. Lagu ini diselesaikan di New Delhi, termasuk mengisi suara Vinod Gangani. Di versi album, ada juga suara Sophia Latjuba yang terdengar lamat-lamat menyanyikan satu bait berbahasa Inggris. Gangga jadi makin mistis.

***

Dimuat di Majalah Detik edisi 10, 6-12 Februari 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s