Menghapus Rindu pada Roxette

Image

Kualitas musik Roxette masih seprima dua dekade lalu. Lengkingan Marie Fredriksson yang kini 54 tahun dan sempat terkena tumor otak, tetap bertenaga.

Oleh Silvia Galikano

Roxette datang saat warga Jakarta demam Java Jazz Festival. Apa lantas konsernya jadi sepi penonton? Oh tidak. Sama sekali, tidak. Kelas tribun dan VIP Mata Elang International Stadium, Jakarta, terisi penuh. Kelas festival hanya menyisakan sedikit ruang untuk penonton menggerakkan badan. Mata Elang yang punya daya tampung 10 ribu penonton bisa dibilang penuh.

Pukul 20.30, tanpa basa-basi, Marie Fredriksson dan Per Gessle masuk panggung dan menggebrak dengan Dressed for Success. Penonton, yang umumnya berusia 30-an tahun, sontak melompat-lompat, mengacungkan tangan, dan ikut meneriakkan “I’m gonna get dressed for success.” Mungkin sembari mengenang usia belasan dan berseragam putih abu-abu, sewaktu badan masih lebih ringan untuk melompat-lompat.

Sudah 24 tahun berlalu sejak Dressed for Success pertama dikenal dunia, tahun 1988. Malam itu, Marie menyanyikan lagu ini dengan nada dasar yang sama dengan di album, tidak menggantinya dengan nada dasar yang lebih rendah, misalnya, agar “aman” di panggung.

Lengking lirik pembukanya, tried to make it little by little// tried to make it by bit on my own, masih setinggi lengking yang dulu. Usia 54 tahun, tumor otak yang Marie derita sepanjang 2002 hingga 2005, dan cuti panjang hampir 10 tahun guna memulihkan kesehatannya bukan alasan untuk menurunkan kualitas tampilan di panggung. Roxette sudah merebut hati penonton sejak lagu pertama.

Usai lagu kedua, Sleeping in My Car yang juga bertempo medium beat, Marie menyapa dengan satu kalimat, “It’s so nice to see you!” yang disambut riuh. The Big Love kemudian menghentak. Penonton melonjak. Semakin bersemangat menyanyikan bagian reffrain sambil mengacungkan jari telunjuk dan jempol, membentuk huruf  “L”, big L.

The big love is taking the wheel// The big love goes head over heels// The big lust, bring it into the small world// The bigger, the better.

Hanya tujuh orang di panggung, yakni duo Roxette, dan lima musisi pendukung. Lima orang itu adalah Christoffer Lundquist (gitar), Magnus Börjeson, (bass), Clarence Öfwerman (keyboard), Pelle Alsing (drum), dan  Dea Norberg (backing vocal). Mereka yang mengawal Roxette dalam World Tour Roxette 2012 ini hingga Oktober nanti.

Roxette menyelipkan lagu balada di antara lagu-lagu bertempo cepat.  I Wish I Could Fly yang ikut dinyanyikan lengkap oleh penonton, Stars, She’s Nothing On (But The Radio) yang dirilis pada Januari 2011, serta Perfect Day yang diselesaikan Marie dengan head voice panjang.

Perempuan berambut cepak ini mundur sebentar, menenggak air mineralnya. Per Gessle maju ke mic, “Apa kabar?” dia menyapa dalam bahasa Indonesia. Kemudian melanjutkan, “Next one is 25 years old this year. It’s crazy isn’t it? It took us from cold cold Sweden to hot hot Hollywood.”

Aha! Hollywood! Pasti ini clue untuk It Must Have Been Love yang jadi soundtrack film Pretty Woman. Penonton heboh, namun sebentar kemudian “ditenangkan” dengan intro gitar Per Gessle. Suara Marie masuk, laid back dari aslinya, “Lay a whisper on my pillow//
leave the winter on the ground…. “

Gitar berhenti. Marie juga berhenti menyanyi, menyodorkan mic ke penonton yang sejak awal  ikut menyanyi. Penonton yang menyelesaikan lagu itu sampai selesai chorus. It must have been love but it’s over now // It must have been good but I lost it somehow// It must have been love but it’s over now// From the moment we touched ’til the time had run out.

Alsing mainkan drumnya. Rimshot yang lembut beberapa ketuk. Lalu disahut keyboard, hingga musik kembali seperti aslinya yang kita kenal lewat Pretty Woman.

Total ada 16 lagu yang dinyanyikan malam itu, berturut-turut, tanpa jeda, dan tanpa bintang tamu. Selain bermain gitar, Per Gessle memang ikut menyanyi, tapi porsinya kecil. Vokal utama tetap diisi Marie sepanjang dua jam manggung, dan vokalnya prima hingga lagu ke-16. Stamina Marie sinting!

Entah khas Roxette atau hanya di ketika manggung di Jakarta, mereka menghilang ke belakang panggung sampai dua kali. Sehingga dua kali juga penonton meneriakkan, “We want more, we want more.

Permintaan penonton bukan basa-basi. Ketika menghilang untuk kedua kali, teriakan penonton bertambah dengan requestListen to your heaaart,” menyebut judul salah satu lagu Roxette.

Mereka masuk lagi untuk yang kedua kali. Per Gessle maju ke depan mic, “Terima kasih. Kami tidak mungkin pergi tanpa memainkan lagu ini.” Keyboard mainkan intro Listen to Your Heart sesuai permintaan penonton. Lagu penutup. Ketujuhnya lantas berbaris membungkukkan badan, dan keluar panggung. Lampu panggung dipadamkan. Kali ini konser benar-benar berakhir.

***

Dimuat di Majalah Detik edisi 15, 12-18 Maret 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s